| Menjelang ”Kematian Massal’’ di Jembatan Siak I |
| Minggu, 16 Maret 2008 | |
|
Ketika Deadline 2009 Menghantui
Lelaki itu tak terlalu tua. Namun semangatnya yang membaja tak mampu menundukkan alam. Badannya yang ringkih tak lagi kuat mengayuh sepeda di kemiringan Jembatan Siak I. Amran (48), tampak mulai menghentikan kayuh sepedanya saat memasuki tanjakan jembatan ini, lalu menuntun ‘’kendaraan dinasnya’’ itu pelan-pelan. Laporan Muhammad Amin, Pekanbaru Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya Amran melewati Jembatan Siak I yang dari dulu lebih kerap disebut Jembatan Leighton ini setiap hari. Warga Jalan Nelayan Rumbai ini bahkan sudah tinggal di tempatnya sekarang sebelum Jembatan Siak I berdiri tahun 1977. Sejak awal berdirinya jembatan ini, dia sudah biasa mengayuh sepeda melewati jembatan itu. Namun kini tidak lagi. Amran sudah tak kuat. Punggungnya yang dulu setegap anak panah, kini perlahan merunduk bak busur. Kerja kerasnya puluhan tahun mungkin menyebabkan itu. Seperti halnya Amran, begitu pulalah Jembatan Siak I. Ketika ditemui Riau Pos, Selasa (11/3/2008) pagi di tengah Jembatan Siak I ini, Amran mengakui pernah mendengar kabar mulai rapuhnya jembatan ini. Namun pria yang tiap pagi bekerja mencari barang bekas di perkotaan ini tak ambil peduli. Saat beberapa getaran seperti gempa kecil terasa di tengah jembatan ketika kendaraan besar lewat, Amran tak hirau. ‘’Sudah biasa, tak perlu cemas,’’ ujar pria yang juga bekerja di PT Union Siak ini kepada Riau Pos. Begitu Amran, beda pula warga lainnya. Khairunnas, warga Umban Sari Rumbai mengaku cemas ketika harus setiap hari melewati jalan ini. Namun dosen UIN Suska ini tak punya pilihan lain. ‘’Mau bagaimana lagi. Kalau lewat Jembatan Siak II, sangat jauh,’’ ujar Khairunnas kepada Riau Pos, beberapa waktu lalu. Warga Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Senapelan, Darun juga memiliki kecemasan serupa. Namun karena tak ada jalan lain, dia terpaksa lewat jalan itu. ‘’Kalau mau mati, di mana pun bisa saja,’’ ujar Darun pasrah. Amran, Khairunnas, dan Darun mungkin dapat mewakili beribu warga Rumbai yang memiliki akses dan pekerjaan ke wilayah Selatan Pekanbaru (perkotaan). Sebaliknya, warga Pekanbaru bagian Selatan pun memiliki kecemasan serupa jika pergi ke Rumbai. Apalagi jembatan ini sudah beberapa kali mendapatkan ‘’lampu kuning’’ dari pemerintah. Konstruksinya dikabarkan berkurang hingga 48 persen. Bahkan Kepala Bappeda Provinsi Riau, Drs Emrizal Pakis menyebutkan deadline Jembatan Siak ini hanya hingga tahun 2009. Setelah itu, jembatan ini bolehlah istirahat dari beban beratnya, agar tak uzur dan runtuh sebelum waktunya. Ancaman 2009 Emrizal tentu tak asal sebut tahun 2009 jadi batas akhir Jembatan Siak I. Di usianya yang ke-31, jembatan yang sempat diprediksi berumur satu abad ini sudah mengalami perbaikan di sana-sini. Ada tempelan dan perbaikan konstruksi tiang jembatan beberapa kali akibat keretakan di sebagian konstruksinya. Bahkan sejak tahun 1993, sudah ada rekomendasi dari Balitbang Departemen Pekerjaan Umum RI agar jembatan ini ditutup saja. Terakhir, muncullah deadline tahun 2009, yang mencemaskan. Namun Emrizal tentu tak asal sebut. Sebagai lembaga perencana, Bappeda Riau memang mengharapkan pada tahun 2009, rencana pembangunan Jembatan Siak III sebagai solusi bisa tuntas. Pembangunan jembatan ini memang tersendat akibat masalah ganti rugi lahan yang tak selesai. Sisi Utara Jembatan Siak III nyaris sudah selesai. Namun sisi Selatannya sama sekali belum tersentuh. Sejauh ini, proyek baru berjalan 20 persen dan bangunan terbengkalai itu sudah berumur cukup lama. Cukup banyak material yang perlahan