| Dari Seminar Autis di Pekanbaru Medical Center |
| Minggu, 23 Maret 2008 | |
|
Perlu Sekolah dan Penanganan Khusus
Anak-anak autis seperti memiliki dunia sendiri dalam kehidupannya. Itu sebabnya dia tidak merespon kala dipanggil. Sulit berbicara dan menyampaikan apa yang diinginkannya. Anak-anak seperti ini, meskipun memiliki kekurangan namun bila disekolahkan dan ditangani secara khusus ada kemungkinan menjadi anak-anak yang luar biasa. Laporan Rini Imron, Pekanbaru
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Kasus autisme, memang belum lama muncul dan didengungkan ke permukaan. Karena autisme baru pertama kali diperkenalkan oleh Leo Kanner, psikiater di John Hopkins University di Amerika pada tahun 1943. Terutama di Indonesia khususnya di Riau, kasus ini hanya baru populer dalam satu dekade terakhir ini. Meskipun demikian, yang sangat mendesak dari permasalahan autisme adalah pendirian sekolah khusus bagi anak-anak yang perlu penanganan khusus, seperti anak penderita autis agar mereka punya masa depan cerah seperti masa depan anak-anak lainnya. Sejak istilah autisme dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, banyak pihak yang sengaja mengambil tema ‘’autisme’’ dalam berbagai seminar-seminar dan simposium-simposium. Tema ini seakan-akan diajukan sebagai bentuk sosialisasi kepada masyarakat mengenai autisme dan sebangsanya yang saat ini banyak melanda balita Indonesia dan menjadi kekhawatiran para orang tua yang memiliki anak-anak autis terhadap tumbuh kembang dan masa depannya. Hal ini pulalah yang didiskusikan dalam seminar autis yang ditaja Rumah Sakit Pekanbaru Medical Center (PMC) pada Sabtu (22/3). Menghadirkan Kepala Divisi Neurologi bagian Ilmu Kesehatan Anak, RSUP Dr Hasan Sadikin/Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung dr Nelly Amalia Risan SPA (K) dan dr Iqbal SPs, spesialis syaraf di PMC. Hadir dalam kesempatan tersebut Presiden Komisaris RS PMC DR H K Suheimi dan Ketua Komisi I DPR-RI Aisyah Amini yang masih kerabat dekat RS PMC. Sebagaimana pemaparan dr Nelly, para orang tua hendaknya mendeteksi secara dini gejala-gejala autis ini. ‘’Siapa tahu gejala tersebut ada pada balita atau anak Anda. Dan ini tidak bisa didiami tapi harus segera menanganainya, terutama secara komplek karena autis merupakan sebuah gangguan fungsi syaraf yang menyebabkan terganggu fungsi-fungsi lainnya,’’ ungkapnya. Nelly juga menambahkan gejala autis yang harus diketahui sangat banyak, namun ada tiga kriteria yang menjadi diagnosa WHO yang mensyaratkan 3 gangguan fungsi pada penderita autis yaitu pertama, gangguan perkembangan komunikasi baik verbal (bahasa) maupun non verbal (menunjuk, kontak mata). Kedua, gangguan interaksi sosial yang nyata berbagi emosi dan empati serta ketiga adanya perilaku repetitive, kaku dan berulang-ulang (stereotipik) seperti mengulang kata-kata yang sama, bermain dengan mainan yang sama dalam waktu lama atau cara yang aneh. Gejala autisme ini kata Nelly bisa dideteksi sejak usia balita 18 bulan. Beberapa hal yang perlu diketahui mengenai gejala autis ini adalah sebagai berikut: anak tidak merespon saat dipanggil namanya, seperti tidak mendengar, anak tidak dapat mengatakan apa yang diinginkan, terjadi keterlambatan bicara, tidak menunjuk atau melakukan gerakan tangan ‘’bye’bye’’, anak tidak memainkan mainannya dengan benar, berbicara bahasa planet atau ngoceh atau buble, tidak bisa mengikuti perintah, sering mengamuk karena tidak bisa menyampaikan keinginannya dan tidak tahu juga dengan keinginan orang lain, anak terpaku pada suatu benda atau mainan dalam waktu lama dan sulit beralih pada mainan yang lain, terpaku pada satu rutinitas, anak seperti tidak membutuhkan orang lain (tidak sesuai untuk usianya), berjalan berjinjit, anak menghabiskan waktu untuk menjejerkan atau menyusun mainan/benda. Nelly mengatakan, gejala autis masing-masing anak berbeda karena itu autis dikenal dengan istilah autism spectrum disorder (ASD). Sifatnya ada yang ringan, sedang dan juga