• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Ahad, 07 September 2008 || 6 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportBungkam Kritik

Minggu, 07 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaKloter Haji Pertama Berangkat 5 November

Minggu, 07 September 2008

article thumbnail

RUANG PENGIKAT
Minggu, 16 Maret 2008
OLEH YUSMAR YUSUF
Manusia ialah makhluk yang bermain, berucap, bergerak dan berdiam dalam ruang. Untuk menjelas peristiwa ini, filsafat memberi bingkai pesona; bahwa manusia ialah makhluk yang terikat dan mengikat diri dengan ruang. Setiap perubahan ruang, terjadi perubahan persepsi dan perilaku pada diri seorang makhluk manusia. Ruang-ruang yang kita pakai sejak dulu hingga kini, adalah sebuah konstruksi histo-romantik; ada ruang alam Jawa, alam Melayu, ranah minangkabau, alam Toraja, alam Bugis dan seterusnya.

Selepas kolonial berganjak dari tanah jajahan, ruang yang kita persepsi tidak lagi berasas pada konstruksi histo-romantik, tetapi mengarah pada ruang hasil konstruksi geografik-politik; ada desa, kampung, kelurahan, kota, kabupaten, provinsi, negara bagian atau negara, seterusnya ada persemakmuran negara-negara modern yang diikat oleh sebuah organisasi bernama United Nation Organisation [PBB]. Selari dengan perubahan persepsi ke atas ruang itu, terjadi pula perubahan perilaku, sikap dan persepsi kita ke atas setumpuk persoalan kehidupan dan fenomena kehidupan yang terhampar di muka bumi.

Dulu, di kampung, kita saling bertemu sebelum pergi ke laut di tepi tebing. Pertemuan itu terasa hangat dan penuh kenangan. Sebab pertemuan ini tidak saja bertemu secara fisik, namun terjadi interaksi, terjadi pertukaran emosi, pertemuan dua dunia yang otonom [dua pribadi], bertukar syaraf dan getar suara [yang menghanyut sejuta emosi]. Singkat kata, dulu kampung yang dikonstruksi dengan makna histo-romantik, memberi peluang orang untuk saling sapa, tegur dan berinteraksi secara fisik dan pertemuan emosi.

Ketika kita masuk dalam ruang kota yang dibentuk oleh sebuah konstruksi geografik-politis, sudut kampung yang hangat yang disuguhkan kepada kita di masa kecil dan tersimpan dalam laci minda kita saat ini, dia menjadi titik rindu, sebuah titik primordial yang dilantun-lantun dan bergelombang dalam mimpi, dalam igau dan dalam bual inter-personal.

Hari ini, kita boleh saja menyebut diri dengan berbagai sandangan memukau; kami makhluk modern, makhluk supermodern, makhluk posmo, makhluk penghayat, makhluk apresiatif dan seperangkat label gagah lainnya. Yang jelas, di tengah label dan atribut yang kita bangun saat ini, di hujung mata dan hidung kita tersergam ruang-ruang yang berobah sontak, baik ruang ekologis asali, maupun ekologi buatan. Ruang berubah sontak itu menghanyutkan setumpuk perilaku manusia yang kian introvert, egois dan monologis. Kini ada dalam ukuran jamaah besar anak-anak remaja kita yang tertidur pulas kala mendengar kuliah guru di klas. Pasalnya sepele saja. Anak-anak ini sudah mati katup interaksi. Mereka betah berjam-jam duduk di depan screen komputer berlayar [surf] internet, membaca CD-ROM, berlayar dan saling interaksi dengan makhluk manusia di sudut buana yang tak terengkuh secara fisik. Inilah ruang yang menyedia sisi interaksi, tetapi tidak bertemu alias tak bersua secara fisik.

Di sisi lain, ada segerombolan remaja di klas yang kerjanya berbual dan berbual, berleseng utara selatan, berlomba bercakap, berbisik dalam ruang klas dan tak hirau dengan dunia sentral bernama guru atau penceramah. Mereka terlahir dan besar dari ruang yang dikonstruksikan untuk saling bertemu tapi tidak berinteraksi.

Ruang-ruang seperti ini disediakan oleh mall, supermarket, taman tema, hipermarket. Alias kita bisa saling bersua dan berjumpa di plaza mall, tapi kita tak berinteraksi satu sama lain. Hari ini juga dapat dilihat bagaimana gempitanya makhluk Indonesia pandai berbual dan bercakap utara-selatan. Puncak panggung ‘’dunia bersua tanpa interaksi’’ ini disuguh secara dramatis oleh wakil rakyat dalam Sidang Tahunan MPR 2001. Mereka saling jambak, saling terkam dan singal, saling geram dan hentak kekerasan yang diperlihat dan ditonton berjuta rakyat. Jangan hanya menyalahkan mereka. Wakil rakyat yang bercekau itu adalah cermin dari wajah besar bangsa ini. Dulu, kita mengkampanye seks aman asal pakai kondom. Kondon dijinjing sepanjang Thamrin demi kampanye seks oleh para mahasiswi. Puncak panggung untuk itu; VCD porno Itenas Bandung.