jadi besi tua tergeletak saja di sana, bahkan menjadi ‘’taman bermain anak-anak’’. Masalahnya sekarang, mampukah Pemerintah menuntaskan janjinya pada tahun 2009? Ini yang masih belum pasti. Padahal, tahun 2009 adalah tahun ‘’janji-janji’’, tahun Pemilu dan kampanye. Di saat seperti itulah bahaya laten Jembatan Siak I ini mengancam. Sebab, saat kampanye adalah saat kendaraan dengan jumlah massa banyak berjejer di Jembatan Siak I. Disebutkan Wakil Kepala Dinas Kimpraswil Provinsi Riau, Ir Firdaus MT, beban berat maksimal pada sumbu berat vertikal jembatan adalah saat kondisi kendaraan penuh di atas jembatan ini. Hal itu sering terjadi ketika ada kemacetan di tengah jembatan, yang sering terjadi ketika ada konsentrasi massa ke suatu kawasan di seberang Sungai Siak. Massa kampanye, pertandingan bola, atau konser adalah salah satunya.’’Jika itu dibiarkan, akan sangat membahayakan kondisi jembatan yang memang sudah mulai mengalami pengurangan konstruksi,’’ ujar mantan Kasubdin Prasarana Jalan Dinas Kimpraswil Riau ini. Untuk itu, yang penting sekarang menurutnya adalah mengurangi beban Jembatan Siak I. Tidak boleh lagi ada kemacetan di atas jembatan ini. Sebab beban sumbu vertikal jembatan yang dihasilkan oleh kendaraan, akan semakin membuat jembatan ini rapuh. Beban vs Kekuatan Beban yang harus ditanggung Jembatan Siak I memang tidak ringan. Apalagi, kemacetan bukan hal aneh di atas jembatan ini. Pantauan Riau Pos beberapa waktu yang lalu, arus kendaraan yang melewati Jembatan Siak I paling padat terjadi pada pukul 7.15 WIB hingga pukul 7.30 WIB, pukul 12.30 WIB hingga pukul 13.30 WIB, serta pukul 16.30 hingga pukul 18.00 WIB. Saat-saat itu adalah masa orang masuk kantor, istirahat dan pulang kerja. Kepadatan kendaraan kian menjadi-jadi ketika ada iven di Stadion Rumbai seperti saat pertandingan sepak bola, saat kampanye atau saat konser musik. Pada saat-saat itu, kadang hampir tak ada celah di atas Jembatan Siak I ini untuk tempat lewat kendaraan. Bahkan kemacetan kerap terjadi. Riau Pos pernah merasakan macet di atas jembatan ini saat Ramadan jelang berbuka puasa beberapa tahun lalu. Perlu waktu satu jam untuk keluar dari kemacetan. Berbuka pun terpaksa di atas jembatan, seadanya. Waktu itu penyebabnya adalah adanya kendaraan yang mogok di tengah jembatan. Banyak yang cemas. Menurut salah seorang tukang beca motor di Pangkalan Simpang Nelayan Veri, kemacetan memang sering terjadi di atas jembatan ini. Bahkan kemacetan yang parah bisa memakan waktu dua jam lebih. Perhitungan Riau Pos, di saat-saat terjadinya kemacetan di atas jembatan sepanjang 350 meter ini, terdapat beban kendaraan sekitar minimal 280 ton. Asumsinya, diambil rata-rata panjang kendaraan 3 meter dengan jarak antar kendaraan 2 meter saat terjadi macet. Dengan perhitungan itu, di saat macet akan ada sebanyak 70 kendaraan dari satu sisi jembatan. Jika dua sisi, tentunya akan terdapat 140 kendaraan. Dengan asumsi satu kendaraan memiliki bobot 2 ton saja, maka bobot 140 kendaraan berarti bisa mencapai 280 ton. Itu masih ditambah jika ada kendaraan yang menyalip di tengah jalan sehingga menjadi tiga jalur yang kerap menjadi penyebab kemacetan ini. Belum lagi bobot kendaraan, penumpang yang banyak, angkutan kendaraan dan lainnya. Adapun jumlah kendaraan yang lewat di jembatan ini dapat mencapai 40 kendaraan permenit. Pantauan Riau Pos, Selasa (11/3/2008) pagi, kepadatan kendaraan terjadi pada pukul 7.10 WIB. Pada pukul 6.30 WIB hingga pukul 7.10 WIB, arus kendaraan masih normal. Saat pukul 7.10 WIB itulah arus puncak dan sedikit kemacetan terjadi. Saat itulah beberapa petugas polisi hadir khusus untuk mengatur kendaraan yang lewat pada 15 