• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Kamis, 28 Agustus 2008 || 26 Syakban 1429 Hijriah
Total SportPerang Saudara

Rabu, 27 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaSoal Mutasi Pejabat, Gubri Bisa Di-PTUN-kan

Rabu, 27 Agustus 2008

article thumbnail

Teleju Setelah Tiga Dekade Lebih
Minggu, 09 Maret 2008
Laporan Andi Noviriyanti, Monang Lubis, Ekka PN, Pekanbaru Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Kisah tentang Teleju sebagai pusat prostitusi Kota Pekanbaru, telah dimulai sekitar tahun 1975 (lebih tiga dekade lalu). Saat ini, penduduk di sana jumlahnya 1.557 orang baik itu penjaja seks komersial (PSK), germo, pedagang dan penduduk yang menggantungkan hidup dari lokalisasi. Menurut data Dinas Sosial dan Pemakaman Kota Pekanbaru pada bulan Desember terdapat 400 PSK bulan Desember. Namun dari Laporan Camat Tenayan Raya pada bulan Februari lalu sewaktu penyerahan akte gratis bagi anak-anak setempat oleh Wali Kota Pekanbaru, terdapat  lebih 600 PSK.

Menurut Dhatar (52), Ketua RT 02/RW 15 yang juga satu di antara mereka yang  pertama yang pindah ke tempat itu, Teleju adalah pindahan dari dua kawasan pelacuran yang berada di tengah pusat Kota Pekanbaru. Satu dari daerah Padang Bulan, Kecamatan Sukajadi dan satunya lagi dari daerah Simpang Empat sekitar Jalan Kopan, tepatnya di belangkang Taman Makan Pahlawan.  

Itulah sebabnya, di Teleju sendiri ada dua kompleks pelacuran. Satu bernama Simpang Empat, persis nama tempat sebelumnya yang berada dekat Jalan Kopan dan satunya lagi bernama Planet. Kawasan pelacuran Simpang Empat berada di RW 16, sementara Planet di RW 15.

Tentang asal mula nama Teleju kerap kali diidentikkan sebagai singkatan dari Teluk Lembu Ujung. Namun hal itu dibantah Swagio (52). Menurut Swagio, putra pertama Margo yang menjadi pemilik lahan di Planet, nama tempat prostitusi itu berasal dari nama sungai yang jaraknya sekitar satu kilometer dari tempat itu. “Nama sungai itu Teleju, anak Sungai Siak,” ungkap pria yang kini memiliki warung barang harian di kompleks Planet.

Pria yang ditemui di depan warungnya itu, mengaku sebenarnya tidak mengetahui dengan pasti bagaimana cikal bakal terbentuknya Teleju. Ia mengaku baru bermukim di tempat itu sekitar tahun 1978. Ketika itu, dia bercerita baru saja pulang dari Jakarta. Saat sampai di rumahnya yang lama, tidak ditemukannya lagi orang tuanya. Orang tuanya ternyata telah pindah ke Teleju. Orang tua Swagio ini bernama Margo. Dialah yang disebut-sebut sebagai pendiri Teleju dan pemilik lahan di kawasan Planet.  

Kala itu, untuk mencapai Teleju, Swagio mengaku harus menggunakan segol (sejenis kapal mesin berukuran kecil bermuatan sepuluh orang). Penggunaan segol ke tempat itu karena memang tidak ada jalan darat ke kawasan itu. Satu-satunya akses menuju ke tempat itu hanyalah jalan air, melewati anak Sungai Siak.

Dalam ingatan Swagio masih terlihat jelas bahwa di situ dulunya layaknya seperti hutan. Banyak sekali ular dan pacet. Malah tempat itu, katanya, tempat lalu harimau. Dia juga melihat dulu kawasan itu tempat bertanam padi dan berkebun karet. Waktu itu katanya sudah ada sekitar 15 rumah di tempat itu.

Setiap tahun, kenang Swagio, kawasan itu selalu kena banjir. Akibat pasang besar di Sungai Siak. Namun sejak Danau Buatan dibangun, kawasan itu mulai tidak sering dihinggapi banjir dan kini telah kering seperti saat ini.  

Teleju yang dulu memang telah berubah sedemikian rupa. Penduduknya mulai banyak dan akses jalan darat juga sudah terbuka. Dan tak bisa dipungkiri denyut nadi dari Teleju memang berasal dari kompleks pelacuran tersebut.

Kompleks itu telah membuka banyak lapangan kerja. Mulai dari tukang ojek, pedagang keliling hingga pedagang menetap. Ada pula tukang cuci baju para PSK hingga sejumlah pekerjaan lainnya yang mendukung aktivitas prostitusi di tempat itu.

