• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Jumat, 05 September 2008 || 5 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportAncaman Kudeta

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaUrip 20 Tahun Penjara

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Sekolah Delapan Jam Sehari
Minggu, 16 Maret 2008
Kini, tidak hanya dunia pekerjaan yang menempatkan jadwal kerja delapan jam sehari. Tetapi jadwal ini sudah merambah ke dunia pendidikan, bahkan di tingkat dasar. Dengan sistem delapan jam ini, para siswa harus datang di pagi hari dan baru pulang sekolah di sore hari. Tapi anehnya, sekolah seperti itu kini makin menjamur. Padahal konsekwensi dari sekolah delapan jam itu, tidak saja pada anak yang harus menghabiskan hampir separuh hari-harinya di sekolah tetapi juga membuat orang tuanya harus membayar mahal biaya pendidikan anaknya.

Laporan ANDI NOVIRIANTI, AHMAD FITRI dan HERIANTO BASERAH, Pekanbaru Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya


Hari masih menunjukkan pukul 07.00 pagi. Namun Jalan Arifin Ahmad, tepatnya di SD Al Azhar Syifa Budi Pekanbaru, sudah mulai disesaki oleh kendaraan roda empat dan roda dua. Dari dalam kendaraan yang kebanyakan masih edisi terbaru itu tampak turun para bocah berusia 6-11 tahun. Para bocah itu adalah para siswa dari SD Al Azhar Suifa Budi berdiri lima tahun yang lalu.

Di depan pagar sekolah, para bocah kecil itu telah disambut oleh guru piket dan satpam sekolah. Lalu dengan tertib, bocah kecil itupun mulai meramaikan suasana sekolah itu. Saling sapa, kadang saling canda, menjadi warna khas anak-anak di tempat itu.

Lalu aktivitas sekolah pun dimulai. Bila Hari Senin aktivitas mereka dimulai dengan upacara, sama seperti sekolah negeri kebanyakan. Tetapi kalau hari Selasa hingga Jumat (Sabtu Minggu mereka libur) mereka harus membaca ikrar sekolah dalam tiga bahasa, Indonesia, Arab, dan Inggris. Lalu diikuti dengan pembacaan amanat dari kepala sekolah. Aktivitas itu berlangsung sekitar 15 menit.

Kegiatan selanjutnya adalah tadarus (membaca Alquran) di masing-masing kelas atau bergabung antara kelas satu dengan kelas yang berdekatan lainnya. Ayah-ayat pendek beserta arti ayat-ayat itu dalam bahasa Indonesia pun menggema di masing-masing ruang kelas atau koridor sekolah.

Barulah kemudian aktivitas belajar para siswa dimulai. Di sekolah ini aktivitas belajar sebenarnya tidak jauh beda dengan sekolah kebanyakan. Bedanya hanya terletak kelasnya pakai AC, papan tulisnya white board, dan jumlah siswanya paling banyak 25 orang. Malah kadang ada yang hanya belasan orang.  

Pada mata pelajaran tertentu, seperti ilmu pengetahuan dan matematika, mereka menggunakan dua bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris. Hanya saja, bahasa Inggris yang digunakan hanya untuk kata-kata kunci (key words).

Bedanya lagi dengan sekolah negeri, sekolah ini selalu makan siang bersama dan salat berjamaah. Makan siang bersama itu dilakukan di sebuah ruang makan yang cukup luas. Lalu mereka duduk mengelompok sesuai kelas masing-masing. Kemudian aktivitas makanpun dimulai.

Selain belajar, para siswa di sekolah ini juga doyan bermain. Buktinya di sela-sela jam belajar mereka kerap kali juga bersenda gurau. Malah kalau keluar main, maka berbagai permaian khas anak-anak mereka gelar. Sasarannya bukan saja lapangan sekolah tetapi juga koridor sekolah. Terutama bagi para siswa yang kelasnya di lantai atas.  

Bagaimana sih sistem belajar sekolah delapan jam ini? Ternyata di dalam kelas tidak ada yang menyeramkan. Sesekali teriakan-teriakan para siswa masih terdengar. Gurunya pun seperti sekolah kebanyakan hanya harus berulang-ulang kali untuk membuat para siswanya tidak gaduh.

Misalnya yang Riau Pos amati di ruang kelas V A Sekolah Dasar Al Azhar Syifabudi Pekanbaru. Aktivitas belajar di dalam kelas itu cukup gaduh. Pasalnya 18 siswa di kelas itu tengah mengadakan lomba cerdas cermat untuk persiapan ujian akhir mereka. Siswa yang dibagi dalam empat kelompok itu, sangat aktif berkompetisi. Sehingga saling berlomba tunjuk tangan agar kelompok diberikan kesempatan menjawab pertanyaan dan memenangkan kompetisi itu. Suasana saling omel dan ngotot jawabannya paling benar juga terjadi.

Begitulah gambaran sekolah yang disebut-sebut sekolah elit, mahal dan wah. Dibilang begitu, karena sekolah itu memang biaya sekolahnya cukup mahal. Tahun ajaran baru nanti saja, sekolah ini mematok uang pangkal (uang masuk) Rp9 juta. Lalu bulanannya Rp400 ribu. Biaya itu tentu melebihi biaya masuk perguruan tinggi negeri di Riau.

Namun anehnya, sekolah jenis ini makin subur di kota-kota besar manapun. Termasuk di Kota Pekanbaru. Di Pekanbaru saja ada beberapa sekolah lainnya, di antaranya yang juga sempat Riau Pos pantau adalah SD Ashofa dan SD Al Ulum yang berlokasi di Jalan Tuanku Tambusai II.

