| Memperingati Hari Air Dunia |
| Minggu, 23 Maret 2008 | |
|
Sanitasi yang Buruk, Pembunuh Anak-anak
Tanggal 22 Maret kemarin, dunia memperingati Hari Air Dunia. Peringatan Hari Air Dunia itu dicetuskan pada tahun 1992 dalam United Nations Conference on Environment and Development (UNCEP) yang diselenggarakan di Rio de Jeneiro. Hari Air Dunia mulai diperingati oleh para anggota Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) yang meratifikasi Agenda 21 pada tahun 1993. Setiap tahunnya, peringatan Hari Air Dunia ini memiliki tema yang berbeda-beda dan tahun ini tema yang dipilih adalah sanitasi. Pemilihan tema itu terkait dengan ditetapkannya tahun 2008 sebagai Tahun Sanitasi Internasional oleh PBB. Penetapan itu berdasarkan adanya kenyataan bahwa 1,8 juta orang meninggal setiap tahunnya karena penyakit diare. Penyakit diare umum disebabkan karena sanitasi yang tidak memadai dan rendahnya standar kesehatan. Sanitasi yang buruk juga menjadi ancaman bagi menurunkan produktivitas manusia. Penyebab lainnya, karena sanitasi yang buruk telah menjadi pembunuh anak-anak. Setidaknya berdasarkan data Departemen Pekerjaan Umum RI, untuk di Indonesia tercatat ada 100 ribu anak yang meninggal setiap tahun sebagai akibat dari tidak layak dan buruknya prilaku higienis yang mereka terima. Buruknya sanitasi di Indonesia bisa terlihat dengan nyata dari tidak adanya toilet yang memadai di perumahan warga. Masih banyak masyarakat yang membuang hajat langsung ke sungai atau di belakang pekarangan rumah. Ditambah lagi dengan tidak adanya pengelolaan limbah rumah tangga yang dihasilkan dari rumah-rumah warga. Menurut Nila Ardhianie, Direktur Amrta Institute or Water Literacy, tidak ada satu pun kota di Indonesia yang sudah memiliki layanan limbah terintegrasi dan menyeluruh. Sampai saat ini hanya ada sebelas kota di Indonesia yang sudah memiliki layanan limbah akan tetapi layanannya masih sangat terbatas belum secara menyeluruh. Kondisi itu terjadi, selain disebabkan karena program sanitasi belum menjadi program utama oleh pemerintah. Ditambah lagi untuk masyarakat disebabkan faktor ekonomi, faktor kebiasaan yang sulit dirubah dan kualitas pendidikan yang relatif rendah. Untuk itu, diperlukan priotitas program pemerintah untuk memberikan sanitasi yang lebih baik bagi masyarakatnya. Diikuti dengan peningkatan kesadaran publik yang dilakukan oleh pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat, (LSM) dan masyarakat umumnya (a) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





