| Menuju Masyarakat Berbudaya Membaca |
| Minggu, 23 Maret 2008 | |
|
Laporan AHMAD FITRI dan ANDI NOVIRIANTI, Pekanbaru
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Warga Pekanbaru yang setiap hari melewati Jalan Sudirman tentu tidak pernah melepaskan pandangannya ketika melewati gedung perpustakaan daerah Riau. Gedung yang diberi nama Soeman Hs ini terlihat megah dan didukung dengan arsitektur menarik. Gedung yang berdiri di lahan bekas kantor DPRD Riau ini pun menjadi icon baru bagi kota Pekanbaru. Walaupun pembangunannya belum selesai 100 persen, gedung Perpustakaan Soeman Hs sudah menarik minat banyak orang untuk menjejakkan kakinya di tempat ini. Pejabat tinggi negara yang berkunjung ke Riau selalu diajak melihat dari dekat pembangunannya. Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat berkunjung ke Pekanbaru sempat dibawa berkunjung ke gedung itu. Sebuah kebanggaan tentunya ketika kelak Riau punya gedung perpustakaan megah dan mewah. Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Sri Sularsih dan Sejarahwan Nasional Anhar Gonggong secara terang-terangan menyebut perpustakaan itu sebagai gedung perpustakaan termegah se Indonesia. Sebagai gedung perpustakaan yang megah, serng kali pula gedung yang belum difungsikan itu dijadikan tempat kunjungan. Namun kita lupakan sejenak kemegahan gedung perpustakaan ini. Mari kita lihat bagaimana persiapan pengelolanya menyabut kehadiran gedung ini. Menurut Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Sudirwan Hamid, perpustakaan Soeman Hs akan dilengkapi dengan sistem komputerisasi. Sistem ini memberikan kemudahan kepada pengunjung untuk mengetahui koleksi buku apa saja yang saja yang tersedia, dimana lokasi buku itu, dan buku apa saja yang sudah dipinjam. Gedung ini juga akan dilengkapi dengan fasilitas hotspot untuk memberi kemudahan kepada pengunjung mengakses internet. Dengan berbagai fasilitas itu, perpustakaan Soeman Hs telah dipersiapkan untuk menjadi perpustakaan modern. Namun ada kenyataan pahit yang harus diakui. Perpustakaan bernilai sekitar Rp119 miliar itu belum dilengkapi oleh sumber daya manusia (SDM) yang memadai. Tercatat tidak satupun sarjana perpustakaan, komputer, apalagi informasi dan teknologi (IT) yang dimiliki oleh Badan Perpustakaan dan Arsip (BPA), selaku pengelolah pustaka termegah di Sumatera itu. ‘’Kita tak memiliki satu pun tenaga S1 dan S2 pustaka. Yang bekerja saat ini hanya sarjana bidang keilmuan lain. Misalnya sarjana ekonomi, ilmu sosial dan politik, serta hukum. Untuk yang berlatar belakang pendidikan kepustakaan hanya setingkat D2 dan D3,’’ ungkap Sudirwan Hamid. Kondisi SDM seperti tentu saja memprihatinkan jika tidak segera dibenahi. ‘’Perpustakaan dengan bangunan megah seperti ini, bisa jadi dianggap sebagai perpustakaan kuno jika hanya mampu menyajikan buku-buku ataupun koneksi internet ala kadarnya yang kini bisa dilalukan orang dimana saja. Asal punya laptop dan koneksi internetnya. Untuk itu kelengkapan perpustakaan menjadi poin penting, agar perpustakaan ini menjadi perpustakaan modren sekaligus ramai dikunjungi orang,’’ ungkap Endang Sukara, saat berkunjung ke Pekanbaru dan menyaksikan keindahan bangunan perpustakaan yang didominasi warna kuning itu. Untuk itu dia menyarankan agar Perpustakaan Daerah Riau berlangganan jurnal elektronik terbaru. Suatu situs yang berisi tentang jurnal-jurnal penelitian terbaru di seluruh dunia. Situs itu hanya bisa dibuka oleh perpustakaan yang berlangganan. Untuk berlangganan jurnal itu, diperlukan dana Rp5 miliar setahun. Kini, masyarakat pecinta buku di Riau tentu saja sangat menanti-nanti perayaan HUT Provinsi Riau yang jatuh pada 9 Agustus 2008 nanti. Pada saat itu juga gedung Perpustakaan Soeman Hs akan diresmikan. Mulai saat itu juga kita harapkan ada budaya baru di masyarakat Riau yang memang harus dibudayakan, yaitu budaya gemar membaca.(amf) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



