| Au-delà de cette limite votre ticket n’est plus valable |
| Minggu, 09 Maret 2008 | |
|
Oleh HASAN JUNUS NOVEL Au delà de cette limite votre ticket n’est plus valuable bukanlah karya Romain Gary yang paling puncak. Akan tetapi sebagai salah-satu mata rantai rangkaian karya seorang pengarang besar, sifat karya itu unik yaitu tak dapat disamakan begitu saja dengan karya-karyanya yang lain. Atau seolah-olah itu karya orang lain.
Les Couleurs du jour karya tahun 1952 yang kalau diterjemahkan ke bahasa kita mungkin menjadi ‘’Warna-warna Hari’’ ialah bancuhan sebati antara sinisme dan humor dan tragedi berlatarkan pesta pora di sepanjang jalan Kota Nice. Demikian juga novel karya tahun 1967 yang berjudul La Danse de Gengis Cohn (‘’Tarian Djengis Cohn’’) yang kocak dan sekaligus mendebarkan. Tragedi dan sinisme biasanya tidak ditempatkan bersebelahan dengan humor. Akan tetapi justru inilah yang dilakukan oleh Romain Gary. Seandainya aku diizinkan menyadur karya ini maka kuceritakan bahwa di Singapura aku berkenalan dengan seorang saudagar Jepun yang dulu menjadi anggota Kempeitai. Ia bercerita kepadaku bahwa ia dirasuki dan digertak serta disiksa jiwanya oleh roh seorang Melayu yang pernah disiksanya. Dalam La Danse de Gengis Cohn tentu saja tokohnya bukan saudagar Jepun tapi mantan anggota pasukan Nazi Hitler dan seterusnya, dan selanjutnya. Nama-nama Rusia yang berkiprah dalam kesusastraan Perancis bukan hanya Romain Gary saja; ada Elsa Triolet dan Nathalie Sarraute serta Arthur Adamov untuk menyebut beberapa nama. Elsa Triolet, seorang pengarang roman dan cerita-pendek isteri penyair Perancis terkemuka Louis Aragon lahir di Moskwa tahun 1896 dan meninggal di Saint-Arnoult-en-Yvelines tahun 1970. Nathalie Sarraute lahir di Ivanovo. Rusia, sebagai Nathalie Ilyanova Tcherniak 18 Juli 1900, salah-seorang pengazas gerakan dan aliran Nouveau roman. Arthur Adamov, seorang pengarang avant-garde Perancis dan pengazas Teater Absurd, lahir di Kislovodsk, Rusia, 23 Agustus 1908 dan meninggal-dunia di Paris 16 Maret 1970. Orang-orang yang berasal dari luar kebudayaan Perancis memang cukup banyak yang berkarya dengan menggunakan bahasa Perancis. Dalam hal ini para pengarang dari Maroko, Aljazair, Tunisia dan lainnya tidak masuk hitung karena mereka berasal dari negeri yang mempunyai hubungan dengan Perancis, sebagai bekas jajahan yang pendidikannya memakai medium bahasa Perancis. Karena itu nama seperti Yasmine Ghata yang berasal dari Turki tapi lahir di Perancis tahun 1975 menjadi penting dalam hubungan ini. Karya Yasmine Ghata sudah masuk ke negeri kita dengan diterjemahkannya La nuit des calligraphes (Fayard, Paris, 2004) menjadi Seniman Kaligrafi Terakhir (Serambi, Jakarta, 2008 bekerjasama dengan Forum Jakarta-Paris) oleh Ida Sundari Husen. Karya Yasmine Ghata yang lain yang mengisahkan tentang hubungan emosional antara kecapi pusaka sang bapa dengan anak-anaknya dalam karya yang berjudul Le târ de mon père (Fayard, Paris, 2004). Hadiah kesusastraan bergengsi Perancis Prix Goncourt 1956 diraih Romain Gary dengan karyanya yang berjudul Les Racines du ciel yang kalau diterjemahkan ke bahasa kita mungkin menjadi ‘’Akar-akar Langit’’. Karena punya Kembaran bernama Émile Ajar maka orang(-orang) ini dua kali berhasil meraih Hadiah Goncourt. Jorge Luis Borges mempunyai kembaran sampai-sampai ia berkata dalam eseinya yang sangat singkat ‘’Borges dan Aku’’, ‘’Aku tak tahu siapa di kami yang menulis halaman ini.’’ Romain Gary pun punya Kembaran (bukan saudara kembar). Seperti Romain Gary maka Kembarannya juga mrngarang karya-karya persis seperti yang dibuat Romain Gary. Nama kembarannya itu ialah Émile Ajar yang berhasil meraih Hadiah Goncourt 1975 dengan karyanya La Vie devant soi. Karya Émile Ajar yang lain ialah L’Angoisse du roi Salomon (1979; ‘’Kecemasan Raja Solomon’’). Karya ini tercatat sebagai karya keempat yang memakai nama Émile Ajar sebagai pengarangnya dan bukan nama Romain Gary. Karya-karya sebelumnya yang memakai nama sang Kembaran atau nama samaran itu terdiri dari Gros-Câlin (1974), La Vie devant soi (1975) dan Pseudo (1976). Baru setelah Romain Gary meninggal-dunia pada tahun 1980 siapa sebenarnya Émile Ajar itu baru terbuka misterinya. Saya tak mendapat informasi bagaimana sikap Panitia Hadiah Goncourt ketika memberikan hadiah itu kepada Émile Ajar pada tahun 1975 untuk La Vie devant soi padahal pada tahun 1956 hadiah itu diraih Romain Gary untuk Les Racines du ciel. Akan lebih seru apabila diketahui bahwa Kacew semasa anak-anak pernah pula mengarang sajak dan cerita anak-anak dalam bahasa Rusia. Maka bersatulah tiga nama yang terdiri dari Kacew dan Émile Ajar dan Romain Gary. Si pengisah dalam L’Angoisse du roi Solomon bernama Jeannot, seorang supir yang secara otodidak terus menerus meningkatkan pengetahuanya. Suatu hari ia bertemu dengan Solomon Rubinstein, lelaki berusia 84 tahun yang gagah, mantan penguasa perusahan pantaloon dan pengazas organisasi para pekerja. Jeannot yang cerdas, naïf dan penuh humor menjadi pendamping orang yang disebut Raja Solomon, lelaki tua gagah yang senantiasa cemas dan selalu membantu orang yang kesulitan konon untuk mempermalukan Tuhan. Sampai-sampai Jeannot berkata, ‘’Aku tertular kecemasan Raja Solomon karena itu aku terus menrus ketawa ha ha ha ha ha!’’ Salah-satu tugas Jeannot atas suruhan Raja Solomon ialah mengantarkan sekeranjang buah-buahan kepada seorang penyanyi wanita yang bernama Cora Lemenaire yang pernah dicintai oleh sang raja yang sepanjang hidupnya penuh dengan cemas dan kekhawatiran. Kedua orang yang kesepian itu, seorang lelaki tua gagah kaya raya dan seorang penyanyi dapat disatukan oleh kepiawaian seorang mantan supir yang tiada berhenti belajar menambah ilmu. Akan tetapi setelah kebahagiaan itu, setelah karya yang mengagumkan itu Romain Gary @ Émile Ajar membunuh diri.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





