| Besi Tua Dumai |
| Minggu, 02 Maret 2008 | |
|
Oleh TABRANI RAB Entah nasib Dumailah. Puluhan miliar ditanam oleh Gubernur Rusli Zainal, bangkruttt. Datanglah Komisi B DPRD, Azwir Alimuddin meninjau, sesudah komisi B ini masuk ditenninal agrobisnis dan keluar dari rumah potong hewan “Proyek Pemprov terancam jadi besi tua. Terminal agribisnis yang letaknya didekat bibir pantai jantung Kota Dumai itu kondisinya masih kosong melompong. Tidak ada satupun mobiler mendukung operasional. Di bagian luar semak belukar cukup rimbun dan bahkan ada bagian dari gedung dibangun dengan dana puluhan miliar rupiah. Ini ditemukan dalam kondisi retak. Sementara di rumah potong hewan yang menyedot sedikitnya Rp6 miliar dana APBD RJau dan Rp. 4 miliar dana APBD kota Dumai itu juga Sudan sejak tahun 2004 tak digunakan sejak selesai dibangun”. Komisi B pun beranggapan inilah akibat dari Gubemur tak tahu ujung pangkaf proyek, bantai sementara walikota apakan tak tahu.
Apa pula kata Azwir Alimuddin? Yang pasti gedung itu sendiri sejauh ini belum diserahterimakan oleh Pemenntah Provinsi Riau. Alasan ini pula kemudian menyebabkan Pemko Dumai membiarkan aset ini tak beroperasi. Tidak beroperasinya rumah potong hewan ini sangat disesalkan. Padahal Pemrov terus mendesak adanya anggaran saat pembangunan. Tapi setelah dibangun justru ditelantarkan. Cara-cara seperti ini menurutnya tidak profesional dan merugikan daerah. Dalam kunjungan lapangan komisi ini turut hadir Syamsul Hidayah Kahar, Nurdin, Azwir Alimuddin dan Arsyad Djuliandi Rachman disertai dengan pejabat dari dinas terkait. Kondisi tak kalah mengkhawatirkan terlihat dari aset rumah potong hewan yang sejak tahun 2004 lalu tak diperasionalkan. Peralatan pemotong ternak dibeli dari Belanda dengan dana miliaran rupiah masih parkir di gesting, berdiri di atas areal 20 hektar itu. Alat-alat mahal itu tanpa diawasi dengan sistem keamanan kecuali hanya menyiapkan petugas pemegang kunci jika sewaktu-waktu ada kunjungan peranipok. Ira Fergiroto, Kasi Kesehatan Rumah Potong mengakui terlantarnya nomah potong hewan ini akibat belum adanya aliran listrik, sarana pengolahan limbah ternak dan air. Rumah potong hewan dengan kapasitas potong 50 ekor per hari ini pernah diuji coba pada Idul Adha tahun lalu tapi ternak dibawa masyarakat batal dipotong karena tak ada listrik dan air. Menurut Dr Hewan Budiono secara fasilitas rumah potong hewan ini sudah layak dioperasikan untuk menggantikan tempat pemotongan hewan yang ada. Rencananya rumah potong hewan itu menjadi pusat seluruh pemotongan temak. Pihaknya terkesan pasrah apa kata pemerintah, pokoknya pilih yang satu itu, bajkun asli baju kuning. Jangan disangka dengan membangun Riau makin baik, tapi malah penyok. Kalau ada kasus korupsi di Riau, sayalah yang duluan membukanya. Ceritanya begini; “Ngah, dah bace belum Keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia? Cobalah Ngah balik halaman dua, bunyinya begini ‘Adanya seorang yang mengaku kerabat Gubernur Propinsi Riau menghubungi saJah satu peserta prakualifikasi untuk meminjam perusahaan tersebut untuk digunakan mengikuti tender ini. Untuk itu perusahaan tersebut memperoleh imbalan berupa fee1 Itu baru satu kalimat Ngah, kalau nak balik lagi halaman 18 tendernya bengak-bengak saja Ngah”. 5 tahun yang lalu sayapun berkunjung ke sekolah perikanan di Pumama -Dumai. Adalah 20 orang pakai baju kaus menghadap saya. “Tuan-tuan ini sekolah apa?”