| Drs H Andi Syamsul Bakhri MSi, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru |
| Minggu, 02 Maret 2008 | |
|
Ke Depan, Tidak Lagi Sekadar Memadamkan Api
Kecil jadi kawan, besar jadi lawan. Ungkapan lama tersebut masih dipakai Dinas Pemadam Kota Pekanbaru dalam setiap sosialisasinya ke masyarakat. Dahsyatnya sebuah musibah kebakaran yang dapat menghanguskan harta benda sekaligus jiwa manusia sebenarnya bisa diantisipasi melalui kewaspadaan masyarakat, perlakuan pertama yang cepat dan tepat sebelum api sempat membesar, serta peranan maksimal armada Dinas Pemadam Kebakaran dalam menanggulanginya. Hal tersebut terungkap dalam bincang-bincang Riau Pos dengan Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru Drs H Andi Syamsul Bakhri MSi di Kuala Lumpur, Malaysia, pada hari terakhir studi banding yang ia lakukan ke Jabatan Bomba dan Penyelamat Malaysia, 19-23 Februari 2008 lalu. Ia memimpin rombongan yang berjumlah 20 orang mengunjungi empat Kantor Bomba, di antaranya Kantor Pusat Bomba di Putra Jaya, Kantor Wilayah Kuala Lumpur, Kantor Wilayah Melaka serta pusat pelatihan dan pendidikan Akademi Bomba di Kuala Kubu Baru, Selangor. Di Malaysia, seluruh anggota pemadam kebakaran dibuat terkesima tatkala menyaksikan bagaimana canggihnya peralatan yang dimiliki Bomba, serta tingginya ilmu pemadam kebakaran setiap personilnya. Banyak hal yang sudah diperoleh Andi Syamsul Bakhri dan jajaran Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru lainnya dari kunjungan lima hari tersebut. Namun pekerjaan pertama yang akan ia lakukan adalah meningkatkan kualitas SDM personil pemadam kebakaran,. ‘’Berbanding mereka (Bomba, red) SDM kita jauh tertinggal. Hasil kunjungan ini adalah Bomba Malaysia siap menerima anggota kita untuk belajar di sana. Modul dan paket pendidikan mereka sudah kami peroleh, tinggal jadwalnya saja yang mesti kita tentukan. Yang menggembirakan, soal biaya mereka mau fifty-fifty,’’ kata Andi Syamsul Bakhri. Apa-apa saja hasil studi banding tersebut, dan mau dibawa ke mana Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru ke depannya oleh mantan camat ini? Berikut hasil wawancara wartawan Riau Pos, Ekka PN, yang turut serta dalam kunjungan kerja ke Malaysia tersebut. Apa yang didapat dalam kunjungan kerja yang dilakukan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru ke Markas Besar Bomba dan Penyelamat Malaysia serta sejumlah kantor Bomba lainnya selama empat hari ini? Yang jelas, apa yang kita dapat dan kita lihat dari perjalanan ini, kita semakin tahu kekurangan mana yang harus kita benahi. Memang antara kita dengan Bomba tidak bisa samakan, tetapi sekurang-kurangnya kualitas kita ke depan kalau tidak bisa sama dengan mereka paling tidak bisa menghampirilah. Kesan saya yang kedua, adalah rasa persaudaraan sesama orang-orang pemadam kebakaran sangat baik. Kami disambut hangat dan apa-apa materi yang kami perlukan mereka penuhi walaupun tidak semuanya bisa didedahkan mengingat terbatasnya waktu kunjungan. Itulah, ternyata di mana-mana rasa persaudaraan sebagai fire fighter itu sangat kuat walaupun kita berbeda negara. Apa kekurangan yang perlu dibenahi itu? Yang paling jelas adalah dalam hal peralatan atau armada. Di Malaysia peralatan mereka sudah canggih dan lengkap, sementara kita baru saja memulai melengkapinya. Tapi sekali lagi, kita tidak mungkin untuk menyamai kemampuan mereka yang memang oleh kerajaan Malaysia mendapatkan peruntukkan yang besar. Di Malaysia Bomba itu adalah institusi vertikal