berat. Kriterianya berupa autistic disorder, asperger syindrome, Pervasive Developmental Disorder - Not Otherwise Specified (PDD-NOS), Childhood disintegrative disorder (CDD) dan rate syindrom. ‘’Jadi tidak semua anak-anak autis itu sama kasusnya. Karena itu sebagian mereka ada yang perlu diet khusus untuk makanan-makanan tertentu dan ada juga yang tidak memerlukan diet khusus. Penanganannya juga berbeda,’’ jelas Nelly. Dalam diskusi ini peserta dan narasumber sepakat untuk tidak menyebutkan autis sebagai suatu penyakit. Seperti yang diungkapkan Direktur Lembaga Pendamping Perkembangan Anak (LPPA) Daerah Riau, Santoso SS MSi, salah seorang peserta. Menurutnya autis lebih mengarah pada gangguan, dimana faktor kekurangannya bisa diminimalisir sedemikian rupa dengan terapi dan bisa menambahkan kelebihan kepada anak-anak autis dengan mengembangkan bakat yang ada pada dirinya. Mengenai hal ini, dr Nelly juga sepakat untuk tidak menganggap autisme sebagai suatu penyakit, tapi lebih merupakan sekumpulan gejala gangguan perkembangan fungsi otak dengan penyebab genetik yang kuat. Faktor genetik bersama-sama dengan faktor lingkungan (polusi, infeksi) yang terjadi pada saat otak masih dalam fase pertumbuhan akan memicu terjadinya autisme. Di kesempatan lainnya Santoso mengatakan perlu didirikannya suatu sekolah khusus dalam memberikan pelajaran atau sekolah kepada anak-anak yang memerlukan penanganan khusus ini. ‘’Insyallah kami lembaga kami saat ini sedang berencana mendirikan sekolah khusus tersebut, dan awalnya mungkin akan diluncurkan pada tahun ajaran baru ini,’’ papar Santoso. Dalam diskusi ini juga terungkap keresahan dari para orang tua dengan masa depan anak mereka yang menderita autis, karena jika mereka sering gamang ketika sang anak sudah tamat dari playgroup atau TK. Untuk melanjutkan ke tingkat SD dan seterusnya mereka jadi ragu karena takut anak mereka tidak diterima di sekolah umum. ‘’Kami sudah menyekolahkan anak kami ke playgroup dan TK, tapi setelah itu mau kemana lagi? Ke SD? tidak semua SD yang mau menerima anak seperti anak autis,’’ ujar salah seorang peserta. Sementara itu, untuk membantu para orang tua yang memiliki anak autis ini, Presiden Komisaris RS PMC Dr H K Suheimi mengatakan, pihaknya akan segera mendirikan klinik khusus bagi penanganan anak-anak yang perlu penanganan khusus ini. ‘’Insyallah klinik tersebut akan kami bentuk dalam waktu dekat ini, karena ini sangat penting dengan melihat kebutuhan masyarakat Pekanbaru khususnya terhadap kehadiran klinik tersebut,’’ungkap Suheimi seraya mengatakan hal ini juga didesak karena melihat data penderita autis di Pekanbaru yang jumlahnya sudah lebih dari 200 anak. Sedangkan dr Iqbal mengatakan dalam penanganan anak-anak autis ini memang perlu penanganan secara komplek dari berbagai pihak. Tidak hanya dokter anak, tapi juga ke depan harus ada kesepahaman bersama antara orang tua, terapist, bidan, dokter syaraf bahkan pemerintah. ‘’Agar masalah autis ini bisa diatasi dengan memberikan solusi bagi penanganannya,’’ jelas Iqbal. Soal kesepahaman tentang autis ini, saat ini masih menjadi kendala. Salah seorang peserta juga mengatakan antara dokter anak dengan dokter anak lainnya juga sering tidak sepaham dengan kondisi sang anak. ‘’Ada kalanya dokter satu mengatakan kelainan yang terjadi pada si A itu merupakan hal yang biasa sedangkan dokter anak lain mengatakan kalau si A perlu mendapatkan penanganan khusus. Saya minta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga memberikan kesepahaman tentang autis ini agar orang tua tidak bingung dengan kondisi anaknya,’’ jelasnya. Kesepahaman ini menurut Santoso dari LPPA Riau juga harus diketahui oleh pemerintah setempat. Sebab, pihaknya mempunyai pengalaman ketika mengedepankan soal autis ini kepada pemerintah Kota Pekanbaru baik itu kepada Wali Kota Pekanbaru maupun kepada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Pekanbaru juga belum paham apa itu autis. ‘’Bahkan Pak Wali Kota sempat bertanya dan bingung apa