Inilah makna ruang-ruang yang ikut mengikat dan membentuk watak dan karakter manusia, termasuk dalam ukuran bangsa-politis bernama Indonesia hari ini. Dulu, sebuah negeri, sebuah negara dikelilingi tembok dan pagar demi keamanan. Hari ini tembok dan pagar, diganti dengan teropong monitor. Teropong monitor menggantikan besar, panjang dan kukuhnya sebuah tembok. Alias tembok berukuran besar itu dapat dibonsaikan dalam ukuran genggam; monitor dan sensor. Ketergantungan kita kepada situasi bicara dan melolong untuk menyampaikan sesuatu yang ada dan terpendam di hati, dulu dilakukan dengan menjerit sampai melintas tebing sungai.

Perlahan-lahan perilaku ini dijinakkan dengan ruang kertas bernama surat, selanjutnya persepsi kita kepada kertas kian menghilang ketika kita diserang revolusi saiber [yang mempersembahkan dunia maya]. Kita dah melupakan fenomena surat cinta, kini berganti email dan kartu eletronik. Tak mau berpanjang-panjang kata dan kalimat, orang kian ‘’gatal’’ memanfaat jasa SMS [short massage services] dari telefon bimbit. Perilaku kita pun berubah dalam dunia berjalan. Di tengah jalan dalam ruang ‘’maha luas’’ kita berbual-bual dalam ‘’bilik-bilik diri’’ sendiri penuh interaksi tanpa pertemuan lewat kesaktian [handphone genggam].

Yang paling lucu dan menggelikan ialah ruang pesawat terbang. Ruang ini, penuh daya pukau dan privacy tinggi. Sebab, sebagian besar yang naik pesawat ialah klas menengah atas. Mereka ini termasuk yang punya privacy, berbicara dengan lembut bila perlu berbisik. Tapi kalau kita terbang Pekanbaru-Batam, suasana terasa aneh dan berbeda. Hiruk-pikuk orang berbual dalam pesawat tak lebih riuh ketika kita naik bus dan oplet kota. Orang bebas memekik dari kursi belakang kepada rekannya yang berselang tiga kursi di depan. Mereka masih dibelit oleh ruang yang dikonstruksi secara histo-romantik. Sementara ruang pesawat terbang telah terlanjur dipersepsikan sebagai ruang privacy-personal.

Ruang-ruang fisik dan ruang maya [virtual] memberi gesaan kepada orang  untuk berpersepsi, berperilaku dan bertindak. Ruang teroris, malah lebih luas lagi. Kasus 11 September  New York, ialah contoh sejati dalam persepsi ruang hodologis. Sebelum peristiwa ini, orang berlomba menaiki dan menyewa ruang teratas untuk kepentingan bisnis ke puncak bangunan yang paling tinggi. Selain gaya, juga dapat memanfaatkan ekspresi, imajinasi dari jeling pandang mata burung  [eyes bird view] ke serata kota dan lingkup ekosistem. Setelah peristiwa New York, permintaan ruang bisnis [occupancy rate] Menara Kembar Petronas, meluncur turun drastis. Kini, gaya hidup bisnis senang memilih gedung-gedung rendah. Mungkin suatu saat akan menjadi trend jika kawasan bisnis di bawah permukaan tanah. Gedung-gedung jangkung dan besar juga menyediakan ruang mobile [sirkuler, datar dan vertikal] seperti, eskalator, elevator @ lift dan turbin cakram bergerak melingkar di atas menara untuk melihat keindahan kota London, Paris dan Kuala Lumpur. Ruang-ruang ini terikat dengan prinsip techne yang juga membentuk perilaku dan persepsi orang ke atas ruang besar. Ketika menaiki eskalator, orang bersikap lain, berbanding merayap di atas ban berjalan dalam terminal lapangan terbang internasional. Juga tak sama sikapnya, ketika berjalan berpusu-pusu [dengan kesan crowded] saat melempar jumrah di Mina dalam inisiasi ibadah haji. Uruslah ruang-ruang hidup, kalau kita hendak menjadi baik dan bertamadun. Juga sebaliknya, uruslah ruang-ruang yang sama jika kita hendak menjadi perampok atau mafia sekalipun.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org