• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Ahad, 07 September 2008 || 6 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportAncaman Kudeta

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaUrip 20 Tahun Penjara

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Suamiku Didukuni Keluarganya
Minggu, 02 Maret 2008
Aku tak pernah menyangka kalau kehidupan pernikahanku bakal berjalan tersendat seperti ini. Aku dan Ilham menjalani masa pacaran selama 8 tahun, ketika akan memutuskan menikah duri-duri itu sudah mulai kurasakan. Bahkan selama pacaran aku merasa kalau hubungan kami ini tak direstui keluarga Ilham. Namun aku tetap pada pendirianku.

Ilham merupakan satu-satunya anak lelaki dalam keluarganya, aku paham kalau Ilham kemudian menjadi tulang punggung keluarga saat ayahnya sudah meninggal. Aku juga paham kalau keluarganya makin membatasi gerak Ilham, menurut mereka Ilham harus mendapatkan perempuan yang cocok dan itu bukan aku.
Pernyataan itu tak membuatku mundur, aku tetap maju dan pernikahan tersebut tetap terlaksana. Bukan tanpa rintangan, karena keluarga Ilham menghendaki tidak ada pesta dan hanya ijab kabul serta pengajian saja. Sementara aku tetap pada pendirianku, pesta meski sederhana tetap harus ada. Toh, semua biaya ditanggung ibuku, keluarga Ilham hanya membantu sebagian kecil saja.

Keluarga Ilham mengancam tidak akan datang pada acara pernikahan kami dan ini sempat membuat Ilham bimbang. Aku meyakinkan Ilham bahwa acara tersebut adalah tujuan dari keinginan kami bersama, lagipula kalau keluarganya tak mau datang menurutku tak masalah. “Kamu kan laki-laki, tidak dihadiri keluarga tidak masalah kan?” Ilham setuju, dan ternyata keluarganya datang meski dengan wajah yang tak ramah.

Sekarang pernikahan kami sudah menginjak tahun ke-5 dan keluarga Ilham tetap tak berubah. Mereka tetap memusuhiku. Parahnya, ketika upaya mereka memisahkanku dan Ilham tak berhasil, mereka malah mengguna-gunai Ilham agar menjauhiku. Meski tak sepenuhnya berhasil, namun ini sangat menggangguku.

Bayangkan, untuk mengantar anaknya berenang harus Ilham, bahkan membeli pulsa juga harus Ilham. Rasanya tidak mungkin di sekitar rumah kakaknya tidak ada yang jualan voucher pulsa. Padahal saat itu kami sedang ingin berdua tanpa ada gangguan. Dan seperti biasa, Ilham tak bisa menolak. Ilham sudah seperti pembantu, disuruh kesana kemari oleh keluarganya.

Aku sudah tidak tahan dan sedih melihat Ilham diperlakukan seperti itu oleh keluarganya. Aku memang tahu dari awal kalau keluarga Ilham tak menyukaiku, tapi aku sama sekali tak menduga kalau mereka sampai sejauh ini. Tega ke dukun hanya untuk memisahkan aku dengan Ilham, parahnya Ilham sendiri yang mereka mantrai.

Aku pernah mencoba menanyakan soal perubahan pribadinya yang lebih memilih memberikan perhatian pada keluarganya ketimbang aku dan aku sama sekali tak menyinggung soal keluarganya yang sudah bermain dengan dukun. Hasilnya? Ilham malah memarahiku, ia memaki dan menuduh keluargaku yang mengguna-gunai dirinya.

Sejak itu Ilham tak pernah lagi menginjak rumah keluargaku. Padahal dua tahun pertama pernikahan kami, aku dan Ilham tinggal bersama ibuku. Ibuku dengan kasihnya merawat Ilham, yang pernah mengatakan kalau ia tak pernah memperoleh kasih sayang seperti yang ibu berikan.

Ibu memang tak pernah pilih kasih, tak hanya anaknya, kepada semua menantunya ibu sangat sayang. Dan itu dilakukan dari dalam hati, bukan untuk sekedar berbasa basi semata. Karenanya ibu sempat syok ketika mendengar kabar bahwa Ilham diguna-gunai keluargaku sampai ke telinga ibu.

Tapi mau bagaimana lagi, aku tak punya tempat pelarian. Sejak Ilham memutuskan pindah dari rumah ibu, kami akhirnya mengontrak sebuah rumah petak. Kalau Ilham mulai disibukkan oleh keluarganya, aku langsung ke rumah ibu. Hanya disini saja tempat yang menurutku paling aman. Sampai ibu memintaku dengan sangat agar kembali ke rumah ibu, ia tidak rela melihatku sering ditinggal Ilham sendirian di rumah.

Namun aku bertahan. Aku ingin tahu sampai sejauhmana keluarga Ilham ikut campur dalam rumah tanggaku. Meski aku kerap menangis sendiri saat Ilham tiba-tiba pergi sesaat setelah menerima telpon dari salah satu kakaknya atau ibunya.

Sampai suatu saat aku bertemu Kak Linda, istri kakak angkatku. Dari Kak Linda aku banyak memperoleh kekuatan hati. Bahwasannya semua sudah ada yang mengatur dan tak selalu kenyataan berjalan sesuai dengan harapan. “Semua ada batasnya, sampai mana sih ibunya Ilham betah ke dukun? Itu kan butuh uang, kita tunggu aja sampai duitnya habis, sampai dia tak bisa lagi ke dukun,” demikian Kak Linda pernah berkata.

Menurut Kak Linda lagi, kalau ke dukun itu ada jin yang harus dipelihara. “Sama kayak orang, kudu nyiapin kopi tiap hari termasuk suguhan lainnya, kalo gak disediain bakal pergi jin-nya. Nah, kan butuh dana bikin sajen buat jin? Nah, kekuatan dananya gimana, kalo tanggung mah, gak usah dipikirin, bentar juga sadar lagi Ilham,” hibur Kak Linda.

Jadi intinya, anggap ini cobaan. Kalau kamu tidak menempuh ini, maka kamu tak kan pernah tahu, apakah kamu lulus atau tidak dengan ujian Allah ini. Ingat satu hal, bahwasannya semua orang memiliki ujian masing-masing dalam hidupnya dan semua orang juga punya jalan masing-masing agar bisa lulus ujian tersebut.

Satu-satunya jalan yang pas buatmu adalah bersabar dan kuatkan hatimu. Kamu tak perlu melakukan apapun, karena yang kamu hadapi adalah orang yang tak menggunakan otaknya dengan baik. “Jadi…yang waras kudu ngalah…,” tutur Kak Linda panjang lebar diselingi tawanya yang riang. Aku seperti merasa ringan, dadaku seperti plong dan untuk pertama kalinya aku merasakan tawaku demikian lepas. Meski masalahku hingga detik ini belum beres, tapi aku sudah menemukan jawaban apa yang semestinya kulakukan. Terima kasih Kak Linda.(lin/int)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org