menit tersebut. Setelah pukul 7.25 WIB, seiring dengan berkurangnya kendaraan yang lewat di atas jembatan, polisi lalu lintas pun mulai beranjak. Pada saat arus padat, yakni pukul 7.10-7.25, kendaraan roda 2 dari perkotaan ke Rumbai tercatat 32 unit, sedangkan dari Rumbai ke perkotaan mencapai 41 unit permenit. Untuk roda empat dari perkotaan ke Rumbai mencapai 20 unit, sedangkan dari arah sebaliknya hanya 19 unit permenit. Hasil pantauan Riau Pos hari itu tentu hanyalah sampel saja. Namun gambaran itu tentu menunjukkan beban Jembatan Siak I ini. Beban berat jembatan ini dapat lebih tinggi karena ternyata kendaraan yang lewat di atas jembatan ini bukan hanya kendaraan ‘biasa’ atau pribadi yang dapat lolos dari portal. Pantauan Riau Pos, truk-truk jenis Colt Diesel bermuatan lebih pun masuk ke jembatan ini. Terlihat juga truk sampah, truk pengangkut bahan bangunan seperti tanah, truk pengangkut besi dan material bangunan, truk pengangkut minyak tanah 5 ribu liter dan berbagai macam truk lainnya. Diprediksi daya angkut truk itu bisa mencapai 8 ton bahkan lebih. Pantauan Riau Pos, kekerapan truk yang melewati jembatan ini bisa mencapai rata-rata 15 menit per satu kendaraan. Salah seorang warga Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Senapelan, Firman bahkan menyebutkan bahwa pada malam hari, kendaraan jenis truk sangat banyak yang melewati jembatan ini. Bahan-bahan yang dibawanya juga tidaklah ringan, melainkan bahan-bahan dengan tonase tinggi, seperti material bangunan, besi, dan pasir. Asalkan lolos portal, maka truk bermuatan berat itu bisa melenggang di atas jembatan, berapa pun beratnya. Bahkan tak jarang ada truk yang menabrak portal, seperti beberapa kali terjadi. Kisah ‘seram’ lainnya datang dari Firman mengenai konstruksi Jembatan Siak I ini. Dia menyebut, terdapat beberapa besi penyangga pondasi jembatan yang sudah hilang, entah ke mana. Bahkan kemiringan jembatan pun menurut amatannya kian menurun. Jika sebelumnya kecuraman jembatan cukup tinggi, saat ini Jembatan Siak I itu sudah kian landai. Pakar konstruksi, Dr Muhammad Ikhsan menyebutkan, ada tiga faktor besar yang memengaruhi penampilan sebuah konstruksi, khususnya jembatan. Pertama, kondisi alam, termasuk di dalamnya kondisi tanah, angin, dan terjadinya gempa. Kedua, kualitas konstruksinya sendiri, baik yang menyangkut desain, pemilihan bahan, maupun pemeliharaan. Dan ketiga, pembebanan yang ditimpakan ke atas konstruksi tersebut. Pada kasus Jembatan Siak I, tampaknya faktor kedua dan ketiga cukup signifikan. Ikhsan menyebutkan, dalam sebuah kunjungan lapangan bersama mahasiswa Teknik Sipil beberapa waktu yang lalu, pihaknya sempat agak heran melihat konstruksi tiang penyangga (pier) Jembatan Siak I ini. Lazimnya, menurut alumnus S3 dari Amerika ini, pier-pier jembatan dihubungkan bagian atasnya oleh sebuah balok sehingga menjadi satu kesatuan. Artinya, jika ada beban yang bekerja pada sebuah pier, maka akan berusaha ditransfer sebagiannya ke pier yang lain lewat balok penghubung tersebut. Hal ini tampaknya tidak terjadi pada pier Jembatan Siak I. Transfer gaya tampaknya hanya dengan mengandalkan bracing (ikatan silang) antara balok baja yang ada. Dugaan ini memperkuat penelitian yang pernah dilakukan bahwa terjadi slip (pergeseran) antara pelat beton lantai jembatan dengan balok baja memanjang. Akibatnya kekuatan struktur komposit (gabungan) antara pelat beton dan balok baja yang biasanya menjadi andalan untuk struktur jembatan seperti ini, menjadi turun drastis. Dirancang Seabad Jembatan Siak I memang tak lagi segagah dulu. Jika awal berdirinya dijadikan ikon Pekanbaru, tempat wisata, dan sangat kokoh, maka di umurnya