| Pemain Tak Lagi Pakai Sandal |
| Minggu, 16 Maret 2008 | |
|
Pembukaan Honda DBL 2008di Kota Semarang
Laporan JPNN Semarang Tantangan terberat panitia Honda Deteksi Basketball League 2008 kemarin dimulai di GOR Sahabat, Semarang, Jawa Tengah. Harapan dan ekspektasi tinggi menunggu kompetisi basket pelajar Jawa Pos Group ini di kota tersebut. Apalagi, Semarang sudah kenyang dengan basket. Sebelum pembukaan kemarin, sudah ada empat iven pelajar diselenggarakan sejak Januari lalu. “Setiap kota yang kami kunjungi memang berbeda-beda. Ada yang basketnya hidup, ada yang sudah belasan tahun tidak tumbuh. Semarang termasuk yang sangat aktif, jadi kami harus membuktikan diri di sini,” kata Azrul Ananda, Commissioner Honda DBL 2008 di Semarang, kemarin. Total, 64 tim mengikuti iven yang diselenggarakan dengan panitia lokal dari Radar Semarang ini. Terbanyak di antara semua kota penyelenggara di luar Jawa Timur. Sebelum ini, peserta terbanyak tercatat di Makassar, Sulawesi Selatan, dengan jumlah 55 tim. “Sebenarnya masih banyak lagi yang masuk waiting list. Tapi kami tak mau memaksakan jumlah terlebih dahulu, karena ini yang pertama di Jateng dan aturannya paling ketat,” jelas Don Kardono, direktur Jawa Pos di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Setelah pembukaan kemarin, sejumlah peserta dan pengunjung sudah bisa melihat beda antara Honda DBL 2008 dengan yang lain. Yang paling utama adalah soal kerapian dan tata tertib masuk ke lapangan. “Main di DBL ini terasa wow. Saya saja kaget. Biasanya, di iven lain, ya cuma tanding terus pulang. Di sini beda. Pemain masuk lapangan nggak sembarangan. Ada perasaan bangganya,” tutur Fany Satria, kapten tim putra SMA Don Bosco Semarang. “Apalagi kami tanding pertama, ikut seremoni Indonesia Raya. Rasanya gimanaaa gitu,” lanjutnya. Komentar serupa dilontarkan Bambang Wuragil, Ketua Umum Pengprov Perbasi Jateng. “Di kompetisi lain, saya beberapa kali melihat pemain masuk ke lapangan masih memakai sandal. Di DBL, yang seperti ini tidak ada. Semua masuk sudah siap tanding. Pelatih juga kelihatan lebih rapi karena pakai pakaian formal,” tuturnya. Berbagai aturan ini memang sempat membuat beberapa peserta bingung. Bahkan ada yang terancam diskualifikasi. Tapi setelah mengikuti, beberapa mengaku ini hanya masalah kebiasaan. “Harus diakui, memakai kemeja dan berdasi benar-benar ribet. Lha wong saya biasanya mendampingi anak-anak tanding pakai kaus dan celana training,” aku Agung Prasetya, 32, pelatih SMK PL Tarcisius Semarang. “Anak-anak awalnya sempat mengeluh dengan aturan DBL. Setelah dijalani, ternyata tidak susah. Ini masalah kebiasaan saja,” tambahnya. Honda DBL 2008 di Semarang ini berlangsung hingga 29 Maret mendatang. Pekan depan, mulai 22 Maret, kompetisi di Jogjakarta juga diselenggarakan hingga 28 Maret. Kedua kota itu adalah persinggahan akhir kompetisi 11 kota di Indonesia ini, sebelum penyelenggaraan terbesar di Surabaya dan Malang, Jawa Timur. Tahun lalu, saat masih di Surabaya saja, 220 tim tampil sebagai peserta. (azz/afa) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