itu autis? Begitupun dengan Dikpora, ketika kami berencana untuk mengusulkan suatu kurikulum khusus bagi pendirian sekolah untuk anak-anak yang perlu penanganan khusus ini. Mereka juga tidak mengetahui soal anak-anak autis,’’ tutur Santoso. Mengenai pendirian sekolah khusus ini dr Iqbal memberikan contoh pada pemerintahan Kota Bukittinggi yang memberikan sekolah khusus bagi anak-anak yang memerlukan penanganan khusus seperti autis. ‘’Wali Kota Bukittinggi memberikan sekolah yang tidak terpakai untuk direnovasi dan dijadikan sebagai sekolah khusus bagi anak-anak yang perlu penanganan khusus. Mudah-mudahan di Pekanbaru, juga demikian ada perhatian dari pemerintah terhadap anak-anak seperti ini,’’ jelasnya. Tidak hanya Santoso yang menginginkan adanya kesepahaman soal autis ini, salah seorang terapis, Ganda, juga mengungkapkan kesepahaman juga harus diberikan kepada para orang tua yang memiliki anak autis. Sebab, seringkali orang tua tidak mengetahui penanganan yang tepat bagi anak-anak mereka. ‘’Bahkan, ada orang tua yang mengikat tangan anaknya setiap hari lantaran anaknya sering mengamuk dan teriak dengan kuat,’’ jelasnya. Soal pentingnya peran orang tua ini juga dibenarkan oleh dr Nelly. Menurutnya ketidaktahuan orang tua terhadap penanganan anaknya yang berbeda dari anak-anak lainnya ini sering kali terjadi. ‘’Padahal tindakan mengikat anak itu bukanlah tindakan yang tepat untuk menangani perilaku anak,’’ jelasnya. Bahkan katanya sering kali anak autis yang memiliki tempramen tinggi dengan suka mengamuk dan menyakiti diri sendiri seperti membenturkan kepala di dinding atau melukai anggota badan malah dipasung dan di tempatkan di tempat tersendiri di dalam rumah. ‘’Ini sangat berbahaya bagi perkembangan si anak sendiri. Padahal dengan terapi menyeluruh atau penanganan menyeluruh kondisi ini bisa dihindari dan si anak bisa sembuhkan dan hidup secara normal,’’ ujar Nelly. Di akhir diskusi, para peserta dan narasumber sepakat ke depan perlu ada pertemuan khusus yang menghadirkan berbagai pihak terkait untuk memberikan kesepahaman atau keseragaman tentang autisme ini. Di pertemuan ini juga hendaknya dibicarakan tentang pendirian sekolah khusus bagi anak-anak yang memerlukan penanganan khusus yang juga didukung oleh pemerintah setempat. ‘’Saya rasa ini yang sangat penting, karena masing-masing anak-anak autis memiliki bakat yang berbeda dan bakat tersebut menjadi salah satu kelebihannya yang jarang dimiliki oleh anak-anak lain,’’ jelas Santoso. Bahkan dia juga mengharapkan ke depan pemerintah dan pihak-pihak terkait juga memikirkan untuk memberikan sekolah murah dan berkualitas bagi anak-anak penyandang autis ini karena penanganan anak autis tidak hanya memerlukan kesabaran, tapi juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. ‘’Kita lihat saja biaya terapi untuk anak-anak autis ini sangat mahal. Sebulan orang tua bisa menghabiskan uang satu juta lebih untuk menerapi anaknya. Bagaimana jika anak-anak autis ini terlahir dari anak-anak dari orang tua yang tidak mampu?,’’ ujarnya. Autisme memang bukan penyakit, meskipun bisa diminimalisir kekurangannya, penderita autis tetap mempunyai ciri-ciri autistiknya yang permanen. Tapi rata-rata mereka memang memiliki bakat luar biasa yang tidak dimiliki oleh anak-anak lainnya. Bahkan perkembangan belakangan ini seorang ahli fisika jenius yang menciptakan teori relativitas (E=mc2) nya, Albert Enstein diketahui bahwa ia menderita sindrom Asperger yang berhubungan dengan autisme. Bahkan salah satu film berjudul ‘’mercury’’ yang tayang di salah televisi swasta belum lama ini menceritakan seorang anak penderita autis yang bisa memecahkan ‘’kode rahasia’’ negara dengan insting autisnya. Sayang rasanya jika anak-anak khusus ini tidak ditangani dengan seksama karena mereka juga ingin punya masa depan seperti anak-anak lainnya. Mereka juga ingin menjadi bagian dari kita untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. *** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



