| Perempuan Bau Asap Itu, Ati |
| Minggu, 16 Maret 2008 | |
|
Sajak oleh Elfeni Wimra kudengar lagi dekak batu gilingan asap yang mengepul di tungku membungkus baju kurungmu pada subuh yang belum usai kuraba tonggak tua rumah gadang yang berbulu digaruk kucing di situ puisiku pertama kali menyerpih melekat sebagai debu yang mengambang di langit-langit pagu dapurmu kudengar lagi sijingkat atah di ujung tampian dedak yang berdenging di lantai tanah rumah kita dan matamu menggambar sawah berjenjang batang-batang padi menggembung seperti pantau yang hamil dari sana gabah bersembulan mengulai dari tangkai seperti anak-anakmu, ati ada yang bernas ada yang hampa kudengar lagi kecimpung tawas dalam kuali sore itu aku pulang membawa sejinjing belut dan anak gurami yang kukail di batang air sialang “kita goreng sama peria atau asam pedas saja?” tawarmu kudengar lagi, hujan batu berderu di langit kampung dentangnya menyerang loteng bilikku subuh seperti mau runtuh ke dalam secerek air yang telah kau panaskan lalu secangkir kahwa mengepul “menjelang berangkat, minumlah seperti bangau betina sebelum meninggalkan kubangan,” ucapmu dari anak jenjang pertama aku turun mengayun lambai di laman di tampuk embun puisiku karam tersangkut pada kelopak kembang tiga bulan kudengar lagi kicau pipik tuai musim bertanam yang riang lalang-lalang mengungsi ke belukar mintalak sebab sawah-sawah digenang ke sana aku mandi-mandi memakai baju tut wuri handayani “cepat pulang,” sesalmu aku pun berlari percikan lumpur melewati kepala ingat kambing yang belum dikeluarkan ingat kulit manis yang belum diangkat dari jemuran ingat buku bergaris petak dan pr matematika juga karangan singkat yang harus dirangkai dengan huruf tegak bersambung tapi puisiku berdetak di roda bendi seakan ada yang meningkah rabana menuntun suara gadis penyanyi kasidah batinku melulung meniti bangsi para bujang yang kesepian di dangau ladang aku dengar lagi gesek mata pisau penetek mayang nira diasah bapak di batu gerinda dan gerahamku selalu ngilu karenanya sengilu ketika akhirnya bapak berperangai elang menerkam lalu terbang ke lain sarang ke lain rumah gadang kudengar lagi gerutumu di balik pintu tentang cengkeh yang terjual murah harga racun padi yang menanjak dan bapak yang tak pulang-pulang selalu kudengar semua, ati sembari mengintipmu menangis di balik kelambu dipan selalu di pelukmu aku ingin rubuh menghirup tubuhmu yang bau asap meski dari dari ranah yang tak terdekap di mana aku kini tersekap 2008 Elfeni Wimra, adalah cerpenis dan penyair. Karya-karyanya dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Riau Pos dll. Sekarang giat di Teater Cabang dan Komunitas Daun, Padang, Email:
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
|
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



