Jumat, 21 November 2008 || 23 Zulqaidah 1429 Hijriah
Total SportFantastis

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTindak Tegas Biro Travel Telantarkan JCH di Malaysia

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Cinta Kami Terhalang Adat
Minggu, 02 Maret 2008
Perkenalkan, namaku Zia (bukan nama sebenarnya), aku berumur 19 tahun. Kisah percintaan yang aku alami ini, mungkin tak seberapa parah dibanding yang dialami orang-orang di sekitarku. Yang aku alami saat ini adalah tentang adat dan kepercayaan warga kampungku yang membuat aku sangat tidak nyaman dalam menjalani kehidupan sehari-hariku.

Kisahnya bermula saat aku pindah ke suatu daerah di Jawa Timur setahun yang lalu. Sekitar bulan Februari tahun lalu, aku berkenalan dengan seorang pria yang umurnya masih di bawahku setahun, sebut saja namanya Aris (bukan nama sebenarnya). Saat ini ia masih duduk di kelas 3 di SMK setempat, sedangkan aku sudah lulus tahun 2006 lalu, dan aku sedang sibuk mencari kerja di kota baruku, aku sendiri pindahan dari Jakarta.

Sejak berkenalan, kami disibukkan dengan ber-sms ria, hampir setiap hari kami melakukan hal itu. Terkadang aku merasa sangat kesal dan tak jarang menangis cuma karena ia tak bisa membalas sms-ku. Demikianlah aku menjalani kehidupan baruku bersama Aris. Hingga pada suatu saat aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan yang ada dalam hatiku ini kepada Aris dan berharap ia mau menerimanya.

Aku memang sudah menjatuhkan pilihan kepada Aris, karena di mataku ia sunguh baik, penuh perhatian dan setia. Dan aku sangat yakin Aris akan menerima cintaku ini. Namun ternyata dugaanku meleset, apa yang selama ini ia berikan kepadaku ternyata tak dibarengi dengan perasaan cinta kasih. Penolakan itu memang membuat aku merasa sangat sedih, tapi untunglah Aris tak serta merta menghancurkan persahabatan kami.

Aku dan Aris masih sering jalan beriringan. Aris juga masih mau mengantarkan dan menemaniku untuk sekedar mencari hiburan di luar ataupun berbelanja. Sebenarnya sikapnya yang seperti itu membuat aku semakin penasaran dan mengundang banyak pertanyaan di hati ini. “Seperti apa sebenarnya perasaan Aris kepadaku? Yang aku tahu Aris tak memiliki seorang kekasihpun.” Hal itu pulalah yang menyebabkan aku kembali menyatakan cinta kepadanya, tapi seperti yang pertama, ia kembali menolak.

Saat itu aku hanya bisa menangis, aku lelah memikirkannya, aku lelah dengan perasaanku sendiri karena banyak pertanyaan yang tak bisa aku temukan jawabannya. Selang beberapa bulan kemudian aku berkenalan dengan seseorang, sebut saja namanya Eko (bukan nama sebenarnya). Sejak berkenalan, Eko sudah menyatakan cintanya kepadaku dan entah mengapa aku langsung menerimanya.

Beberapa hari kemudian, ada perubahan yang ditampakkan Aris, terutama saat aku meminta pendapatnya mengenai hubunganku dengan Eko. Sepertinya ia merasa cemburu melihat aku menjalin kasih dengan Eko. Suatu saat ia mengajakku bertemu, ajakan itu membuat aku kembali jatuh cinta padanya, perasaan ini sepertinya tak bisa aku enyahkan. Apalagi ketika aku menatap matanya yang teduh yang membuat hatiku terasa sangat damai bila berada di dekatnya.

Di pertemuan tersebut, tanpa diduga Aris melakukan hal yang sangat mengejutkan. Ia mencium bibirku. Saat itu tak ada sepatah kata cinta yang aku harapkan keluar dari mulutnya. Ia hanya sempat meminta maaf dan mengajakku pulang. Beberapa hari setelah kejadian itu, Aris baru mau mengakui bahwa ia sebenarnya memendam cinta kepadaku dan merasa cemburu dengan Eko, itupun setelah aku menyindirnya perihal ciuman yang ia berikan kepadaku tempo hari.

Setelah pengakuan itu aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Eko dan selanjutnya menjalin kisah asmara dengan Aris seperti yang selama ini aku idam-idamkan. Perjalanan asmara kami memang dipenuhi dengan perbuatan-perbuatan layaknya suami istri. Namun, itu tak sampai membuat aku kehilangan kegadisan, karena Aris tak pernah berhasil menembus keperawananku.

Baru beberapa bulan kami menjalin kasih, sikap tak menyenangkan mulai muncul dari keluarga Aris. Padahal semula sikap keluarga Aris begitu baik, mereka sering datang berkunjung ke rumahku untuk bersilahturahmi. Tapi, setelah mereka mengetahui hubunganku dengan Aris, kebiasasaan itu langsung berubah. Bahkan mereka memaksa Aris untuk mengakhiri hubungan denganku. Terus terang aku bingung dengan keadaan ini, seingatku aku tak pernah melakukan sesuatu yang membuat mereka begitu membenci keluargaku.

Namun belakangan, aku mengetahui bahwa penyebab semua itu hanyalah berlatar belakang adat dan kepercayaan. Kebetulan rumahku dan rumah Aris terletak saling bersebarangan dan kata mereka hal itu bisa menyebabkan banyak malapetaka jika aku dan Aris bersatu dan rumah tangga. Itulah sebabnya mereka berusaha mati-matian untuk memisahkan aku dengan Aris, dan celakanya Aris mau mengikuti permintaan orangtuanya.

Buatku ini sungguh tak adil, setelah puas menggerayangi tubuhku, Aris dengan seenaknya memutuskan hubungan denganku. Oh Tuhan, padahal aku sangat menyayanginya. Terus terang aku jadi amat muak dengan kepercayaan seperti itu. “Oh Tuhan berikan keajaiban-Mu  padaku. Aku sangat menyayanginya, aku tidak rela  jika tubuhnya terjamah oleh wanita lain, aku tak tahu apa yang terjadi padaku jika melihatnya bersama

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org