• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Kamis, 28 Agustus 2008 || 26 Syakban 1429 Hijriah
Total SportPerang Saudara

Rabu, 27 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaSoal Mutasi Pejabat, Gubri Bisa Di-PTUN-kan

Rabu, 27 Agustus 2008

article thumbnail

Kredit Usaha Rakyat
Minggu, 16 Maret 2008
Oleh TENGKU DAHRIL
Pada hari ini hampir satu juta tamatan perguruan tinggi di Indonesia menganggur. Mereka sedang menunggu dan mencari lapangan pekerjaan yang sesuai. Tenaga kerja terdidik yang mengganggur ini tentulah merupakan sebuah dilema besar yang  perlu dicarikan jalan keluarnya. Pemerintah bukannya tidak sadar, jika tenaga kerja terdidik yang menganggur terus bertambah, bisa menjadi ”bom waktu” yang suatu ketika dapat menjadi sebuah krisis sosial. Suatu kemubaziran yang sangat luar biasa. Di satu sisi kita butuh tenaga kerja terdidik yang berkualitas, di sisi lain banyak terdapat tenaga kerja terdidik yang menganggur. Pada hal upaya untuk mendidik seorang anak manusia terdidik tidaklah mudah. Ianya membutuhkan waktu, tenaga, pikiran, ketekunan, kesabaran, kerja keras dan juga dana yang tidak sedikit. Karena itu upaya untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang tepat bagi mereka yang menganggur ini amatlah penting dan sudah menjadi suatu keharusan.

Sebenarnya sudah lama disadari bahwa usaha mikro, kecil dan menengah di sektor riel yang dilakukan oleh rakyat sangatlah penting. Ia bahkan bisa menjadi tulang punggung ekonomi nasional secara keseluruhan. Andaikan tidak ada peluang kerja informal di sektor riel ini, dapat dipastikan negeri ini sudah lama bangkrut dan hancur berantakan. Conoth sederhana, pada saat krisis ekonomi yang memuncak pada tahun 1997 misalnya, justru sektor riel dalam sekala kecil inilah yang bertahan hidup. Sedangkan usaha besar banyak yang gulung tikar atau ”jatuh tapai’’.  Baik secara perseorangan maupun secara berkelompok. Mereka mampu menampung tenaga kerja dalam jumlah yang tidak sedikit. Hampir 98 % penduduk Indonesia bekerja di sektor riel berskala kecil inilah. Namun sayangnya, justru merekalah yang sering diabaikan, dan paling kurang tersentuh oleh kebijakan ekonomi makro dan lembaga keuangan (perbankan) pemerintah maupun swasta.

Menyadari kenyataan inilah agaknya, pemerintah mulai sadar akan tugas dan tanggung jawabnya untuk memajukan sektor riel berskala kecil dan menengah ini melalui suatu program khusus yang disebut dengan kredit usaha rakyat (KUR). Program ini dicanangkan sejak tahun 2007 dan dilaksanakan  oleh bank pemerintah di seluruh wilayah Indonesia.

Kredit usaha rakyat sengaja diperuntukkan bagi usaha mikro, kecil dan menengah rakyat yang layak (feasible) namun belum memenuhi persyaratan perbankan (bankable). Hal yang dimaksud dengan usaha layak di sini adalah suatu usaha yang ditinjau dari ekonomis menguntungkan, dari segi teknis bisa dilaksanakan, dan segi ekologis dapat diterima masyarakat dan tidak merusak lingkungan. Namun karena ketiadaan agunan serta persyaratan lainnya sehingga selama ini tidak dapat dibiayai oleh pihak perbankan secara komersial.

Inilah agak sebuah terobosan baru yang cukup menyentuh ekonomi mayarakat di sektor riel secara terprogram melalui dana perbankan. Dengan sistem ini, Insyaallah rakyat dapat mengembangkan usahanya secara terencana dan beragam sesuai dengan kemampuan masing-masing dan disesuaikan dengan lingkungan dan potensi sumberdaya setempat. Mereka bisa berusaha di sektor perikanan, pertanian, peternakan, perkebunan, industri, kerajinan  rumah tangga, jasa angkutan, pengolahan dan pemasaran hasil dan lain sebagainya secara sendiri-sendiri maupun secara berkelompok. Mereka sangat dianjurkan untuk membangun suatu jaringan kerja sama yang saling memperkuat dana saling mendukung. Mereka bisa meminjam uang di bank dengan jumlah maksimal Rp500 juta perorang atau perkelompok dengan bunga maksimal 16 % menurun dalam jangka waktu 3 sampai dengan 5 tahun. Khusus untuk Bank Mandiri bunganya agak lebih rendah yaitu 13,5 % dan kemungkinan besar pada masa yang akan datang akan dapat diturunkan lagi.  Mereka juga telah menyiapkan kredit dengan sistem syariah melalui Bank Syariah Mandiri. Saya sangat yakin jika konsep-konsep keislaman ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka  Insyaallah, pertolongan Allah akan datang kepada kita dalam menyelesaikan setiap persoalan yang kita dihadapi.

