| Dari Pameran Bentang Karya Seni Rupa Se-Riau 2008 |
| Minggu, 09 Maret 2008 | |
|
Perupa Riau Mencari Identitas Personal
Oleh Ady Rosa Riau termasuk salah satu wilayah yang memiliki cukup banyak perupa, dan bisa dikatakan sudah pada tingkat penyebaran merata di kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Riau. Ini terlihat dalam ajang pameran seni rupa yang bertemakan “Spirit Seni Rupa Riau dalam Identity Personality”, sebuah tema yang bisa menggugah pada masing-masing perupa. Sehingga diharapkan dapat memunculkan penyadaran diri, bahwa sebuah karya mesti punya cap jati diri. Kesadaran memiliki identity personality oleh perupa Sumatera, sudah dimulai ketika lahirnya modernitas seni rupa melalui pendidikan Kweek School di Bukitinggi pada tahun 1856, salah seorang alumninya adalah tokoh pelukis naturalistik Indonesia, Wakidi. Sejak itu terjadi pergeseran dari nilai-nilai estetik tradisional –komunal, menjadi estetik modernitas– individual. Sejak itu perubahan ini menjadi untaian benang merah, yang berimbas sampai saat ini, termasuk dalam perjalanan seni rupa Riau. Identity personality, suatu tuntutan bagi perupa yang mengarah kepada ideal personality. Sebagai keinginan di mana setiap pikiran, tindakan, dan hasil yang diinginkannya dapat diwujudkan melalui eksplorasi kerupaan. Semua itu mesti ditopang oleh ketajaman intelektualitas, ketika berhadapan dengan ideoplastis. Dalam ajang pameran dengan tema “Spirit Seni Rupa Riau dalam Identity Personality”, yang diselenggarakan dari tanggal 29 Maret sampai dengan 6 Juni 2008 di Selasar Idrus Tintin Pekanbaru, didapat berbagai persoalan yang dihadapi perupa Riau, ketika harus membangun eksistensinya. Banyak yang masih ragu dan malu-malu ketika harus menyatakan “ke-aku-an”, dalam bahasa rupa yang dibangunnya. Pada tataran ini diperoleh gambaran, bahwa ada perupa yang punya peningkatan dalam penggarapan teknis, seperti karya Adi Bagong bertajuk Jelatik (Harboard cut, tinta Cina, 83 x 58 cm). Karya grafisnya memberikan nuansa keliaran garis ekspresif, sehingga menjadi greget. Tajuk tersebut memberi gambaran tentang kekondisian masyarakat urban, yang senada dengan kesibukan di tepian sungai Siak lewat “Jelatik”-nya. Begitu juga dengan karya-karya Kodri Johan, Metrizal, Rasyid Tendri A’llak, Roni Sarwani, Rusli, Subijanto, dan Yudi Ys. Ada juga yang mulai matang, dengan pengangkatan tajuk pada karyanya. Pembentangan tajuk oleh perupa Riau, menyiratkan adanya kemampuan ketika mengangkat objek garapan ke dalam lukisannya. Tajuk-tajuk yang disodorkan perupa Riau dalam pameran kali ini, cukup banyak yang mulai “menggigit” dengan berbagai interpretasi. Ini bisa dilakukan manakala perupa memiliki ketajaman intelektualitas, ketika berhadapan dengan objek yang ingin diangkatnya. Sehingga terjadi balance antara tajuk dengan bentukan rupa yang dibangunnya, disini perupa Riau mulai pandai menyiasatinya, di antaranya karya Indra Mayeldi yang bertajuk Usia Sekolah. Umumnya tajuk-tajuk yang diangkat sebagai persoalan kekondisian masyarakat urban dan lokalitas, yang dipotret perupanya secara mata batin. Di mana kekondisian sosial yang menerpa masyarakat pinggiran, menjadi bagian dari ketajaman perupa ketika masuk kedalam wilayah bentukan humanitis. Seperti tajuk Bersahabat karya Allen Rasidin, Red Board karya Rusli, Mencari Nafkah karya Yulianto, Kami Juga Anak Bangsa karya Metrizal, dan beberapa karya perupa lainnya. Semua tajuk yang dibangun melalui realistik, sehingga