• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Ahad, 07 September 2008 || 6 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportAncaman Kudeta

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaUrip 20 Tahun Penjara

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Dibenahi Manusianya Dulu
Minggu, 09 Maret 2008
Teleju harus berubah. Semangat itu yang saat ini diusung Pemerintah Kota Pekanbaru untuk mengubah ikon negatif Kota Bertuah ini.   

Untuk menuju ke arah sana, tim pengkajian persiapan perubahan itu telah dibentuk dan mulai bekerja. Pada tanggal 26 November 2007, telah dilakukan sosialisasi langsung oleh Asisten II Sekretaris Kota Pekanbaru H Kastalani Rahman yang juga Ketua Harian Tim Pengkajian tersebut. Sosialisasi dilanjutkan dengan memberikan keterampilan kepada 20 pekerja seks komersial (PSK) dan germo pada bulan Desember. Di bulan Desember juga, dilakukan pendataan terhadap 700 responden yang terdiri dari 425 PSK dan germo, tukang ojek, tokoh masyarakat dari dalam dan luar lokasisasi (RW 17). Termasuk tokoh masyarakat dan lembaganya seperti Depag, KPAID, MUI, BKOW dan tokoh lintas agama.   

Menurut Kasubdin Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial dan Pemakaman Kota Pekanbaru Drs Erwin Kesuma, pendataan tersebut bertujuan untuk merespon apa keinginan masyarakat di sana, termasuk menyiapkan masa depan mereka. Karena sesuai dengan keinginan Wali Kota Pekanbaru Drs H Herman Abdullah MM, harus ada perubahan di Teleju. Perubahan yang dimaksud tentu perubahan taraf hidup, kondisi sosial masyarakatnya.

Dari data pihaknya, pada bulan desember 2007 lalu, terdapat 400 PSK. Namun saat penyerahan akte oleh Wali Kota Pekanbaru untuk 240 anak di lokalisasi tersebut, Camat Tenayan Raya melaporkan lebih dari 600 PSK. Ini tidak menjadi aneh, karena bulan-bulan tertentu musim paceklik. Sedangkan penduduknya1.557 orang terdiri dari dua RW yakni RW 15 Simpang Empat dan RW 16 Planet serta empat RT.

‘’Kita memang sudah diminta oleh Wali Kota untuk menyiapkan kegiatan-kegiatan yang memberikan keterampilan. Kita benahi manusianya dulu. Persoalan tutup menutup itu urusan wali kota. Kita ditugasi meyiapkan langkah-langkah apa yang perlu dalam pembinaan mereka. Termasuk keterampilan, pembinaan sosial dan bimbingan mental,’’ ujar Erwin yang bersama instansinya termasuk dalam tim pengkajian tersebut.   

Nantinya, lanjut Erwin, kalau banyak yang ingin keterampilan menjahit atau salon akan disiapkan. Yang ingin usaha sendiri seperti jualan harian akan dibuat program supaya mereka dapat bantuan modal. ‘’Ini dalam rangka menyiapkan masa depan mereka. Hasil ini kan kita pleno kan dulu baru keluar rekomendasi usulan kepada Pak Wali, (Wali Kota Pekanbaru, red),’’ ujar Erwin Kesuma kepada Riau Pos, Rabu (5/3) di ruang kerjanya, sembari menyebutkan pendataan tersebut akan selesia pada Maret ini.

Dalam kesempatan tersebut Erwin menggaris bawahi, persoalan penyakit sosial ini bukanlah masalah pemerintah, apalagi keberadaan lokalisasi itu inisiatif para germo saja. Artinya, keterlibatan pemerintah di sana dalam hal apa saja tidak ada. Namun karena itu sudah tidak layak lagi, apalagi pemukiman masyarakat sudah berbaur, maka direspon suara-suara banyak orang.

‘’Pada prinsispnya kita tahu bahwa tidak ada yang ingin menjadi PSK. Kita mulai dari sana. Nah, bagaimana menghilangkan itu. Tentu meyiapkan manusianya dan tentunya mereka punya keterampilan. Alhamdililah, dari orang itu telah banyak yang mendapatkan order bahkan dari luar. Jadi, manusia yang kita siapkan, termasuk warga kita. Karena PSK ini akan terseleksi secara alami. Tetapi masyarakat kita yang di sana karena mereka memerlukan kehidupan yang bagus,’’ ujarnya.

Mengenai akan dijadikan apa Teleju nantinya, Erwin mengungkapkan belum ada yang pasti. Usulan yang berkembang saat ini baru sekadar wacana. Atau bila ada usulan dari anggota tim baru sebatas usulan pribadi, bukan rekomendasi tim.

‘’Kalau wacana banyak. Ada yang mengusulkan pesantren terpadu, kawasan bisnis dan sebagainya. Karena pendataan ini diharapkan akan memberikan rekomedasi kepada bapak wali kota apa tindakan selanjutnya,’’ ungkapnya.

Karena, lanjutnya, masyarakat di sana kalau lokalisasi itu tidak ada lagi, mereka juga masih memerlukan mata pencaharian. Makanya keinginan itu didata. Dari hasil rekomendasi ini nanti akan pengkajian lebih dalam lgi. ‘’Kalau kita semua sepakat pekerjaan itu tidak baik dan semua orang tahu. Tapi di satu sisi, mari kita selamatkan manusianya, penyelamatkan itu tidak cukup dengan buldozer. Itu manusia dan manusia juga punya masalah,’’ tegasnya.

Mengenai kekhawatiran kalau ditutup maka akan berkeliaran di jalan, Erwin mengungkapkan, ini akan menjadi tanggung jawab semua pihak. Polisi dan Satpol PP harus melakukan penertiban dan kemudian diserahkan ke Dians Sosial. Karena Dinas Sosial institusi pembinaan. ‘’Mana yang mau pulang, kita pulangkan sama dengan gepeng itu. Itulah baru yang sedang kita persiapkan,’’ ujarnya.(fia)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org