• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Sabtu, 30 Agustus 2008 || 28 Syakban 1429 Hijriah
Total SportSaatnya Juara

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaSepakati Multi Tafsir Perjuangan Pers

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Tikus Yang Rakus
Minggu, 16 Maret 2008
Cerita Anak 
Disebuah sawah, puluhan tikus tengah berkumpul. Mereka merencanakan untuk merusak padi milik petani. Tikus yang paling besar, mungkin pemimpinnya, berdiri paling depan. Ia berdiri di atas batu besar. Sementara yang lainnya berbaris di atas rumput kering.

“Saudara-saudaraku,” kata Sang Pemimpin. “Pada di sawah itu sudah agak besar. Kita sudah lama tidak mendapatkan makanan enak. Kelihatannya, pada yang masih muda itu sangat manis. Kalian yang bertubuh kurus, akan menjadi gemuk kalau memakannya,” katanya sambil tetawa. Anak-buahnya ikut tertawa. Sehingga di sawah itu terdengar suara gemuruh.

“Benar sekali, Bos. Kita harus segera menjarahnya. Istri dan anakku sudah lama tidak mendapatkan makanan enak,”.

“Iya, Bos. Jangan tunggu waktu lagi, sekarang kita beraksi,” kata yang lainnya.

“Sabar dulu. Kita jangan terburu-buru. Hari masih pagi, dan biasanya, petani itu datangnya pagi-pagi. Jadi kita harus menunggu sore hari. Kalian harus memberitahu yang lainnya, bahwa nanti sore akan ada gerakan”.

“Jadi sekarang kami boleh istirahat dulu, Bos”.

“Aku mau tidur, Bos”.

“Silakan. Tapi nanti sore kita kumpul lagi di sini”.

Musyawarah pun selesai. Tikus-tikus itu kemudian masuk ke dalam lubangnya masing-masing. Kecuali Sang Pemimpin yang masih berdiri di atas batu. Tikus besar itu tidak hentinya tertawa. Air liurnya keluar, membayangkan betapi nikmatnya padi yang masih muda itu.

Diam-diam, pembicaraan tikus-tikus itu didengarkan oleh Pak Ular dan Pak Kepiting yang sedang berjemur.

“Tikus-tikus itu sudah mau merusak lagi!” kata Pak Kepiting.

“Benar. Kita harus mencegahnya. Kasihan petani kalau padinya dirusak,” jawab Pak Ular.

Kemudian Pak Ular dan Pak Kepiting menghampiri pemimpin tikus.

“Hai, tikus rakus, sedang apa kau di sini?” Pak Ular membentak. Tikus itu kelihatan kaget. Ia hampir mengambil langkah seribu. Tapi kemudian mencoba menenangkan diri.

“Seperti biasa, setiap pagi aku berjemur di sini,” jawabnya, diakhiri dengan tawa.

“Apa yang kau bicarakan dengan anak buahmu?” giliran Pak Kepiting yang bertanya.

“Tidak apa-apa. Hanya ngobrol biasa,”

“Bohong. Kau sudah merencakan untuk merusak sawah petani. Apakah kau tidak melihat, betapa repotnya petani mengurus padi itu. Berapa biaya yang dikeluarkannya. Sementara kau ingin merusaknya. Sudahlah, batalkan saja rencana itu. Nasihatilah anak buahmu, supaya tidak merusak lagi,” kata Pak Ular.

“Alah, Pak Ular ini. Kita kan sama-sama usaha!”

“Iya, tapi caranya yang halal, dong. Jangan asal menjarah. Masih banyak makanan lain yang bisa kau dapat dengan cara halal. Kita harus kasihan kepada petani itu. Meraka membela anak-istrinya. Mereka akan bersedih kalau panennya gagal karena dirusak pengikutmu!” kata Pak Kepiting.

“Sudahlah, kita berdamai saja. Kau juga kepiting, banyak dosa pada petani itu. Kau suka melubangi pematang. Marilah kita jalan masing-masing. Dan untuk Pak Ular, akan aku tunjukkan tempat katak bersembunyi. Asal …” tikus itu tersenyum.

“Tidak, kau harus menggagalkan rencana itu. Aku akan membela petani itu,” Pak Ular marah.

“Janganlah sok pahlawan. Aku tidak takut dengan siapa pun. Sudah lama aku berkuasa di tempat ini,”

“Jadi kau menantangku?” Pak Ular semakin geram.

“Tidak ada yang bisa mengahalangi niatku. Apalagi seekor ular tua seperti kau!”

Rupanya Pak Ular sudah habis kesabarannya.

“Tikus itu sangat congkak, aku akan menghajarnya,” katanya kepada Pak Kepiting. Dengan cepatnya Pak Ular menyerang Sang Tikus. Tapi tikus itu pintar sekali. Secepatnya ia menghindar sambil tertawa.

“Kau tidak akan mampu melawanku,” ejeknya.

Kemudian terjadilah pertarungan yang sangat seru. Pak Kepiting hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Suatu ketika, Pak Ular dapat menangkap tikus itu. Kemudian membelitnya sekuat tenaga.

“Mampus kau perusak,” kata Pa Ular. Tikus itu sudah tidak berdaya lagi. Tapi tiba-tiba, ada petani datang bersama anaknya.

“Pak, ada ular sedang berkelahi dengan tikus,” kata anak petani.

“Bunuh ularnya. Kasihan tikus itu!” jawab bapaknya. Tanpa pikir panjang, anak petani itu kemudian membunuh ular dengan cangkulnya. Kepalanya putus. Sang Tikus kemudian berlari tunggang langgang.

Pak Kepiting sangat sedih melihat kejadian itu. “Anak itu tidak tahu balas budi,” gumamnya sambil masuk ke dalam lubang.(int/lin)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org