| Menunda Terjadinya Kiamat |
| Minggu, 09 Maret 2008 | |
|
Jika kita tidak melakukan usaha apa-apa untuk perbaikan lingkungan hidup, maka kiamat akan terjadi pada tahun 2100 (Limits to Grow,1972)
Laporan Andi Noviriyanti, Pekanbaru Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya Donella H Meadows, Dennis L Meadows, Jorgen Randers dan William W Behren III, dalam makalahnya berjudul Limits to Grow meramalkan kiamat akan terjadi pada tahun 2100. Pernyataan yang disampaikannya di pertemuan Gerakan Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Movement) yang diprakarsai oleh Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) di Stockolm pada Juni 1972 menegaskan bila umat manusia tidak melakukan usaha apa-apa untuk menghentikan kerusakan lingkungan maka dipastikan kiamat itu terjadi pada 92 tahun mendatang. Pernyataan yang dikemukakan Meadows dan kawan-kawan itu bukanlah hasil ramalan seperti yang dikemukakan Mama Loren yang hanya berdasarkan ramalan bintang. Namun ramalan mereka adalah ramalan yang berbasis ilmu pengetahuan. Mereka menyimpulkan hal itu setelah melakukan kajian data penelitian selama 70 tahun, yakni mulai tahun 1900 hingga 1970. Mereka menggunakan lima variabel yang diuji dengan asumsi pertumbuhan eksponensial. Kelima variabel tersebut adalah jumlah populasi dunia, industrialisasi, polusi, produksi makanan dan pengurasan sumberdaya. Hasilnya menunjukkan pada tahun 2100 lah batas kemampuan bumi mendukung aktivitas umat manusia. Pada tahun 1992, saat berlangsungnya konferensi Rio de Janeiro atau sering pula disebutkan dengan KTT Bumi, Meadows dan kawan-kawan kembali mengeluarkan pernyataan yang dikenal dengan Beyond the Limits, bahwa jika manusia melakukan sesuatu bagi perbaikan lingkungan maka kiamat bisa diundur. Masih akan banyak generasi yang bisa hidup pada tahun-tahun berikutnya. Meskipun tidak bida dipungkiri kiamat pasti akan tetap terjadi. Ramalan Meadows dan kawan-kawan sebenarnya tidak bisa lagi dianggap isapan jempol. Masyarakat dunia telah lama diingatkan tentang kehancuran dunia sebagai ulah umat manusia. Dimulai dari tulisan Rachel Carson berjudul Silent Spring (kesunyian di musim semi) pada tahun 1962. Perempuan tamatan biologi kelautan itu menjelaskan bahwa penggunaan pestisida telah membuat tidak ada lagi kicauan burung di musim semi. Itu sebagai dampak dari penggunaan pestisida, yang telah membuat tidak terbentuknya cangkang pada unggas. Setiap kali akan terbentuk, cangkang itu luruh. Berbagai bencana lingkungan juga telah memberi peringatan yang sama agar warga dunia berubah. Agar kiamat-kiamat kecil seperti pencemaran limbah mercuri (Hg) di Teluk Minamata yang menelan korban ribuan jiwa manusia tidak terulang lagi. Begitu juga ledakan pembangkit listrik bertenaga nuklir Chernobyl, ledakan pabrik Union Carbide di Bhopal, pencemaran Teluk Valdez oleh tumpahan minyak mentah dan lainnya sebagainya. Peringatan yang sama juga telah diberikan untuk Indonesia. Lewat lumpur lapindo, Bandung lautan sampah, tragedi Leuwigajah, pencemaran Teluk Buyat, dan tragedi banjir bandang yang berlangsung dimana-mana. Bahkan di Riau peringatan yang serupa juga telah diberikan. “Baru dua hari yang lalu Riau habis-habisan memerangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Rokan Hilir dan Dumai. Namun saat karhutla telah padam karena bantuan hujan, di belahan bumi Riau yang lain, tepatnya di Kabupaten Rokan Hulu terjadi banjir,” ungkap Nursiwan Taqim, Asisten Deputi Urusan Edukasi dan Komunikasi Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) awal pekan lalu dalam sebuah seminar. Abrasi dan intruisi air laut juga kini menjadi wajah Riau dibeberapa areal tepian pantai. Sebagai dampak menghilangnya tumbuhan pantai seperti bakau di kawasan tersebut. Akibatnya perumahan warga beransur-angsur masuk laut. Malah kini di Indragiri Hilir kini ada kecemasan kebun kelapa warga yang menguning akibat intruisi air laut. Saat ini ramalan Meadows dan kawan-kawan masih jadi tanda tanya besar. Apakah umat manusia mau menundanya atau malah mempercepatnya? Namun yang jelas menurut dosen lingkungan Universitas Indonesia Budhi Soesilo dan Nusirwan Taqim, hampir semua orang telah tahu tentang bencana lingkungan dan bagaimana mengantisipasinya. Tapi kebanyakan diantara mereka lebih banyak membiarkannya dari pada berbuat sesuatu. “If we do nothing, Kiamat itu akan terjadi tahun 2100,” ujar Budhi Soesilo.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



