• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Jumat, 05 September 2008 || 5 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportAncaman Kudeta

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaUrip 20 Tahun Penjara

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Melihat Keunikan dan Eksotisme Tumbuhan Salo di Bukit Tigapuluh
Minggu, 16 Maret 2008
Di sini, Salo bukanlah untuk menunjuk nama desa di sebelah barat Kota Bangkinang, tetapi untuk nama jenis palem eksotis yang tumbuh di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) dan sekitarnya.

Oleh Nurul Qomar

Kawasan lindung di perbatasan Riau dan Jambi ini merupakan daerah perbukitan yang terpisah dari pegunungan Bukit Barisan sehingga banyak ditemukan spesies tumbuhan yang unik. Uniknya lagi, penduduk setempat meyakini bahwa Salo hanya tumbuh di wilayah Riau dan tidak ditemukan di wilayah Provinsi Jambi. Mungkinkah ini karena pengaruh perbedaan penyinaran matahari di kedua wilayah karena arah lereng yang saling bertolak belakang?

Di mana letak keunikan Salo?

Selain pola penyebarannya yang unik, keunikan Salo dapat dilihat pada daunnya. Daun Salo berbentuk belah ketupat dengan ukuran sangat besar 3,5 m x 1,5 m, tepi kedua sisi bagian ujung bercuping kecil yang masing-masing berurat memanjang ke arah pangkalnya, muncul di ujung batang dan melingkari batang sebanyak 20-30 helai, dan panjang tangkainya dapat mencapai 2 m. Karena daunnya yang panjang dan lebar ini maka Salo sering dikenal dengan Palem Daun Payung.

Jenis palem ini tumbuh tunggal, berakar serabut, tegak, tidak bercabang, dan berbatang sangat pendek dengan diameter sampai 15 cm. Meskipun demikian, tinggi Salo bisa mencapai 6 m karena daunnya yang panjang.

Salo telah diidentifikasi dengan nama latin Johannesteijsmannia altifrons, termasuk divisi Spermatophyta. Saat ini, spesies palem ini telah menjadi tanaman koleksi di Kebun Raya Bogor.

Di beberapa daerah, Salo dikenal dengan nama yang berbeda antara lain: Sang Gajah (Sekundur), Daun Sang (Sumatera Utara), Balahan (Sumatera Barat), dan Salo (Riau). Nama umum yang lebih dikenal secara luas adalah Palem Daun Payung, Joey Palm, dan Johan Palm.

Sebagian masyarakat memanfaatkan daun Salo untuk atap rumah atau pondok ladang karena lebih awet dibandingkan dengan daun Kopau maupun Lipai. Bahkan, daun Salo juga bisa digunakan sebagai perahu untuk sekedar menyeberang atau menghiliri sungai bagi dua orang dewasa.  

Mengapa Salo perlu dilindungi?

Salo merupakan salah satu jenis palem di Sumatera yang terancam punah. Berdasarkan IUCN red list categories 1994, status kelangkaan Salo termasuk vulnerable kategori D2 karena populasinya sangat kecil, wilayah sebarannya terbatas, dan diperkirakan mengalami kepunahan yang tinggi di alam dalam waktu singkat. Kelestarian Salo terancam karena populasinya di alam sedikit, tumbuh tunggal, dan regenerasinya lambat. Oleh karena itu, Salo termasuk jenis tumbuhan yang dilindungi di Indonesia sesuai PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Persebaran Salo di alam

Salo tersebar di Sumatera, Thailand, dan Malaysia. Di Sumatera Utara, tumbuhan ini terdapat di kawasan Taman Nasional Gunung Lauser, sedangkan di Riau dapat ditemukan di TNBT. Ada juga yang melaporkan bahwa tumbuhan ini juga pernah dijumpai di Aceh antara tahun 1880 – 1940 dan di Lima Poloeh dekat Padang, Sumatera Barat sekitar tahun 1860.

Sebelumnya, keberadaan Salo di TNBT pernah dilaporkan pada tahun 1994, tepatnya di daerah Sanglap, Indragiri Hulu. Penulis sendiri menemukan tumbuhan tersebut pada awal Februari 2008, di sekitar TNBT dan  di daerah penyangga TNBT.

Melihat eksotisme Salo di Bukit Tigapuluh

Salo di daerah penyangga TNBT dapat dijumpai di antara desa Lahai dan Sanglap. Untuk sementara, keberadaannya baru ditemukan di dua lokasi, yaitu di lereng Bukit Lahai dan Bukit Pekukuran. Fakta ini dapat menjadi justifikasi bagi rasionalisasi perluasan TNBT di wilayah ini.

Kedua lokasi ini mempunyai ketinggian lebih dari 100 m dpl. Daerah ini berada di bagian utara dari wilayah perbukitan Bukit Puputan Keling yang puncaknya di 700 m dpl, yaitu salah satu bukit tertinggi di TNBT. Salo memang lebih menyukai tempat alami yang berdrainase cepat, yang terkait dengan ketinggian dan kemiringan lahan yang tinggi. Oleh karena itu, untuk mencapai ke habitat alami Salo, pengunjung harus berjalan kaki mendaki bukit yang terjal dan cukup melelahkan.

Namun, rasa lelah ini akan segera sirna ketika melihat pemandangan kelompok Palem Daun Payung yang eksotis dan sangat menakjubkan. Dalam area 1 hektar dapat dijumpai 59 batang Salo, suatu pemandangan yang tidak ditemukan di tempat lain di Riau. Apalagi, di daerah ini juga banyak ditemukan Meranti Putih (Shorea sumatrana) dan Pasak Bumi (Eurycoma longifolia). Vegetasi di sini tergolong hutan primer dengan kerapatan tajuk ±60%. Kerapatan vegetasi pada strata pohon mencapai 162 individu/ha dengan diameter setinggi dada (dbh) rata-rata 34,1 cm dan total luas bidang dasar (lbds) 14,0 m2/ha. Sementara itu, kerapatan vegetasi per hektar untuk strata di bawahnya adalah 888 individu tiang, 3.136 pancang, dan 21.200 anakan dan tumbuhan bawah.

Perjalanan ke daerah ini sudah dapat ditempuh menggunakan kendaraan bermotor karena pemerintah daerah terus berupaya membuka keterisoliran desa Sanglap. Perjalanan dari Pekanbaru membutuhkan waktu 8-9 jam melalui Jalan Lintas Timur dan kemudian berbelok ke kanan di Simpang Pangkalan Kasai (Indragiri Hulu). Sayangnya, jalan yang melewati beberapa desa di pinggiran Sungai Cenaku dan S. Air Antan ini belum diaspal, sehingga pada siang hari yang panas kondisinya berdebu.

Konservasi Salo secara ex situ

Selain dengan melestarikannya di habitat alami, usaha konservasi spesies langka ini juga perlu dilakukan secara ex situ. Penulis berharap keberadaan palem indah ini dapat didomestikasi sehingga dapat menjadi penghias halaman rumah dan kantor, sebagaimana di rumah penduduk desa Sanglap. Sayangnya, teknik putaran atau cabutan anakan Salo dari alam mempunyai keberhasilan sangat rendah karena akarnya sangat rentan terhadap gangguan. Frekuensi berbuahnya yang jarang juga membatasi perbanyakannya secara alami. Mungkin, teknik kultur jaringan dapat menjadi pilihan agar perbanyakannya dapat dilakukan secara massal dan pelestariannya dapat dilakukan secara ex situ oleh masyarakat luas.***


Nurul Qomar, Dosen Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Riau

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org