| Rumah Pikul |
| Minggu, 02 Maret 2008 | |
|
Oleh Yusmar Yusuf
Satu minggu di tanah Dayak, saya ‘bermesraan’ dengan rumah betang di dalam belantara Borneo. Perjalanan sepanjang 800 Km itu, bersama dengan seorang pembantu lapangan merangkap sopir, ialah sebuah kisah tabir embun dan pusat kosmologi Dayak. Selanjutnya, diteruskan ke tanah Bangka. Tepatnya di Muntok dan Belinyu, di sini kisah repetisi tentang ihwal idiom lokal berulang dengan kosmologinya sendiri. Belinyu dengan deretan rumah-rumah tua orang Khek (Tionghoa), Muntok dengan deretan rumah-rumah tua peninggalan Belanda dan perkampungan Cina. Di celah kisah Belinyu dan Muntok, ada ihwal Suku Lum (bermakna ‘belum memeluk agama’) tak jauh dari Belinyu. Sebelum masuk Muntok, saya masuk ke jantung batin orang Bangka, ya kampung Kundi, menerobos hutan hingga menjilat bibir pantai selat Bangka. Rumah betang, memang tidak berapa banyak lagi, karena orang Dayak sudah pandai bergaul dengan jalan raya. Perkampungan Dayak hari ini juga sudah bersalin bentuk menjadi perkampungan jalan raya, seperti kampung-kampung Melayu umumnya. Rumah Dayak, tidak lagi berpanggung, tetapi berlantai keramik, gereja berderet sepanjang jalan, hewan piaraan berkeliaran selingkar rumah. Fasilitas listrik di seluruh perkampungan Dayak, merasuk sampai ke tepi hutan dan memanjat gunung. Perjalanan tengah malam sekitar pukul 02.00, menerobos gunung Bendering menuju Bengkayang, adalah citra perjalanan yang aman dalam pekatnya embun dan sepinya malam di lorong hutan tebal Borneo. Dayak berkenalan dengan dagang dan kedai. Jauh sebelum ini, mereka dikenal sebagai manusia gunung yang terdiam di hutan, paya dan lembah. Setelah mereka membuka kedai dan mengambil alih fungsi jalan raya, berkebun di tepi jalan raya, mereka disebut sebagai orang Kadaian (di Sabah). Kadaian, berasal dari kata ‘kedai’, berniaga. Kisah ini bersambung dari mulut ke mulut. Namun, tidak sama dengan orang Kendayan, yang juga rumpun Dayak di Kalimatan Barat. Penelusuran idiom-idiom lokal mengenai vernakular (rumah tempat tinggal) Melayu, antara alam Dayak dan Bangka, adalah sebuah rentang serta rangkaian yang teramat panjang dan kaya untuk dituai. Selanjutnya ke Musi Banyuasin di Sumatera Selatan. Kepiawaian orang Banyuasin dalam spesialisasi tukang kayu, boleh diuji di sini. Ketika Dayak dan Bangka, telah mengalami pengerusan kepiawaian dalam spesialisasi kayu untuk membangun sejumlah tempat tinggal, orang Banyuasin, mengalami tahap bisnis ‘rumah bongkar pasang’ atau ‘rumah pikul’ (alias knock down house). Jangan heran jika beberapa kota di Jawa ada rumah Melayu Banyuasin atau Palembang dengan bahan baku kayu-kayan Sumatera yang prima. Berdinding papan tegak, bertingkap panjang dan lebar, memiliki selasar dan serangkaian ornamen Melayu yang menjadi aksesori dan aspek fungsional sebuah rumah Melayu sejati. Tak jauh dari Inderalaya kawasan menuju kampus Universistas Sriwijaya, bisa ditemui deretan rumah-rumah yang dipajang sepanjang jalan dalam beragam tipe. Ada tipe 36, 45, 70, tipe 120 dan tipe-tipe ini bisa dipesan berdasarkan kemauan sipembeli. Harga sebelum negosiasi, mengacu pada tipe. Jika untuk tipe 36, seharga 36 juta begitu seterusnya. Rumah-rumah knock down yang dipajang sepanjang jalan ini, memang untuk dijual, tidak dilengkapi atap. Sebab atap, diserahkan kepada sang pembeli. Dan bisa dipasang sendiri ketika sudah tiba di tempat tujuan si pembeli. Semua rumah ini mengguna sistem pasak kayu, tidak paku. Jika ada yang berminat membeli, akan dibongkar dan dimasukkan ke dalam truck untuk dikirim ke alamat si pembeli. Jika mau dibawa ke Pekanbaru, kita tinggal memberi alamat lengkap dan bayar uang muka sekenanya. Dalam tempo 3 hari, rumah