. “Sekolah perawat Pak’1. “Kenapa bukan sekolah laut?”, tanya saya. “Gedung ini sudah diambil Pemda Pak untuk sekolah perawat, tinggallah kami beberapa ekor. Itupun sekolahnya tak jadi-jadi. Sebab guru ikan sudah tak datang lagi Pak, termasuk Bapak. Lama saya termenung. Kenapalah sekolah yang menelan dana belasan mi liar ini tak jadi-jadi. Sementara di Thailand sudah jadi. Saya langsung teringat pada pengalaman saya tahun 1968. Ketika itu di muara sungai Rokan dibangun proyek pasang surut. Berapa biayanya? Tak tanggung-tangung Rp22 miliar. Untuk memotong langkah sayapun pergi ke Thailand. Lalu lapor dengan Soebrantas, Gubernur Riau saat itu “Berhentikan sajalah Pak proyek tu, tak ada tenaga ahli untuk itu do”. Selanjutnya Soebrantas, saya dan Himron Saheman melaju lewat Duri sampai juga ke Sungai Rokan dan dalam hati Soebrantas betul juga ni. Dalam waktu pendek Soebrantaspun terbang ke Jakarta. Tinggallah saya seorang diri. Tiba-tiba Sinar Harapan menurunkan berita, “Jangan neko-neko, kata Amir Mahmud kepada Soebrantas”. Akan tetapi Firdaus yang mendapat gelar brilian dari Gubernur Rusli Zainal tiap hari mengeluh dengan saya karena yang menagih duit ini adalah tentara yang memakai pistol. Mau dipengapakan. Sesudah 2 tahun berjalan proyek inipun licin tandas ma a disepanjang jalan nampaklah bekas-bekas buldozer Perancis, macam perang Vietnam. Inilah yang mendapat pujian dari Pak Gubernur, brilian. Sesudahnya proyek ini apakan tidak saja dan padi Rokanpun tak jadi sementara Rp 22 milayar duitpun menguap ke udara dimana 1 dolar sama dengan 200 rupiah pada tahun 1968 itu. Nasib Dumai saat ini begitu jugalah. Zaman dahulu kala ketika ayah saya menjadi camat yang kedua di Dumai menggantikan Wahid adalah di tengah kota Dumai itu kuburan putri tujuh. Kini kemanapun anda menanam modal di Dumai alamat akan tenggelam menjadi besi tua. Termasuklah di pelabuhan Dumai dan di desa Purnama Muchtar Ahmad tinggal 20 biji baju kaus yang belubang-lubang persis bentuk akong-akong. Sehingga lebih sedap disebut dengan Institut Teknologi Merynscience Akong tinggal mendatangkan loya saja. Kisah lain ada pula niat kami adik beradik berkeinginan untuk membangun Dumai menjadi kota yang islami. Walaupun tidak seindah Malaka, maka diboboklah bangunan tiga lantai ini menjadi bangunan hotel bernuansa Mekah. Hasilnya masyaallah bangunan runtuh dan kantongpun bocor. Yang tinggal di Dumai hanyalah asap Itulah sebabnya saya tidak tertarik ketika ada orang yang bernama Awaludin menawarkan 100 hektar tanah di Pelintung kepada saya. Karena selain tak berduit juga karena tanah ini tak tahu batas dan ujungnya dimana “Dan lah Wal, aku tak ndak beli tanah disini, takut terkubur disini, kata saya”. Nah, bagaimana pula pendapat Walikota Dumai sesudah mendapat instruksi dari Gubemur Riau? Gubernur Riau HM Rusli Zainal SE MP langsung mengintruksikan Walikota Dumai Drs H Zulkifli AS agar mencegah kabut asap yang sudah mulai muncul di daerah Kota Dumai. “Saya minta untuk terus melakukan koordinasi, nanti saya juga akan menghubungi Dishut Provinsi agar bisa bersama-sama mengatasi masalah kebakaran lahan ini, tolong berikan informasi setiap ada perkembangan”, ujarnya di hadapan Walikota Drs H Zulkifli AS dan Wakil Walikota Dumai dr H Sunaryo. Instruksi ini disampaikan Rusli sesaat setelah menyaksikan kabut asap yang cukup tebal, dalam perjalanannya dari dari Pekanbaru ke Dumai. Mendapat instruksi dari Gubri, Wali Kota Dumai Drs H Zulkifli AS saat ditemui menyebutkan, akan segera melakukan koordinasi dengan instansi terkait, guna mengatasi masalah kabut asap yang mulai menyelimuti Kota Dumai. “Kita akan melakukan koordinasi untuk mengatasi permasalahan ini sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Gubernur Riau”, tutumya. Wako mengimbau agar seluruh masyarakat Kota Dumai tidak membakar lahan, apalagi larangan membakar lahan telah diatur dan sangsinya tegas. “Kita minta agar masyarakat tidak membakar lahan, agar kondisi tidak semakin parah,” tegasnya. Datanglah Untuk Membangun Akhirnya Innalillahi. Dumai.. Dumai.... |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





