• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Sabtu, 30 Agustus 2008 || 27 Syakban 1429 Hijriah
Total SportSaatnya Juara

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaSepakati Multi Tafsir Perjuangan Pers

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Perpustaakan Soeman HS
Minggu, 23 Maret 2008
Jangan Kalah dengan Laptop Berkoneksi Internet
Laporan ANDI NOVIRIANTI, Pekanbaru Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Suatu hari, di sebuah ruang seminar di Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru, Endang Sukara, Deputi Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuka laptopnya. Lalu sebuah kabel pendek yang ujungnya terdapat tempat kartu telepon seluler dicolokkan ke laptopnya. Sesaat kemudian di layar laptopnya terlihat berbagai informasi hadir begitu cepat.

Hanya dengan menekan klik mouse laptopnya, Endang berpindah dari satu informasi ke informasi berikutnya. Mulai dari berita hari itu, kemarin, beberapa minggu yang lalu bahkan beberapa tahun yang lalu, semuanya hadir dalam hitungan detik. Dia juga bisa dengan sangat gampang membuka buku-buku dan jurnal penelitian elektronik. Dengan laptop dan kabel internet itu, Endang Sukara yang hari itu menjadi pembicara tentang cagar biosfer seperti tengah membawa gerbong perpustakaan dunia maya ke dalam laptopnya. Perpustakaan dunia maya saat ini boleh dibilang super komplit. Bukan saja informasi berbentuk tulisan yang dihadirkannya, tetapi juga gambar-gambar berwarna. Malah jika mau, ada juga koleksi film, rekaman acara radio dan televisi yang bisa dihadirkannya dalam hitungan detik dilayar laptopnya.

Laptop berkoneksi internet memang membuat setiap orang yang memilikinya seperti membawa satu gedung perpustakaan. Itu sebabnya berbagai tugas baik dalam bentuk pekerjaan rumah (PR) siswa Sekolah Dasar (SD) hingga mahasiswa S3, banyak yang mengandalkan informasi dari laptop berkoneksi internet. Sehingga hampir tidak populer lagi mengerjakan tugas-tugas itu dengan pergi ke perpustakaan.

Lihat saja yang dilakukan Teressa (11) dan teman-temannya di Sekolah Dasar. Koneksi internet yang mereka pasang di rumah, baik melalui kabel telepon maupun berlangganan wireless, mampu membuat mereka mengakses berbagai informasi cukup dari ruang belajar mereka atau kamar mereka. Cukup dengan mengklik mesin pencari Google, Yahoo, atau situs pencari lainnya, maka mereka sudah terbang ke perpustakaan digital dunia maya.  

Dengan kenyatakaan itu, fungsi perpustakaan seperti yang diamanatkan oleh  Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 sebagai institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam terasa sudah bisa digantikan dengan sebuah laptop berkoneksi internet.

Di era hingar bingar pustaka digital itu, Riau membangun sebuah perpustakaan monumental. Dibangun dengan dana Rp119 miliar untuk bagian fisiknya dan Rp17 miliar untuk interior di dalamnya. Berarsitektur menyerupai rehal, yaitu tempat alas membaca Alquran. Gedung enam lantai itu tampak kokoh dan anggun dengan deretan pilar-pilarnya yang tinggi menjulang menopang rehal tersebut.

Decak kagum atas keindahan gedung itu seringkali terdengar tiap kali orang melintasi gedung yang terletak di jantung Kota Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau itu. Apalagi lokasinya yang sangat strategis yaitu terletak di jalan protokol Jenderal Sudirman, satu deret dengan Kantor Wali Kota Pekanbaru, Kantor Bank Indonesia Pekanbaru dan Kantor Gubernur Riau, membuat gedung itu kian punya tuah.

Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Sri Sularsih dan Sejarahwan Nasional Anhar Gonggong pun terang-terangan menyebut perpustakaan itu sebagai gedung perpustakaan termegah se Indonesia. Sebagai gedung perpustakaan yang megah, serng kali pula gedung yang belum difungsikan itu dijadikan tempat kunjungan. Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla pun saat berkunjung ke Pekanbaru sempat dibawa berkunjung ke gedung itu.  Namun sebagai gedung yang dibangun untuk perpustakaan, keindahan gedung bukanlah hal utama untuk membuat sebuah perpustakaan menjadi besar. Mengingat jauh lebih penting dari itu adalah kelengkapan koleksinya dan juga pengelolaannya yang lebih moderen. Agar fungsinya tidak kalah dengan sebuah laptop yang dilengkapi koneksi internet.

‘’Perpustakaan dengan bangunan megah seperti ini, bisa jadi dianggap sebagai perpustakaan kuno jika hanya mampu menyajikan buku-buku ataupun koneksi internet ala kadarnya yang kini bisa dilalukan orang dimana saja. Asal punya laptop dan koneksi internetnya. Untuk itu kelengkapan perpustakaan menjadi poin penting, agar perpustakaan ini menjadi perpustakaan modren sekaligus ramai dikunjungi orang,’’ ungkap Endang Sukara, saat berkunjung ke Pekanbaru dan menyaksikan keindahan bangunan perpustakaan yang didominasi warna kuning itu.

Untuk itu dia menyarankan agar Perpustakaan Daerah Riau berlangganan jurnal elektronik terbaru. Suatu situs yang berisi tentang jurnal-jurnal penelitian terbaru di seluruh dunia. Situs itu hanya bisa dibuka oleh perpustakaan yang berlangganan. Untuk berlangganan jurnal itu, diperlukan dana Rp5 miliar setahun.