ini sudah tiba di Pekanbaru. Agar jangan ragu dalam memasang ‘rumah bongkar’ ini, biasanya disertai pula dua orang tukang yang dibawa dari Banyuasin untuk memudahkan kembali pemasangan dan stelan kerangka, sehingga dia bisa berdiri kukuh sebagaimana layak rumah sejati. Jika kita ingin mengubah selera, kita tinggal memberi gambar dan desain rumah. Ingin bersuasana Riau, tinggal menitip gambar. Yang penting bahan baku; tembusu, kulim, leban, meranti kualitas nomor satu. Sedangkan atap tinggal menyesuaikan selera masing-masing. Bisa sirap, bisa pula genteng atau asbes. Mau diletak di mana? Terserah si pembeli. Mau di atas bukit, tepi sungai, pinggir rawa, tengah hutan, semua bisa disesuaikan dengan lanskap, sehingga menjadi sebuah wajah Melayu tropika. Mengenai cat, sebagian besar memilih warna khaki, warna alamiah yang mengedepankan warna sejati kayu. Jika di Riau, kita bisa menyapu minyak kruing, yang anti-bubuk, rayap, dan kedap air. Sekarang bukan persoalan rumah ini yang hendak dipromosi. Tapi, ada substansi dan skenario kebudayaan yang terkandung di dalam kemauan para ‘perajin’ @ tukang kayu di Musi Banyuasin. Secara sadar ataupun tidak sadar, sebenarnya telah terjadi ekspansi kebudayaan Melayu dengan menghadirkan segi bisnis ‘rumah pikul’ @ knokc down house ini ke serata dunia. Ada ikhtiar nyata untuk menyemarakkan kebudayaan Melayu ke tengah dunia lain dan jauh. Paket rumah pikul ini bisa jadi souvenir, cendera hati bagi tamu untuk dibawa pulang, bisa jadi cendera kenangan bagi para turis yang datang ke tanah Melayu, mungkin pula bisa jadi komoditi bisnis oleh pelaku-pelaku niaga. Mungkin pembelinya asal Kanada, Jerman, Belanda. Paling tidak ihwal ini telah terbukti, dengan hadirnya rumah-rumah Melayu di kota Bogor, beberapa kota di Jawa Timur, Jawa Tengah yang berasal dari ‘rumah pikul’ Musi Banyuasin ini. Tersebut nama seorang Jenderal yang anak wathan Palembang, Riyamizard Riyakudu membeli rumah ini dan bawa ke tanah Jawa. Sehingga kehadiran rumah Melayu menjadi mahkota bunga dari sederetan rumah-rumah kolonial yang mengepung sejarah Bogor selama ini. Saya pribadi telah memesan paket rumah ini untuk dibawa ke Pekanbaru. Ada yang hendak saya tunjukkan kepada para pelaku kebudayaan Melayu, makhluk yang tengah ‘gila’ Melayu, bahwa apa-apa yang kita lakukan di tanah ini tak lebih dari mengukir angin. Palembang juga tak ada apa-apanya, tetapi, sangkar hati Melayu itu memuai di kampung-kampung di Banyuasin. Mereka mekar dan mekar, sehingga telah masuk ke tahapan bisnis ‘rumah pikul’ alias knock down house itu. Di Pekanbaru ini, hanya kemaruk dan mabuk membengkeli copang selembayung dan ukiran yang tak bertolak dari hati Melayu. Yang kita lihat dari ukiran yang tertempel, hanya sebuah kehendak perseorangan, dengan filsafat perseorangan pula. Entah mau jadi apa dinding rumah Melayu Riau hari ini. Mau jadi buku filsafat tentang makna ukiran? Dinding ya dinding, sebuah ruang kosong yang tak memerlukan timpa-timpaan itu dan ini. Para tukang Melayu yang terselit di kampung-kampung Musi Banyuasin, masih menyimpan kesederhanaan Melayu. Rumah Melayu serba simplistik, sederhana dan tak ruwet, tanpa dibebani dengan segunung filsafat sana, filsafat sini. Jenis filsafat ini adalah jenis filsafat yang datang kemudian. Sebuah filsafat kanak-kanak. Dayak berkisah dengan diri dan kosmologinya, bahwa rumah betang memang dah mulai pudar, rumah Melayu di Bangka kalah bertahan dengan rumah-rumah kaum Khek di Belinyu. Orang Riau bersibuk dengan selembayung yang jadi tempelan dan terkesan mengejek. Banyuasin, tegak dengan tiang agung kesederhanaan Melayu. Ya, sebuah kesederhanaan ‘rumah pikul’.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





