• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Sabtu, 06 September 2008 || 5 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportAncaman Kudeta

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaUrip 20 Tahun Penjara

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Proses Kreatif Husnu Abadi
Minggu, 09 Maret 2008
Oleh UU Hamidy
Dengan memperhatikan peristiwa (keadaan), ruang dan waktu yang menjadi medan kreatif oleh Husnu, maka kita dapat mempelajari bagaimana proses kreatif yang kira-kira telah berlangsung dalam puisi Husnu. Hasil pengamatan terhadap medan kreatif itu, dapat mencatat ada 5 langkah penting dalam proses kreatif Husnu.

Gambaran medan kreatif yang demikian memperlihatkan bahwa potensi perasaan, pikiran dan imajinaai berada dalam keadaan yang relatif berimbang dalam proses kreatif Husnu. Inilah yang membuka peluang sajak-sajak Husnu punya metafor (lambang dan kiasan) yang mudah dikenal sasarannya. Sebab lambang dan kiasan tidak banya ditampilkan sebatas imajinasi yang bisa berada di awang-awang yang menjadi permainan kata dalam puisi. Imajinasi Husnu tidak demikian. Imajinasi Husnu dipandu oleh pikiran yang memberikan renungan pada metafor. Kemudian diperhalus oleh sentuhan perasaan, sehingga metafor tampil dalam rangkai puisi dengan pesan yang cemerlang. Kenyataan ini juga memberi tanda, bahwa potensi kreatif Husnu akan mudah bengkit, jika ada peristiwa yang mampu menyentuh perasaan, peristiwa yang melawan ajaran agama serta peristiwa yang mengundang duka. Itulah sebabnya pada satu sisi puisi Husnu telah memberikan reaksi terhadap peristiwa yang berlaku. Sedangkan pada sisi lain memberikan kenangan sebagai catatan pribadi, yang akhirnya menjadi bagian dari renungan kebidupan.


Semangat Puisi Husnu Abadi

Dengan memperhatikan proses kreatif dan medan kreatif puisi Husnu sebagaimana terbentang di atas, kita dapat lagi merasakan semangat puisi Husnu, Tentang semangat puisi ini, Husnu secara tidak langsung telah membuat petanya melalui kumpulan puisi Lautan Kabut.  Dalam kumpulan puisi itu, Husnu telah membuat paling kurang 3 semangat atau nafas puisinya.  Semangat itu relatif bertahan dalam dua kumpulan sajak berikutnya. Adapun semangat puisi Husnu ialah:

Protes terhadap kezaliman: sajak “Anak-anak dari Koto Panjang” dalam Lautan Kabut;  sajak “Anak-anak Palestina” dalam Lautan Kabut;  Nirmala” dalam Lautan Zikir;  “Orang-orang dan Hutan” dalam Lautan Zikir; dan  “Orang Rimba” dan “Orang Mahato” dalam Lautan Melaka. Kenangan (catatan pribadi dalam pengembaraan);  “Mengenang Buya Aidarus Gani” dalam Lautan Kabut; “Perjalanan Menuju Gobah” dalam Lautan Zikir;  “Tanah Kelahiran” dalam Lautan Zikir; “Kenangan Buat Bujang Mat” dalam Lautan Melaka; dan “Hindu Melaka” dalam Lautan Melaka.

Renungan kehidupan: sajak “Lautan Kabut” dalam Lautan Kabut; “Doa Malam” dalam Lautan Kabut; “Di Kakimu” dalam Lautan Kabut; “Orang Tercinta” dalam Lautan Melaka; dan “Yang Mana” dalam Lautan Zikir.

Tentu saja ada sajak berisi campuran semangat itu.