yang ke-31, pesonanya sudah mulai merosot. Lengkungnya pun diduga tak setinggi dulu lagi karena sudah ada penurunan. Tiang-tiangnya pun sudah penuh tempelan. Namun siapa sangka, jembatan yang konon sudah keropos itu sejatinya dirancang untuk satu abad. Artinya, jika jembatan ini diresmikan tahun 1977, berarti bukan tahun 2009 deadline Jembatan Siak I harus ‘’menghantui’’ ribuan warga. Deadline itu seharusnya baru mengemuka menjelang tahun 2077. Dikenal pada masa awalnya sebagai Jembatan Leighton, Jembatan Siak I mengalami kisah yang panjang. Menurut mantan Super Intendent Government and Public Relation PT Caltex Pacific Indonesia/(CPI (sekarang Chevron), Moeslim Roesli, Leighton adalah nama perusahaan yang membuat jembatan ini, atas proyek dari PT CPI. Kontraktor pembuat jembatan ini lengkapnya adalah PT Leighton Indonesia Construction Company, sebuah perusahaan patungan Indonesia-Australia. Nama Leighton begitu terkenal karena plang nama Leighton terpampang di sisi Utara dan Selatan Sungai Siak ini selama tiga tahun pembuatannya (1974-1977). ‘’Nama CPI memang tak kita tonjolkan, begitu juga nama Pemerintah Provinsi Riau. Jadi, memang masyarakat tahunya Leighton saja,’’ kenang Moeslim. Jembatan Siak I diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 19 April 1977, dengan memakan dana sebesar Rp1,2 miliar. Kendati dirancang untuk satu abad, namun tidak seperti perkiraan semula, pada tahun 1990 awal, sudah terjadi beberapa keretakan pada tiang jembatan ini. Salah konstruksi? Tentu saja tidak. Sebagai sebuah bangunan, daya tahannya sudah disesuaikan dengan berat kendaraan waktu itu yang rata-rata 8 ton. ‘’Waktu itu tidak terpikir oleh kita akan ada kendaraan-kendaraan besar yang beratnya mencapai 15 ton bahkan lebih,’’ ujar Moeslim. Setelah masa berlalu, ternyata, kendaraan yang lewat di sana jauh melebihi kapasitas yang seharusnya. Hal ini terjadi setelah di Riau mulai bertumbuhan pabrik-pabrik kayu dan kelapa sawit memasuki tahun 1990-an. Akibatnya, Jembatan Siak I mulai mengalami retak-retak pada tiangnya. Itu terjadi karena kendaraan yang masuk berupa truk gandeng, tronton, peti kemas dan lainnya memiliki bobot 15 ton hingga 20 ton, jauh dari daya dukung jembatan. ‘’Setelah diketahui retak itulah, maka dibuatkan portal,’’ ujar Moeslim. Selain portal, ada juga jembatan timbang, yang fungsinya untuk memantau berat kendaraan yang akan lewat di Jembatan Siak I. Akan tetapi, dua jembatan timbang, yakni di Rumbai dan Simpang Tiga kemudian tak berfungsi karena kendaraan dengan tonase tinggi tak mau mampir di sana. Bahkan sekarang jembatan timbang di Rumbai dialihfungsikan pula menjadi posko mobil pemadam kebakaran. Satu lagi jembatan timbang di areal Simpang Tiga sudah lama tidak aktif. Penutup Untuk solusi Jembatan Siak I memang sudah sering didengungkan. Namun aplikasinya seakan jalan di tempat. Menurut pakar konstruksi, Ir Rony Ardiansyah, Jembatan Siak I tak perlu ditutup total. Alasannya, secara konstruksi jembatan ini masih cukup memadai. Dia menyarankan hanya bebannya saja yang dikurangi. Solusi Jembatan Siak III tahun 2009 memang ditunggu. Ini disusul Jembatan Siak IV yang dalam waktu dekat juga akan dibangun. Walikota Pekanbaru Drs H Herman Abdullah MM menyebutkan, pihaknya akan menggesa pembangunan Jembatan Siak IV sebagai jalan alternatif yang menghubungkan Jalan Sudirman ujung ke Rumbai. Tinggal kini masyarakat mengharapkan solusi yang benar-benar konkret, sehingga deadline tahun 2009 tak terus ‘’menghantui’’ untuk menjadi arena kematian massal, seperti beberapa kasus rubuhnya jembatan di nusantara dan belahan dunia lainnya.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



