Jumat, 21 November 2008 || 23 Zulqaidah 1429 Hijriah
Total SportFantastis

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTindak Tegas Biro Travel Telantarkan JCH di Malaysia

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Kiat Sukses ASI Eksklusif
Minggu, 09 Maret 2008
Menyusui adalah kewajiban setiap perempuan yang menjadi ibu. Namun pelaksanaannya ternyata tidak melulu mulus. Banyak ibu yang terpaksa menempuh jalan pintas, memberikan susu sapi untuk si buah hati karena bekerja atau hal lainnya. Aduh, sayang sekali ya. Padahal masih banyak jalan untuk memberikan si kecil air susu ibu (ASI) yang terbaik baginya.

Laporan indriati susanto, Pekanbaru  Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
“Aku ingin sekali memberikan ASI eksklusif. Tapi bagaimana, aku bekerja penuh setiap hari, hanya libur hari Minggu saja. Bagaimana mungkin bisa memberikan ASI eksklusif,” begitu ujar Tiara, ibu muda berusia 26 tahun, karyawati sebuah bank di Pekanbaru.

 Ya, bagi ibu bekerja, baik yang paruh waktu atau kerja penuh (office hours dari jam delapan pagi hingga pukul lima sore), memberikan ASI eksklusif bisa dikatakan tidak mungkin.

 “Bagaimana mungkin menyusui pada jam kerja? Tidak mungkin kan kita minta izin pulang ke rumah setiap dua jam?” ujar bunda Rifaldo yang masih berusia empat bulan ini.

 Kesulitan itu juga dirasakan para ibu lainnya. Akibatnya, susu sapi yang dikemas dalam kaleng dengan kemasan yang menarik dan warna-warni pun jadi dewa penolong. Apalagi iklan susu formula pun sangat meyakinkan. Ada yang mengklaim produknya bergizi lengkap bahkan mengandung formula yang bisa mencerdaskan anak, ada yang dijamin bisa menaikkan berat badan, dan lainnya.

 “Padahal, tidak ada satu pun yang bisa menyamai sempurnanya ASI.  ASI sumber nutrisi terbaik bagi bayi,” ujar dr Kurniadi Sp.A, dokter spesialis anak dari RS Santa Maria Pekanbaru.

 Dari ASI pula, kata dokter yang ramah ini, bayi akan mendapat kekebalan sehingga tidak gampang sakit. Satu hal lagi, anak yang mendapat ASI terbukti mempunyai IQ (intelligence quotient)  dan EQ (emotional quotient) yang lebih baik dibanding anak yang mendapat susu formula.

 “Jadi, tidak ada alasan untuk tidak memberikan ASI,” tambah Kurniadi.


Semua Ibu Bisa Menyusui
 Nah, setelah tahu  kehebatan cairan hidup itu, rasanya rugi kan kalo tidak memberikan ASI kepada buah hati kita. Kalau pun ada  hambatan, sebenarnya masih ada jalan keluar kok. Misalnya, bagi ibu bekerja, masih bisa memberikan ASI dengan cara memompa ASI untuk kemudian diberikan oleh orang lain (bisa pengasuh atau anggota keluarga lain) kepada si kecil.

 Apalagi zaman sekarang sudah banyak sekali pompa payudara yang ada di pasaran. Ibu bisa memilih mana yang lebih cocok. Ada yang manual (memompa menggunakan tangan) dan ada yang elektrik (menggunakan listrik atau baterai).

 Kalau mau praktis, dan ini pun malah lebih disarankan para dokter, yakni memerah ASI menggunakan jari. Prosesnya memang lebih lama dan memerlukan waktu khusus. Selain itu, botol pun harus steril.

 Pompa untuk memerah ASI biasanya langsung dihubungkan dengan botol susu, sehingga ASI tidak perlu dituang-tuang untuk mencegah ASI terkontaminasi. Jangan menggunakan pompa berbentuk terompet yang tidak berhubungan dengan botol susu. Karena pompa ini ditujukan untuk memeras ASI yang berlebih pada payudara ibu, sehingga payudara tidak bengkak. Dan ASI-nya bukan untuk diminumkan ke bayi, melainkan dibuang.


 Tak Cepat Basi

 Namun, untuk memompa ASI pun ternyata ada seni-nya lho. Kalau ibu dalam kondisi bad mood atau terburu-buru, jangan harap ASI yang terperah bisa banyak. Ya, karena memompa ASI memerlukan situasi dan kondisi yang mendukung.

 Tapi, banyak pula ibu yang bertanya-tanya, apakah memerah ASI seperti ini lama-lama akan membuat ASI kering?

 “Tidak benar. Pokoknya ibu percaya diri saja menyusui bayinya. Selama bayi tetap menyusu kepada ibunya, ASI tidak akan berhenti kok,” jelas Kurniadi.

 ASI hasil perahan bisa disimpan di lemari es. Dan jangan khawatir, ASI adalah cairan ajaib yang tidak cepat basi. Di udara terbuka saja ASI perah bisa tahan 6-8 jam. Bahkan bisa bertahan sampai 3 bulan jika disimpan dalam freezer.

 Namun, cara penyimpanan di freezer tidak terlalu disarankan karena ASI akan mengalami perubahan jumlah imunoglobulin. Suhu yang dingin akan merusak molekul protein yang berfungsi sebagai pembangun daya tahan tubuh bayi.

 Lebih baik, masukkan ASI ke dalam termos atau lemari pendingin biasa karena terbukti ASI perah tidak mengalami perubahan komposisi gizi sama sekali. Hanya mungkin warna dan bentuknya saja yang berubah. Di lemari es (bukan di freezer atau chiller), ASI bisa tahan hingga 2 x 24 jam. Namun bagi ibu bekerja yang memerah ASI di kantor, simpan saja ASI di termos berisi es batu. Dan ASI pun akan tahan selama kira-kira 1 x 24 jam. Nah, mudah bukan!

 “Yang penting, diperlukan komitmen yang kuat bagi ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Saya menganjurkan pemberian ASI eksklusif ini dilakukan sampai bayi berusia enam bulan,” kata Kurniadi lagi. ASI eksklusif di sini, lanjut Kurniadi, yakni pemberian ASI saja tanpa tambahan makanan atau minuman lain, termasuk gula, air tajin, atau susu formula. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan usus dan pencernaan bayi yang memang masih sangat sensitif dan belum sempurna.

 “Bayi yang dipaksa ibunya makan makanan padat sebelum enam bulan biasanya bermasalah dengan pencernaannya. Umumnya kembung, mencret dan sebagainya. Jadi buat apa kita memberikan penderitaan bagi buah hati kita,” tegasnya.

 Nah, sudah jelas bukan kalau masih ada cara untuk tetap memberikan ASI eksklusif bagi buah hati tercinta. Yang diperlukan adalah motivasi ibu yang kuat untuk memberikan yang terbaik bagi anak. Bekerja bukanlah halangan untuk memberikan ASI. Be the best mom!(lin)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org