Adanya semangat protes dalam puisi Husnu dapat diterangkan dari 2 arah. Pertama, Husnu sebagai ahli hukum, niscaya punya sentuhan terhadap berbagai perbuatan yang tidak adil. Tetapi ini tidak cukup, sebab betapa banyak sarjana hukum justru tidak punya rasa keadilan. Malah sebaliknya, berbuat zalim dalam perkara yang dihakiminya. Ini terjadi karena  sarjana hukum itu hanya punya ilmu tentang hukum buatan manusia, yang sebenarnya hanya dibuat untuk kepentingan hawa nafsu. Mereka tidak punya ilmu tentang hukum Allah, yang tidak dapat diamandemen oleh siapapun juga. Mereka tidak sadar, bahwa yang berhak menetapkan hukum hanya Allah, yang tidak punya kepentingan apapun dalam hukum yang ditentukan-Nya sehingga tidak ada hukum yang lebih baik dari hukum Allah.

Sebab itu, reaksi Husnu terbadap kezaliman itu niscaya berpijak kepada akidahnya yang kokoh, sehingga dengan semangat keimanan yang terpancar dari hatinya, dia tak bisa diam begitu saja melihat kezaliman atau kemungkaran itu. Walaupun dia tak dapat mencegah kemungkaran dengan tangannya (kekuasaannya) namun Husnu telah membantah dengan puisinya. Meskipun Husnu merasa malu, hanya dapat membela dengan kata-kata.

...................
Tak ada yang dapat kulakukan untuk membelamu, Nirmala
Ya, aku malu, membelamu banya dengan kata-kata
Tak lebih tak kurang
(Sajak “Nirmala”)

Sajak kenangan muncul, karena Husnu telah berkelana ke mana-mana serta menysksikan apa-apa yang terjadi di tempat itu. Maka, pada tempat-tempat tertentu telah bangkit potensi kreatif Husnu membuat catatan untuk mengenang tempat dan peristiwa yang terjadi. Kita memang disuruh oleh Allah mengembara di muka bumi ini. Tapi bukan berkelana untuk mengumpulkan harta dunia atau untuk memuaskan hawa nafsu. Pengembaraan itu untuk memperhatikan betapa kebesaran dan kekayaan Allah. Kita dapat menyaksikan dalam pengembaraan bagaimana kebaikan dan kejahatan oleh ulah tangan manusia. Semuanya dapat dijadikan iktibar, peringatan dan catatan hidup yang bermakna.

oh, senja hari ditepi Kahayan
matahari mengintip dari jendela barat
menyaksikan barisan rumah yang terapung-apung
sebentar naik sebentar turun
mengikuti irama negeri ini
yang tak habis dirundung mendung

    (Sajak “Kahayan Suatu Sore”)

Selanjutnya, tiap peristiwa yang berlaku di mana saja yang pernah disaksikan atau diketahui, telah menjadi bacaan hidup oleh Husnu. Berbagai peristiwa itu, terutama peristiwa kematian yang memberi peringatan tanpa bicara, akan menyentuh batin untuk merenungkannya. Begitulah, banyak sekali peristiwa yang menarik, yang telah direnungkan oleh Husnu, lalu dirangkai dalam sajak.

Yang mengejar dunia
Dan lupa menebar salam
Yang mengejar tahta
Dan lupa menanam keadilan
Yang mengejar kemegahan
Dan lupa menghapus penyakit dendam
(Sajak “Malam Seribu Bulan”)



Nama yang mana lagikah yang akan kuhafalkan selain nama

nama yang telah terekam dalam hidupku dan dalam matiku

Ya Allah
Ya Rahman
Ya Allah
Ya Rahim

    (Sajak “Yang Mana” )

Demikianlah, Husnu Abadi dalam pengembaraannya di muka bumi telah menyaksikan berbagai peristiwa pada setiap ruang dan waktu. Berhadapan dengan itu rohaninya gelisah. Hatinuraninya terpanggil. Dia sadar hidup yang diberikan Allah harus dihargai, jangan digunakan dengan sia-sia. Dunia bagaikan ladang dan akhirat tempat menuai. Maka tampillah potensi kreatifnya. Terbentanglah sajak.

Sajak tiga lautan: lautan protes, lautan kenangan dan lautan renungan.***



UU Hamidy adalah dosen sastra senior dan kritikus satra Riau. Bermastautin di Pekanbaru.
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org