Jumat, 21 November 2008 || 23 Zulqaidah 1429 Hijriah
Total SportFantastis

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTindak Tegas Biro Travel Telantarkan JCH di Malaysia

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Bibik, Pembantuku
Minggu, 09 Maret 2008
Mempunyai pembantu memang gampang-gampang susah. Apalagi kalau keluarga sudah cocok dengan pekerjaannya. Cerita ini adalah kisah nyata yang terjadi di rumahku, dimana aku mempunyai seorang Bibi baru yang bekerja di rumahku sajak 6 bulan yang lalu.

Usia bibi memang sudah tak muda lagi, sekitar 50 tahun dengan raut wajah yang nampak lebih tua dari usianya. Namun tenaga bibi memang luar biasa, hingga kerap aku mengingatkannya untuk tak lagi mengangkat ember besar berisi pakaian basah yang tengah direndam. Toh, selain Bibi ada lagi pekerja di rumahku yang bernama Mamat, seorang lelaki muda dengan usia 22 tahun yang siap membantu mengangkat barang yang berat sekaligus membersihkan rumah. Namun Bibi selalu mengatakan bahwa ia masih kuat dan tak mau meminta tolong untuk mengangkat barang yang berat seperti tabung gas. Ia selalu melakukannya sendiri.

Bibi juga cukup rajin bekerja, terutama membuat berbagai masakan untuk keperluan kami. Pukul 04.00 pagi Bibi sudah bangun, langsung mandi dan membuat masakan baru untuk sarapan pagi kami. Udah gitu, masakannya enak pula.

Selain Mamat dan Bibi, masih ada 3 orang pekerja lagi, yaitu 2 orang supir dan seorang satpam. Dan tentu saja selain memasak untuk keperluan keluarga inti, Bibi juga memasak untuk pekerja-pekerja tersebut. Bibi yang mengatur semua menu masakan pekerja, karena untuk menu masakan keluarga inti akulah yang menentukan. Bibi hanya tinggal memasaknya saja.

Memang sejak minggu pertama kedatangan Bibi, aku sudah merasakan hal yang agak aneh, karena beberapa masakan matang cepat sekali habis. Bukan itu saja, bahkan kopi, gula, teh, susu juga harus disediakan 2 kali lipat dari biasanya, tak berhenti disitu saja, karena garam, vetsin, tepung terigu, telur, beras yang memang sengaja distok juga cepat sekali habisnya.

Bulan kedua Bibi tinggal di rumahku, keanehan lain mulai terjadi, semua stok makanan mentah seperti daging, ikan, udang, cumi, ayam yang kami siapkan dalam frezer juga lenyap bak ditelan bumi. Aku menanyakan kepada Bibi kemana semua bahan mentah tersebut, namun bibi menjawab, ” nggak tahu bu, kan semalam masih lengkap ya bu,” ujarnya ragu. Aku juga tak habis pikir, bagaimana mungkin bahan mentah tersebut bisa lenyap dalam semalam dari frezer dapur sedangkan bibi tak membuatnya menjadi masakan matang.

Keanehan lainnya, setelah usai Bibi masak untuk pekerja di rumah dan belum sempat mereka makan, masakan tersebut sudah tinggal setengah panci saja. Semua heran dengan kejadian aneh ini, namun kami bingung tak mengerti kok masakan bisa hilang sendiri dari lemari dapur? Benar-benar membingungkan.

Bukan itu saja, bahkan masakan setengah matang yang sudah disiapkan untuk tamu dan saudara yang akan datang juga berkurang jumlahnya padahal semua bahan tersebut sudah disimpan di frezer lain, bukan frezer dapur. Astagfirullah....Kemana lenyapnya masakan itu, pikirku tak habis mengerti juga.

Yang sering komplain dengan kejadian ini adalah para pekerja lain, mereka menuduh Bibi tak membuat masakan untuk makan mereka. Tentu saja Bibi berkilah bahwa ia sudah masak. Hingga pertengkaran antara Bibi dan pekerja lain menjadi runcing dan mereka mengadu kepadaku tentang makanan yang tak pernah ada di lemari makan.

Sungguh pusing aku dibuatnya, karena memang kulihat sendiri Bibi menyiapkan banyak masakan, namun masakan tersebut menjadi cepat sekali habisnya. Bahkan sebelum pekerja lain sempat makan. Sungguh membingungkan.

Nah, yang paling membingungkan lagi, kerap kudengar Bibi berbicara dengan seseorang di tengah malam, namun saat kudatangi Bibi nampak kaget dan tak kutemukan seorangpun lawan bicara Bibi tersebut. ”Lho, Bibi tadi ngobrol sama siapa? Kok sendiri?” tanyaku sambil celingukan mencari lawan bicara Bibi. ”Ah, ngomong sendiri saja bu,” ujarnya seraya menghindar dan masuk ke dalam kamarnya.

Sejak kejadian aneh tersebut, aku jadi penasaran dan kerap mengintip ulah Bibi jika malam hari. Kuperhatikan Bibi selalu keluar kamarnya selewat pukul 24.00 dan mulai berbicara dengan seseorang yang tak dapat kulihat wujudnya. Aku merinding melihat kejadian ini. Hiiyy...

Kebetulan sekali, aku bertemu dengan seorang kawan lama yang memiliki kemampuan supranatural. Maka kuceritakan kejadian aneh di rumahku. Pak Wandi nama supranatural tersebut mengatakan bahwa Bibiku memelihara jin yang harus diberinya makan secara rutin. Makanya semua stok makanan di rumah cepat sekali habis, bahkan menghilang juga. Aku tertegun tak mampu membayangkan bahwa Bibiku memelihara jin. Pak Wandi juga menganjurkan supaya aku memecat Bibi secara halus, agar ia tak mempunyai dendam kepada keluargaku.

Maka dengan dalih aku akan berangkat ke luar kota dalam kurun waktu lama bersama keluarga, kuminta Bibi berhenti dulu sembari kuberi sejumlah pesangon. Tentu saja Bibi bilang tak dapat menungguku lama, karena ia harus mencari nafkah, maka kupersilahkan Bibi untuk mencari pekerjaan lain.

Tepat sehari setelah keberangkatan Bibi, semua keanehan di rumahku menghilang. Se

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org