| Di persimpangan Teleju |
| Minggu, 09 Maret 2008 | |
|
Di sebuah ujung jalan tak beraspal dimulailah sebuah kompleks prostitusi yang amat terkenal di Kota Pekanbaru bernama Teleju. Lokasinya secara administratif berada di Jalan Sumber Sari, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru. Laporan Andi Noviriyanti, Monang Lubis, dan Ekka PN, Pekanbaru Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya Dari pusat kota hanya perlu waktu kurang dari 15 menit untuk mencapai tempat itu. Dengan jarak hanya berkisar 8-10 kilometer dan jalanan yang sudah beraspal -kecuali beberapa ratus meter menjelang tempat lokalisasi - membuat tempat itu begitu muda dicapai. Lokasinya yang seakan sudah di depan mata itu, membuat keinginan Pemerintah Kota Pekanbaru, Anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kota Pekanbaru, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pekanbaru, dan unsur lainnya ingin mengenyahkannya dari Kota Bertuah. Namun, sebelum membicarakan tentang rencana penghapusan lokalisasi itu, marilah kita bersama-sama melihat ada apa di sana? Teleju, sebenarnya sama seperti perkampungan umumnya. Berisi deretan rumah yang membentang di pinggir-pinggir jalan saling berhadapan. Persis gambaran kompleks perumahan. Di tempat itu ada anak kecil yang bermain sama seperti permainan anak-anak di kampung lainnya. Ada juga gambaran anak sekolah yang pergi dan pulang sekolah. Ada juga kaum tua baik perempuan maupun laki-laki yang lalu lalang berjalan melakukan aktivitasnya. Pedagang ice cream dan pedagang asongan lainnya juga tampak hilir mudik. Sejumlah kedai barang harian dan warung nasi juga tampak berdiri di antara rumah-rumah itu. Para penjual di warung itu banyak juga yang memakai jilbab. Jadi secara umum, tidak ada yang berbeda dari Teleju dengan kampung kebanyakan. Perbedaannya hanya terletak karena di tempat itu ada ratusan wanita muda yang kebanyakan bertubuh gempal. Mereka kebanyakan duduk di teras rumah atau di dalam ruang tamu rumah dengan cara berselonjor atau duduk bermalas-malasan. Pakaian mereka sedikit minim, umumnya memakai tank top dipadu celana atau rok pendek sepaha. Akibatnya beberapa bagian tubuh mereka yang sebenarnya sensitif untuk dilihat sangat muda kelihatan meski dari kejauhan. Di tangan mereka, tergenggam sebuah hand phone yang mereka otak-atik. Rata-rata hand phone yang mereka pakai adalah hand phone berkamera yang sedang tren. Selain memegang hand phone, di jari jemari tangan mereka juga terselip rokok yang tengah menyala. Sesekali bibir mereka yang menghisap rokok itu berganti dengan meneguk minuman bir. Pemandangan itu menjadi wajah Teleju di siang hari. Ketika malam sudah menjelang, kawasan itu berupa seperti tebaran night club. Penuh dengan cahaya remang-remang dan kerlap kerlip lampu warna warni yang dipasang di ruang tamu rumah. Musik dangdut hingga full house menggema di mana-mana dengan bantuan loudspeaker. Di saat itulah aktivitas wanita pekerja seks komersial (PSK) dimulai. Malam sekitar pukul 22.00–02.00 WIB menjadi jam puncak kedatangan para tamu. Tentang status para tamu, pekerja seks maupun papi mami (mucikari) mereka tidak ambil pusing. Yang jelas di antara mereka ada siswa sekolah, mahasiswa, pekerja, dan entah apa lagi. “Wah nggak tahu tuh status mereka apa, soalnya nggak pakai seragam. Tapi ada yang muda dan ada yang tua,” ungkap Dhatar (52), Ketua RT 02/RW 15, sekaligus juga mucikari bagi sekitar enam wanita PSK yang berdiam di rumahnya.. Hiruk pikuk kehidupan malam di Teleju, seolah tidak terpengaruh dengan kembali mengemukanya rencana penutupan lokasisasi tersebut. Bahkan hal itu diungkapkan langsung Wali Kota Pekanbaru Herman Abdullah pertengahan Februari lalu untuk membagikan akte kelahiran gratis bagi 240 anak di kawasan itu. Pada kesempatan tersebut orang nomor satu di Kota Bertuah ini menegaskan Teleju harus berubah. ‘’Kita ingin merubah image lokalisasi Teleju dari selama ini terkesan tempat hitam. Kita ingin memutihkan lokalisasi ini dengan rencana relokasi atau realokasi. Saya pikir lebih tepatnya realokasi dengan dipikirkan bagaimana mengubah tempat ini menjadi tempat yang lebih baik dengan dibangun kawasan modern,'' ujar Herman Abdullah. Langkah pertama menuju ke arah sana, sebuah tim pengkajian pun telah dibentuk untuk persiapan memutihkan Teleju. Tim ini pada langkah awal mengkaji program apa yang akan dibuat untuk menyelamatkan manusia yang kehidupannya bergantung dengan Teleju. ''Kita benahi manusianya dulu. Persoalan tutup menutup itu urusan wali kota. Kita ditugasi meyiapkan langkah-langkah apa yang perlu dalam pembinaan mereka. Termasuk keterampilan, pembinaan sosial dan bimbingan mental,'' ungkap Kasubdis Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial dan Pemakaman Kota Pekanbaru Erwin Kesuma, dimana instansinya termasuk dalam tim pengkajian tersebut. Selain tim pengkajian, kerja sama semua pihak juga diperlukan untuk menyukseskan rencana ini. Karena menurut Ketua Komisi I DPRD Pekanbaru Sondia Warman, di Jakarta, lokalisasi Kramat Tunggak yang lebih besar dan persoalannya lebih kompleks dari Teleju bisa diubah dengan dukungan semua pihak, termasuk orang yang berkepentingan di sana. Memang, bila semangat itu tidak ada, persoalan-persoalan lain, bahkan bisa diapungkan orang-orang yang berkepentingan dengan Teleju, akan muncul ke permukaan dan lari dari substansi persoalan. Jadi, kembalilah ke hati nurani bersama.(fia) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