Masyarakat di luar komplek pelacuran itu, sebenarnya  juga berasal dari dalam kompleks itu. Menurut Dhatar, banyak dari PSK di dalam komplek itu akhirnya menemukan jodohnya. Terutama para tukang ojek yang sering mencari reizki ke tempat itu. Setelah mereka menikah, biasanya membuat rumah yang  berdekatan dengan komplek pelacuran tersebut.  Itulah yang membuat kawasan itu kini cukup ramai dan telah dibangun berbagai fasilitas umum oleh pemerintah. Misalnya ada sekolah dasar (SD) yang dibangun bagi anak-anak di kampung itu.

***

Penghuni kompleks pelacuran itu, terutama para PSK-nya, di dalam itu seperti sebuah sirkulasi. Ada yang datang dan ada pula yang pergi. Begitulah setiap tahunnya. Maka tak heran, bila wajah-wajah fresh (muda) selalu tersedia di tempat itu. Dhatar mengaku para wanita itu memang sengaja didatangkan dari luar daerah terutama Pulau Jawa. Sekitar 70 persennya, berasal dari Jawa Barat.

Sabaruddin, Ketua RW 15, menyebutkan rata-rata wanita muda itu bukanlah wanita berpendidikan. Kebanyakan mereka buta huruf karena tidak tamat SD. ”Kalau mereka berpendidikan, pasti tidak mau bekerja begituan,” ungkap Syabaruddin yang sudah 11 tahun mendiami tempat itu dan juga telah memperistri seorang PSK yang juga buta huruf.

Itulah sebabnya tidak heran, bila para wanita yang bekerja sebagai PSK di Teleju, bukanlah para wanita yang ditipu atau dipaksa untuk melacurkan diri. Tetapi murni karena kemauan sendiri. Mengingat kalau adapun pekerjaan halal yang bisa mereka lakoni, paling-paling hanya menjadi pembantu rumah tangga. Kalau tidak menjadi penggangguran di kampung atau harus bertani.  Merasa lebih gampang mencari uang dengan jalan menjadi PSK, membuat mereka memilih hidup sebagai pelacur. Setidaknya itu diakui Sari (21), PSK yang berasal dari Jawa Barat dan Tri (21), PSK asal Jawa Tengah.

Tri menuturkan, sebelum mengenal Teleju, dia adalah seorang pembantu rumah tangga di Jakarta. Tiga tahun bekerja sebagai pembantu rumah tangga belum cukup baginya untuk mengumpulkan uang membantu kehidupan ibunya yang sudah janda. Tri anak ketiga. Di bawahnya masih empat orang adik-adiknya yang perlu bantuan biaya sekolah. Atas alasan itulah, Tri cabut dari Jakarta dan pulang ke Jawa Tengah.

Di kampungnya, Tri sudah ditunggu seorang kawan dekat yang telah bekerja di Pekanbaru. Dari temannya itulah Tri mendapatkan informasi tentang pekerjaan di Teleju. Temannya itu pulalah yang menjadi penghubung antara dirinya dengan pihak penampung – dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan sebutan germo. Setelah melakukan kontak via telepon, Tri segera meluncur ke Pekanbaru menggunakan pesawat terbang. Untuk bisa sampai ke lokalisasi, Tri tidak perlu susah-susah mencari taksi. Di sana dia sudah ditunggu seseorang dan dengan menumpang sepeda motor dia dibawa ke rumah barunya.  Resmilah wanita yang baru setengah tahun ini mendiami Teleju menjadi PSK. “Di sini, uangnya lumayan gede. Sebagian saya kirim ke orang tua, sebagian lagi buat ditabung,” ungkapnya.

Di Teleju status PSK ini dibedakan menjadi dua. Status pertama adalah penyewa atau yang sering diistilah sebagai “anak sewa”. Mereka yang memilih status ini lebih bebas dalam mengelola keuangan ataupun kehidupannya tanpa ada intervensi langsung dari sang germo. Ia sendiri yang menyimpan semua uang yang ia dapatkan. Hubungannya dengan germo hanya membayar sewa kamar ataupun uang makan saja.

Sementara status kedua adalah kontrak, atau yang dikenal dengan istilah “anak kontrak”. Biasanya yang memilih status ini adalah PSK baru yang belum berpengalaman sehingga memerlukan seorang “ibu angkat” untuk mengurus segala keperluan hidupnya sehari-hari. Termasuk perlindungan dari segala jenis masalah yang bakal menimpanya. Konsekwensi dari status tersebut, para PSK tidak boleh mengelola keuangan sendiri. Semua yang dapat harus diserahkan kepada germo. “Bukan untuk dimiliki melainkan hanya disimpan saja. Nanti setiap bulan, setelah dipotong uang bulanan kita dikasih tahu sudah berapa jumlah tabungan kita di tangannya. Uang itu bakal diserahkan bulat-bulat setelah kontrak kita selesai,” Tri menjelaskan sedemikian rupa sembari menyebutkan dirinya adalah PSK berstatus “anak kontrak”.

