• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Sabtu, 30 Agustus 2008 || 27 Syakban 1429 Hijriah
Total SportSaatnya Juara

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaSepakati Multi Tafsir Perjuangan Pers

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Anak Demam? Waspadai Meningitis
Minggu, 16 Maret 2008
Laporan Indriaty Susanto   Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
 
Meningitis atau radang selaput otak saat ini adalah penyakit yang paling ditakuti para ibu. Penyakit ini adalah ‘’pembunuh” nomor satu para bayi. Angka kematiannya mencapai 18 sampai 40 persen kasus. Gejalanya seringkali samar, nyaris sama dengan flu biasa, sehingga banyak bayi mungil tidak tertolong karena terlambat ditangani.

Demam, batuk, pilek adalah penyakit yang dianggap biasa pada anak-anak. Karena itu, banyak orang tua terutama para mama yang cenderung mengabaikannya. 

Tapi sejak sekarang jangan lagi begitu ya, karena ternyata, banyak penyakit serius yang bisa berakibat sangat fatal yang bermula dari demam itu tadi. Kasihan kan kalau anak-anak kita harus menderita akibat kelalaian dan ketidaktahuan kita.

Salah satunya meningitis atau radang selaput otak. Apa penyebabnya? Ternyata banyak. Bisa virus, bakteri, jamur, bahkan parasit. Penyakit ini bisa dikenali dengan beberapa gejala khusus, yaitu demam, kejang, dan menurunnya kesadaran si anak.

“Jadi, kalau anak demam dan terlihat lemas dan susah dibangunkan, apalagi jika ada kejang-kejang yang berulang, segera bawa ke dokter atau rumah sakit,” kata dr Desi Kamadewi Sp.A, dokter spesialis anak dari RS Awal Bross Pekanbaru kepada Riau Pos, kemarin.

Dokter yang sangat friendly dengan anak-anak ini menjelaskan, di samping gejala-gejala khusus tadi, ada juga gejala lainnya. Misalnya terjadi nyeri kepala, muntah, dan anak menjadi sensitif atau mudah silau terhadap cahaya.

 “Pada bayi biasanya lebih rewel dan sering menangis,” tambahnya.

Dokter Desi menjelaskan, pada banyak kasus, meningitis terjadi akibat perluasan infeksi. Misalnya awalnya infeksi telinga, karena tidak segera ditangani infeksinya menjalar ke otak. Atau infeksi influenza yang gejalanya sangat dikenal itu, batuk, pilek, demam, yang kemudian kuman penyebab infeksinya ikut aliran darah dan sampai ke otak juga.

“Tapi yang paling banyak menjadi pemicu meningitis yakni infeksi saluran pernafasan,” tambahnya. Jadi, kalau anak terserang infeksi saluran pernafasan, harus ekstra hati-hati ya!

Imunisasi Mahal
 Sebenarnya saat ini sudah ada vaksin untuk  mencegah meningitis. Tapi memang hanya untuk menghadang bakteri atau virus tertentu saja. Yaitu imunisasi Hib yang memberikan kekebalan terhadap virus haemofilus influenza tipe B, salah satu virus penyebab meningitis. Dan imunisasi pneumokokus, yang memberikan kekebalan terhadap bakteri pneumokokus. Bakteri jenis ini memang jahat, bisa menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya meningitis.  

Kedua imunisasi ini diberikan sebanyak empat tahap, yakni saat anak berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 15 bulan. Tapi harganya masih mahal. Imunisasi Hib harganya sekitar Rp 187 ribu sekali suntik, sedangkan imunisasi pneumokokus (lebih dikenal dengan IPD) lebih mahal lagi, mencapai Rp 850 ribu sekali suntik. Imunisasi ini sampai sekarang terbukti aman dan tidak ada efek sampingnya, bahkan anak pun tidak akan demam setelah diimunisasi.

Selain bisa menyebabkan kematian, meningitis juga bisa mengakibatkan kecacatan pada anak. Yang paling sering terjadi yakni gangguan berbicara, lemah anggota gerak, sampai retardasi mental.

  Tapi jangan khawatir, dengan penanganan yang tepat dan dini, meningitis bisa disembuhkan kok.

 “Meningitis paling berbahaya jika menyerang anak di bawah usia satu tahun. Karena anak seumur itu daya tahannya belum kuat,” kata dr Desi lagi. Karena itu, ujar dr Desi, upayakan untuk menjaga kondisi anak selalu prima di usia rawan tersebut.(lin

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org