memperlihatkan kekondisian sosial lewat eksplorasi yang pas. Realisme yang digunakan perupa Riau dalam memotret kekondisian sosial, menjadi sangat tepat. Latar lahirnya corak ini di Perancis pada abad 18, dengan tokohnya Gustave Courbert. Ketika itu yang disebut lukisan oleh pemerintah Kerajaan Perancis Louis XIV, adalah Neo Klasisisme. Sebuah corak yang mengajarkan, bahwa seni adalah untuk kebesaran kerajaan dan keagungan raja. Sehingga yang boleh tampil hanya objek-objek yang indah dan keagungan. Sementara ojek-objek tentang kehidupan masyarakat bawah, “diharamkan” oleh pemerintah. Nuansa pemberontakan dalam nilai-nilai estetik, terjadi ketika Courbert melukiskan masyarakat bawah, seperti tajuk Tukang Batu dalam lukisannya. Ini sebuah lukisan yang dianggap menyimpang dan tidak lazim kala itu, sebab berbeda dengan neo klasisisme yang menampilkan lukisan-lukisan tentang keluarga kerajaan dan bangsawan. Corak realisme menjadi sesuatu yang klop, ketika melukiskan tentang kondisi sosial yang timpang, sehingga dapat menggugah intuisi perupa. Tidak terkecuali para perupa Riau ketika berhadapan dengan persoalan-persoalan masyarakat yang termarjinalkan. Realisme memberi sumber inspirasi bagi perupa Riau, dalam penggarapan karya-karyanya. Ini bukan “menjual” kemiskinan lewat seni lukis, tetapi ketajaman intelektualitas perupa, ketika melihat kondisi kekinian yang dihadapi masyarakat dan disuarakan lewat mata batin sebagai bagian dari humanistik estetik. Pada tajuk-tajuk lokalitas budaya, yang membuat miris perupa Riau seperti diperlihatkan dalam karya Adi Lukis bertajuk Duano, Anton Moridas dengan tajuk Merana (Illegal Logging”, Gusti ZS bertajuk Mak Yong Mendu, Indra Mayeldi dengan tajuk Usia Sekolah, serta beberapa tajuk lainnya. Lokalitas budaya menjadi sorotan perupa, ketika budaya lokal mulai termarginalkan. Apa yang digambarkan perupa tentang kekondisian lokalitas budaya kini, merupakan catatan bahasa rupa dan pendokumentasian budaya, yang kelak dikemudian hari menjadi sesuatu yang sangat berarti. D isamping itu ada yang mulai meniti dengan teknis-teknis garapan baru, sebagai wujud kesadaran perupa ketika harus memiliki identity personality. Ini merupakan sesuatu yang sangat penting, ketika perupa harus membahasakan karyanya sebagai pencapaian eksistensinya. Perjalanan kerupaan untuk sampai kepada jati diri sejati, banyak faktor yang mesti dijalani diantaranya konsistensi dan kontinuitas dalam membangun kerupaan. Lewat tahapan perjalanan proses kreatif, perupa mesti menggali dan mengeksplorasi objek yang hendak digarapnya, sehingga perupa dapat mengasah mata batin sebagai ketajaman intelektualitas dan melahirkan kepekaan intuisi ketika berhubungan dengan persoalan yang dihadapi perupa. Dengan demikian akan ditemui persoalan-persoalan kejatidirian, dimana pada gilirannya akan sampai pada satu titik “aku” adalah “aku” yang ditebar pada karya-karyanya. Iidentity personality bagi perupa Riau menjadi sesuatu yang harus dimiliki, ketika punya keinginan masuk dalam wilayah percaturan seni rupa nasional maupun internasional. Di mana karya-karya perupa Riau pada gilirannya dapat dibaca kebahasaannya, sebagai karya yang memiliki indeks sehingga menjadi culture universals.*** Ady Rosa adalah Kurator Bentang Karya Seni Rupa 2008, dosen Seni Rupa Universitas Negri Padang (UNP) dan dosen tamu Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakrta. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