***

Kabar tentang akan ditutupnya Teleju, sebenarnya bukanlah hal baru bagi penghuni Teleju. Malah Tri, mengaku info itu sudah diterimanya sebelum dia datang ke Pekanbaru. Namun, menurut temannya tadi, itu baru sekedar isu dan belum ada kepastian.

Namun kedatangan Wali Kota Pekanbaru Herman Abdullah pertengahan Februari lalu saat membagikan akte kelahiran gratis bagi 240 anak di kawasan itu, memperkuat berita penutupan Teleju. Tampaknya, menurut Tri, sudah ada kepastian. Tapi kapan realisasinya, Tri juga mengaku tidak tahu.

Para Ketua RT, Dhatar, Sugianto (Ketua RT 01 RW 15) dan Nurianto (Ketua RT 02 RW 16) mengaku tidak tahu tentang rencana wali kota itu. Menurut mereka, tidak sekalipun pemerintah kota menyosialisasikan itu. Termasuk saat wali kota berkunjung ke tempat mereka. “Kalau memang iya, seharusnya kami diberi tahu,” ungkap Sugianto yang juga dianggukkan Nurianto yang kala itu ditemui di sebuah rumah sedang bermain domino.

Ketua RW 15 Sabaruddin juga mengaku relokasi itu belum ada kejelasan. “Kalau memang iya, pemerintah jangan bertele-tele,” ungkapnya sembari menyatakan cepat atau lambat lokasi itu pasti akan ditutup.

Bagi para PSK, seperti yang dituturkan Tri, Sari, Nova dan sejumlah teman-teman mereka, penututan itu tidak jadi soal.. “Kalau tutup, ya pilih pulang saja. Kawan-kawan lain juga begitu, katanya,” ujar Tri yang mengaku setelah pulang akan membangun usaha sendiri di kampungnya dan tidak akan menjadi pembantu rumah tangga seperti dulu.

Nova juga menimpali bahwa penututupan areal lokalisasi adalah momen bagi dirinya untuk kembali ke jalan yang benar. Jika diharapkan dari diri sendiri, entah sampai kapan dia bakal menemukan alasan untuk berhenti dari profesi terlarang itu. “Saya sih setuju-setuju saja kompleks ini ditutup. Biar pada tobat semuanya!,” katanya sembari tertawa dan menyatakan sudah punya tabungan yang siap dijadikannya modal usaha kelak.

Ketua RW Sabaruddin juga menyatakan dukungannya untuk menutup kawasan itu. Pria yang mesti tinggal di kawasan pelacuran ini, namun tidak pernah menjadi germo itu mengaku kasihan melihat para wanita yang ada di kawasan itu. Menurutnya sampai dimanalah kehidupan para wanita yang kerjanya hanya menunggu suami orang datang.

Hanya saja, lelaki yang hidup bertani di kawasan itu mengaku, sebelum ditutup pemerintah harus sudah menyosialisasikannya dan melakukan ganti rugi. Jika sudah dilakukan ganti rugi maka warga ditempat itu juga harus diberi waktu untuk pindah. Tapi kalau dengan cara mendadak, dia memastikan akan terjadi kericuhan.

Swagio, pemilik lahan di tempat itu juga menyatakan dukungan kalau tempat itu ditutup. ‘’Apa yang direncanakan pemerintah pasti merupakan hal yang terbaik untuk masyarakat. Dan saya tidak ada masalah atas hal itu, sebab selama ini  saya memang tidak pernah peduli atas segala aktivitas yang ada. Saya di sini hanya berdagang barang harian. Kalau jualan seperti ini kan bisa dimana saja,” sebut Swagio.

Meski para PSK mengaku pasrah sementara warga yang tidak terlibat dalam kegiatan prostitusi itu, seperti Swagio dan Sabaruddin mendorong penutupan lokalisasi itu, tidak demikian dari para RT dan pemuda kawasan itu.

Sugianto dan Nurianto beralasan di tempat itu ada banyak orang yang menggantungkan kehidupannya. Setidaknya ada lima desa yang kehidupannya bergantung di tempat itu. Ada pula ribuan pedagang yang siang malam berjualan di tempat itu. Selain itu, penutupan kawasan itu akan membuat banyak PSK yang berkeliaran di jalanan.

‘’Saya berharap pemerintah arif dalam masalah ini. Jikapun hendak dipindah, harus jelas pula kemana dipindahkan. Sehingga hal-hal yang tidak diinginkan tidak sampai terjadi,” ungkap Sugianto yang turut didukung oleh sekelompok pemuda yang berada di belakangnya.

Akhir sebuah Teleju memang belum diketahui sampai saat ini bagaimana jadinya. Apakah itu hanya sebuah wacana yang realisasinya entah kapan-kapan. Tak ada yang tahu. Namun yang jelas akhir sebuah Teleju ditentukan oleh Pemerintah Kota Pekanbaru si penguasa negeri di tanah Teleju.(fia)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org