| Membunuh Waktu |
| Minggu, 09 Maret 2008 | |
|
Mila Duclun Duduk di antara meja tanpa kursiMataku tersangkut pada secangkir kopi Dongeng tentang nelayan yang gaduh Di putaran senja Membunuh waktu Di ujung minggu malamku Aku perawan yang diperam kesunyian Menetak pandang dan menghitung Tiap jarum jam Kalau-kalau, ada sebuah pesan dari Tuhan Di pinggir laut sana Kerlap-kerlip lampu rumah-rumah panggung Menghadirkan nyanyian laut Begitu syahdu, begitu pilu Bagai luka-luka yang tak henti di cerca ombak Tanjungpinang, 250208 Akan Kubongkar Hatiku Ada sebuah rahasia Di atas padang bukit dan laju surya Biduk angin membungkus pesan Kudaku berlari kencang Lahar jiwaku sebentar terbongkar Wahai tuan, Ingin kusampai parasmu Biar kubungkus dengan dua telapak tanganku Dan kutenung matamu, Akan kubongkar hatiku Yang senyap-senyap mencintaimu Tanjungpinang, 250208 Anggap Saja anggap saja aku kembali ke Ihuru, ibu biar seribu waktu tak bertemu kita masih bersua dalam kubang rindu mimpi-mimpi malammu anggap saja terali bui ini kembaraku atau sibuk kerjaku bila nanti purnama tiba kan kujilati dindingnya, kupanjati sudutnya meski harus bergelut dengan laba-laba atau cicak-cicak penjara dan akan kuukir ruang baruku, ibu menjadi atap rumah kita dengan semua senyumnya bila rindu membesukku tiba-tiba aku tak perlu ongkos tuk membayar nelangsa Tanjungpinang, 170807 Si Veronica aku benci kepada veronica yang selalu bicara dalam selularmu itu, kekasihku bukankah lidahmu t’lah bersepakat tak ada wanita dalam hidupmu kecuali aku? sungguh, aku benci si veronica yang berjalan meliuk menggodamu hingga aku di buat buta cemburu gila monyet kau veronica, turunkan rokmu! sebelum kubanting selularku Malang, 200607 Mila Duclun adalah penyair perempuan. Bukunya yang sudah terbit adalah Perempuan Bersayap. Tinggal di Tanjungpinang. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