Biaya sekolahnya tidak jauh berbeda. Untuk tahun ajaran tahun lalu saja, di SD Ashofa uang pangkalnya Rp8 juta dan uang bulanannya Rp375 ribu. Sementara itu di Al Ulum uang pembangunan untuk murid baru tahun ajaran mendatang mencapai Rp9 juta dan uang SPP Rp300 ribu per bulan.

Sekolah-sekolah ini biasanya mencuri hati orang tua dengan cara menggandengkan pendidikan agama dengan pendidikan sains dan teknologi. Di Al Azhar, menurut kepala sekolah Haris Dianwari, sistem itu mereka sebut sebagai kurikulum terpadu (integrated curriculum), yakni kurikulum 2006 plus yang dijiwai nilai-nilai agama Islam ke dalam setiap mata pelajaran yang disebut spiritualisasi pendidikan. Ditambah lagi dengan penerapan program bilingual (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) serta program life skill dan ekstrakurikuler.

Sementara itu di Ashofa sistem pendidikan yang mereka berikan juga tidak jauh berbeda. Hanya saja di Ashofa ada penerapan guru berkantor di kelas. ‘’Jadi dari pukul 7.30 hingga pukul 14.00 WIB guru diharapkan menjadi orang tua di sekolah. Menjadi tempat curhat para siswa,’’ ujar Aprinandes, Direktur Pendidikan Yayasan Ashofa.

Kedua sekolah itu dalam proses belajar mengajarnya selalu menerapkan sistem pendidikan yang mampu membentuk kepribadian dan keterampilan peserta didik yang unggul. Mengacu pada empat pilar, yakni learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together.

Selain itu semua, dalam sistem belajar sekolah tidak mau melepaskan peran orang tua bagi siswanya. Itu sebabnya di Al Azhar ada laporan Syarat Kecapakan Umum (SKU). SKU itu berbentuk laporan tentang apa-apa saja yang telah dipelajari anak. Misalnya si anak telah pandai melakukan praktek wudhu, tayamun, bacaan ayat-ayat pendek dan lain sebagainya. Maka si anak wajib mempraktikkannya di depan orang tua, lalu jika sudah betul praktik dan bacaannya maka orang tuanya akan menandatangani kepandaian anaknya itu pada tabel yang ada di dalam SKU itu. Untuk menghindari orangtuanya asal tanda tangan saja, praktek dan bacaan yang telah ditandatangi oleh orangtuanya itu diuji lagi oleh para guru.

‘’Kalau orang tuanya asal tanda tangan juga pasti malu. Karena kami di sekolah menguji anak mereka kembali,’’ cerita Haris sembari menegaskan peran serta orang tua tidak boleh lepas dalam mendidik anak mereka meskipun anaknya hampir separuh hari berada di sekolah.

Sementara itu Kepala SD Al Ulum Deffi Rahmadana menuturkan, tingginya biaya pendidikan yang ditawarkan juga diimbangi dengan fasilitas sekolah yang memadai. Al Ulum memiliki laboratorium Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Di sekolah ini juga terdapat fasilitas olahraga seperti lapangan futsal, badminton dan basket. Dan untuk membuat murid semakin betah belajar, seluruh ruang kelas sekolah ini menggunakan penyejuk ruangan.

Fasilitas sekolah yang kelasnya ber AC, menurut Haris Dianwari, cukup sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan para orangtua siswa. ‘’Jadi mahal itu relatif. Apalagi sekolah ini kan tidak dapat bantuan dari siapa-siapa. Jadi memang uang sekolah dari siswalah yang dipergunakan untuk operasional sekolah yang ada. Mulai dari gedung, gaji guru, dan kegiatan lainnya,’’ ungkap pria sudah belasan tahun jadi guru ini.

***

Meski sekolah mereka tergolong sekolah elit, ternyata gaji para guru mereka tidaklah sangat wah. Apalagi yang masih baru-baru mengajar. Menurut pengakuan Haris dan Aprinandes, untuk tahap awal gaji para guru sekitar Rp1 juta lebih. Mereka sama-sama menolak menyebutkan detailnya. Tetapi yang jelas tidak sampai Rp2 juta. Lalu kalau sudah menjadi guru tetap barulah diatas Rp2 juta. Berapa pastinya, mereka juga tidak bercerita lebih lanjut.

Itu juga diakui oleh Linda (30). Guru yang masih status kontrak di SD Al Azhar ini mengaku penerimaannya diatas Rp1 juta. Tetapi, setahunya, jumlahnya akan meningkat kalau sudah jadi guru tetap. Apalagi kalau sudah menjadi wali kelas. ‘’Ada tunjangan khusus bagi wali kelas,’’ ungkap alumni Universitas Riau yang kini mengajar bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial ini.

Dalam soal perekrutan guru-guru, pihak sekolah biasanya menyerahkan pada ahlinya. Misalnya untuk SD Al Azhar tim seleksi guru langsung dari Al Azhar Jakarta. Guru-guru yang ada juga harus mengikuti standarisasi pengajaran Al Azhar. Sehingga setiap enam bulan sekali, para guru kerap ditraining. ‘’Jumlahnya kadang bisa hingga sepuluh orang. Tergantung berapa permintaan pusat,’’ ungkap Haris, sembari menyebutkan di sekolah mereka ada 27 orang guru dan 322 siswa.(amf)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org