‘’Memang cukup mahal, namun hanya dengan itu, perpustakaan Riau ini menjadi perpustakaan yang termegah fisiknya juga termegah disegi isinya. Dengan adanya jurnal elektronik itu, maka para pencari literatur yang berada di strata S1, S2, S3 termasuk penelitia lainnya akan berduyun-duyun datang ke Riau. Karena hanya perpustakaan di Riau lah yang memiliki koleksi jurnal terlengkap,’’ ungkapnya. Semoga Perpustakaan Soeman Hs tidak kalah dengan sebuah laptop berkoneksi internet!

Jadi Kebanggaan

Pembangunan Perpustakaan Soeman HS boleh dibilang sudah 95 persen. Diperkirakan pada Hari Ulang Tahun Provinsi Riau ke-51, tepatnya tanggal 9 Agustus 2008 mendatang perpustakaan itu sudah dioperasionalkan dan akan menjadi pustaka kebanggaan masyarakat Riau.

Gedung enam lantai itu dalam disainnya telah dirancang sedemikian rupa. Untuk lantai satu dipersiapkan sebagai ruang anak-anak, cafetaria dan toko buku. Dilantai dua dirancang untuk ruang remaja dan dewasa. Di lantai tiga difungsikan untuk ruang dewasa dan bilik melayu yang menyediakan ratusan buku bacaan Melayu. Di lantai empat dan lima diperuntukkan untuk ruang konfrensi, referensi, tekhnologi informasi (TI) dan lainnya. Di lantai enam didesain untuk ruangan diskusi dan serbaguna.

Perpustakaan itu, menurut Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Sudirwan Hamid, juga dilengkapi dengan sistem komputerisasi. Sehingga bisa memberikan informasi kepada pengunjung mengenai koleksi buku apa saja yang saja yang tersedia, dimana lokasi buku itu, dan buku apa saja yang sudah dipinjam. Selain itu juga akan dilengkapi dengan fasilitas hotspot untuk memberi kemudahan kepada pengunjung mengakses internet. Dengan berbagai fasilitas itu, perpustakaan Soeman Hs telah dipersiapkan untuk menjadi perpustakaan modern.

Namun di satu sisi, ada kenyataan pahit yang harus diakui. Perpustakaan bernilai sekitar Rp119 miliar itu belum dilengkapi oleh sumber daya manusia (SDM) yang memadai. Tercatat tidak satupun sarjana perpustakaan, komputer, apalagi informasi dan teknologi (IT) yang dimiliki oleh Badan Perpustakaan dan Arsip (BPA), selaku pengelolah pustaka termegah di Sumatera itu.

‘’Kita tak memiliki satu pun tenaga S1 dan S2 pustaka. Yang bekerja saat ini hanya sarjana bidang keilmuan lain. Misalnya sarjana ekonomi, ilmu sosial dan politik, serta hukum. Untuk yang berlatar belakang pendidikan kepustakaan hanya setingkat D2 dan D3,’’ ungkap Sudirwan Hamid.

Tak hanya tak siap dengan tenaga kepustakaan, BPA juga kekurangan tenaga arsip dan sarjana bahasa Inggris. Menruut Sudirwan hanya ada satu orang tamatan sarjana Bahasa Inggris. Padahal di satu sisi, perpustakaan ini akan bertaraf internasional dan juga akan menjadi salah satu objek wisata yang akan dikunjungi bangsa asing.

Meski kondisi itu sangat bertolak belakang dengan kemewahan gedungnya, namun Muhammad Tawwaf, memandang itu sebagai tantangan bagi Riau. Pustakawan berprestasi terbaik tingkat nasional tahun 2007 itu menyebutkan dengan keberadaan gedung mewah itu, membuat Riau harus memiliki tenaga pustakawan yang andal pula. Setidaknya, menurutnya diperlukan sekitar lima orang tamatan S2 untuk mengelolah pustaka itu.

Menurut pustakawan Universitas Islam Negeri (UIN) Riau ini, pustaka bukan hanya sekadar lambang dengan kemegahannya. Tetapi juga harus mampu menjadi tempat mencari informasi terkini dan terlengkap sehingga pantas dikunjungi. Untuk itulah diperlukan ide-ide cemerlang, agar perpustakaan menjadi tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi.

‘’Pustakawan adalah alat komunikator. Merekalah yang menjadi pihak yang mengomunikasikan kepada masyarakat agar perpustakaan ramai dikunjungi,’’ ungkap Tawwaf.

Untuk mengatasi persoalan SDM itu, Sudirwan menyebutkan sebenarnya pihak BPA sudah mengusulkan penambahan tenaga kepustakaan, arsip, Informasi dan Teknologi (IT) serta Bahasa Inggris. Setidaknya untuk tenaga kepustakaan diperlukan sekitar 40 orang. ‘’Tidak saja terdiri dari S1 dan S2 tetapi juga perlu penambahan tenaga  D2 dan D3. Pasalnya pustaka kita sekarang sudah enam lantai. Buku dan orang yang dilayani tentu lebih banyak lagi,’’ tambahnya.

Untuk tenaga IT dan Bahasa Inggris, setidaknya diperlukan lima sampai enam orang di masing-masing bidang. ‘’Kita masih menunggu, apakah ada formasi penambahan pegawai negeri untuk itu. Kalau tidak ada, kita berharap ada tenaga kontrak dulu. Disinikan ada diploma pustaka Unilak (Universitas Lancang Kuning). Mungkin kita manfaatkan tenaga lokal itu,’’ jelas Sudirwan.(amf)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org