Agaknya inilah saatnya para alumni tamatan perguruan tinggi untuk tidak lagi menunggu dan mencari pekerjaan melainkan justur menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi dirinya  sendiri dan bagi orang lain melalui kredit usaha rakyat. Kalau selama ini modal dianggap sebagai salah satu penghambat utama dalam membangun usaha baru secara mandiri, maka sekaranglah saatnya mereka dapat menyusun strategi dan langkah-langkah dalam memanfaatkan peluang usaha melalui program perbankan yang cukup mendukung ini.

Mereka perlu menyusun langkah yang tepat untuk memulai suatu usaha yang feasible, namun belum bankable dengan menggunakan kredit usaha rakyat. Di sektor perikanan misalnya usaha dapat dilakukan mulai dari usaha pembenihan, pendederan, pembuatan pakan ikan, pembesaran, pembuatan kolam dan kerambak jaring apung, pengolahan dan pemasaran hasil perikanan dan lain sebagainya. Andaikan mereka dapat bekerja secara terpadu melalui suatu jaringan kerja yang tepat, maka sangat terbuka peluang untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang.

Di bagian pengolahan saja misalnya sangat banyak komoditas olahan yanag bisa dikembangkan misalnya pembuatan kerupuk, nugget, kaki naga, bakso, fish bugger, pengalengan, pengasapan dan lain sebagainya. Apalagi dengan telah berdirinya PT Kamparicom yang akan membangun pabrik pengolahan ikan di Kampar, maka penampungan ikan-ikan hasil budidaya rakyat akan dapat dilakukan setiap hari. Sehingga dengan demikian akan terbuka kesempatan masyarakat untuk memelihara ikan dalam keramba jaring apung, di sepanbjang sungai yang tidak tercemar. Asalkan jenis komoditas serta mutu ikan sesuai dengan persyaratan untuk tujuan ekspor.

Saya sering menemukan banyak sarjana tamatan perguruan tinggi yang sebenarnya bukan berasal dari lulusan  perikanan, tetapi berhasil membangun usaha perikanan seperti usaha pembenihan dan pembesaran ikan. Apalagi bagi mereka yang memiliki sarjana perikanan seperti Suhaimi Spi dari Desa Koto Mesjid, maka peluang untuk berhasil semakin besar.

Hal yang sangat diperlukan bagi seorang sarjana yang baru tamat dari perguruan tinggi adalah ”niat” atau kemauan untuk bekerja keras secara mandiri. Kalau kemauan sudah ada dan sudah  tertanam di dalam hati sanubari masing-masing, maka kemampuan untuk bekerja Insyaallah akan dapat ditingkatkan melalui proses pembelajaran. Seorang sarjana hukum pun ternyata mampu membenih dan pembesarkan ikan dalam skala besar dan berhasil.

Selain kemauan, memang juga sangat diperlukan adanya keseriusan dan kerja keras yang tidak kenal menyerah. Untuk itu, ”gengsi” memang harus ditinggalkan. Banyak orang yang karena ”gengsi’’ justru gagal dalam hidup dan kehidupan ini. Seorang sarjana memang dituntut untuk bekerja penuh dengan perhitungan. Itulah sebenarnya kelebihan seorang sarjana seharusnya. Mereka harus membuat kalkulasi atau perhitungan yang matang terhadap sesuatu usaha sehingga terukur untung ruginya. Salah satu kelemahan besar dan mendasar di kalangan pengusaha muda kita sering terjadi karena malas dalam menyusun rencana kerja serta menyusun neraca keuangan, sehingga untung rugi tak jelas atau menjadi kabur. Hal inilah seharusnya dapat dikoreksi oleh para sarjana tamatan perguruan tinggi yang langsung terjun ke dunia usaha secara nyata dan lebih konkrit.

Kalau hal itu dapat dilakukan maka program pemerintah dalam pengentasan kemiskinan akan dapat dipercepat. Di tangan para sarjanalah, harapan masa depan ekonomi Indonesia akan tumbuh dan berkembang secara baik.  Mereka bisa berperanan sebagai motivator, fasilitator serta motor pengggerak ekonomi nasional secara nyata. Karena itu saya yakin KUR bisa menjadi salah satu alternatif dalam mendorong pembangunan ekonomi nasional ke depan. Mudah-mudahan.***

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org