• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Ahad, 07 September 2008 || 6 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportAncaman Kudeta

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaUrip 20 Tahun Penjara

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Di Sekolah, Belajar Ya Bermain Ya
Minggu, 16 Maret 2008
Di sekolah AL Ulum Jalan Tuanku Tambusai II Pekanbaru, Kamis (13/3). Saat itu waktu menunjukkan pukul 15.20. Tiba-tiba sirene tanda berakhirnya waktu belajar berbunyi. Bunyi sirene itu kontan saja menghentikan aktivitas belajar mengajar murid di sekolah yang baru berdiri ini.

Laporan AHMAD FITRI, Pekanbaru Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya


Beberapa saat kemudian terdengar suara murid dari kelas membacakan doa tanda diakhiri proses belajar pada hari itu. Usai berdoa mereka tidak langsung bubar, tapi kembali berkumpul untuk melaksanakan salat Ashar berjamaah. Usai salat barulah mereka boleh pulang ke rumah masing-masing.

Sekolah Al Ulum merupakan sekolah swasta yang baru berdiri di Pekanbaru. Dengan gedung sekolah empat lantai, Al Ulum juga menawarkan pendidikan dengan biaya mahal. Untuk tahun ajaran mendatang, sekolah ini memungut uang pembangunan Rp9 juta dan uang SPP Rp300 ribu per bulan.

Al Ulum juga menerapkan jam pelajaran yang tinggi, yaitu mulai masuk pukul 7.30 dan selesai belajar pukul 15.20. Menurut Kepala SD Al Ulum Deffi Rahmadana, jam belajar yang lama disikapi dengan metode pengajaran yang membuat murid tidak bosan. Murid di tiap kelas juga dibatasi hanya 20 orang saja.

‘’Kita buat metode pelajaran yang membuat anak-anak tetap aktif dan Alhamdulillah mereka masih bisa aktif belajar sampai sore dan mereka juga masih dalam kondisi yang fresh,’’.

Jam belajar yang melebihi jam belajar sekolah negeri memang salah satu nilai tambah di sekolah-sekolah swasta yang menawarkan pendidikan mahal. Namun, apakah anak-anak akan kehilangan waktu bermainnya dengan jam belajar seperti ini?

Direktur Lembaga Pendampingan Perkembangan Anak (LPPA) Riau Santoso SS MSi kepada Riau Pos menuturkan, proses kemampuan anak-anak menangkap pelajaran sebenarnya tidak selalu bergantung kepada waktu belajar. ‘’Sekolah swasta membuat waktu belajar yang panjang karena memang muatan kurikulum swasta lebih banyak. Selain kurikulum nasional juga ada kurikulum lokal dan agama. Di sekolah swasta mereka mendapatkan semuanya. Model pembelajaran di sekolah swasta juga lebih menarik sehingga anak tidak mudah lelah,’’ ujar Santoso.

Lebih jauh alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yoagyakarta ini memaparkan, soal waktu bermain anak-anak sebenarnya sudah ada perubahan paradigma dari masa lalu ke masa sekarang. Saat ini anak-anak bisa belajar sekaligus bermain di sekolah. Proses belajar juga merupakan proses bermain sehingga anak tidak kehilangan kesempatan untuk bermain.

‘’Sekolah selalu dianggap sebagai tempat belajar dan dinilai memisahkan anak dengan dunianya. Saat ini sekolah harus memberikan kesempatan belajar dan bermain. Sekolah juga mesti memberikan pelajaran sesuai dengan perkembangan anak. Sudah banyak sekolah sudah memodifikasi metode belajar. Anak sudah dibawa ke dunianya untuk belajar, terutama sekolah-sekolah swasta,’’ papar Santoso lagi.

Dikatakan, bermain sebenarnya proses untuk memahami kehidupan. Orangtua juga perlu bermain. Tapai bagaimana permainananya tentu berbeda dengan anak-anak.

LPPA sendiri, ujar Santoto, merupakan lembaga msyarakat yang peduli pada perkembangan anak. Lembaga ini memberikan layanan pendampingan di sekolah-sekolah di Pekanbaru yang memerlukan pendampingan psikologis. ‘’Selama ini aspek-aspek psikologis sering terlupakan. LPPA membantu menyelesaikan persoalan psikologis anak, baik negeri maupun swasta. LPPA juga memberikan penyuluhan kepada orangtua tentang bagaimana mendampingi anak saat belajar di rumah,’’ ujar Santoso.

Dia melihat banyaknya orangtua yang menyekelolahkan anaknya ke sekolah swasta sekolah swasta berkembang lebih profesional. Sekolah swasta dituntut profesional karena ketergantungan sekolah kepada kualitas. Berbeda dengan sekolah negeri yang mendapat subsidi dari pemerintah.(amf)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org