yang besar, sementara Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru adalah lembaga otonom yang berada di bawah Pemerintah Kota Pekanbaru. Boleh tahu kenapa studi banding ini diarahkan ke Malaysia? Pertama, dalam beberapa kali pertemuan Ikatan Kebakaran Indonesia di Jakarta kita mendapat informasi bahwa institusi pemadam kebakaran yang bagus se-Asia Tenggara adalah Malaysia. Kebetulan daerah kita bertetangga dengan Malaysia, sehingga dari segi waktu dan biaya masih ada kemungkinan untuk membawa rombongan ke sana. Dan setelah kita melihat langsung, ternyata apa yang kami dengar itu benar adanya. Tidak hanya di kawasan Asia Tenggara saja, Bomba Malaysia sudah terkenal di seluruh negara yang sekarang menjadi salah satu tujuan pendidikan dan latihan Pemadam Kebakaran di dunia. Mereka punya Akademi Bomba yang telah menerima kiriman petugas pemadam kebakaran junior untuk dilatih dari 100 negara lebih. Mereka terkenal karena memang kualitas mereka sudah kelas internasional, selain itu keramahan mereka kepada siapa saja betul-betul memberi kesan positif kita yang berkunjung ke tempat mereka. Apakah Bomba bisa dijadikan “kiblat” bagi DPK Kota Pekanbaru? Kalau melihat sekarang dari pengalaman kita ini, saya rasa sah-sah saja kita mengambil kebaikan dari Bomba dan Penyelamat Malaysia. Banyak hal yang bisa diterapkan di tempat kita, karena kita serumpun jadi lebih cocok. Kita akan mencoba untuk berdampingan menjalin hubungan kerja sama yang baik agar kita berkesempatan mendapatkan ilmu pengetahuan demi mengejar ketertinggalan. Beberapa anggota kita, insya Allah, akan kita titipkan untuk belajar di sana. Tapi kalau berkiblat, tidaklah. Karena walau bagaimana pun Ikatan Kebakaran Indonesia itu tetap ada di Jakarta. Sejauh mana rencana peningkatan kerja sama itu? Kita mendapat tawaran kerja sama dalam bidang pelatihan. Mereka siap membantu melatih anggota-anggota, dan ini adalah sebuah peluang yang menarik. Kita sudah meminta modul pelajaran di sana, kita akan pelajari bidang-bidang mana saja yang bisa kita ikuti, dan sekali lagi, kami akan mencoba mengirimkan anggota DPK ke sana melalui program peningkatan kualitas SDM dalam tahun mendatang. Tapi sebelumnya kita coba menjajaki dulu atmosfir kehidupan di sana dengan mengirimkan utusan setiap kali cara games persahabatan yang mereka gelar. Tahun lalu kita tidak bisa mengirimkan tim lomba maraton karena suratnya sampai setelah acaranya selesai karena suratnya harus memutar dulu ke Jakarta. Padahal anggota yang akan kita persiapkan sudah menjalani latihan cukup lama. Bukankah sistem sistem organisasi antara Bomba dan Pemadam Kebakaran berbeda? Dari sistem hukum tidak ada masalah. Sistem hukum Dinas Pemadam Kebakaran sudah bagus, ada Perdanya. Jadi tidak ada masalah. Yang kita pelajari dari mereka adalah skill dan sistem pemadam kebakaran serta penanggulangan bencana yang terkait dengannya. Seperti apa kekuatan yang sudah dimiliki Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru saat ini? Sekarang ini saya rasa untuk Kota Pekanbaru kalau dikatakan cukup, memang belum. Namun kita terus mencoba memaksimalkan apa-apa yang sudah ada ini, baik sumber daya manusia maupun peralatannya. Tentang peralatan, ya begitulah adanya. Sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya tetapi tetap tertinggal dengan cepatnya pertumbuhan kota. Saat ini armada kita ada 13 unit dengan jumlah personil 123 orang. Wilayah operasi kita tidak hanya wilayah Pekanbaru saja, tetapi juga kadang-kadang kita meluncur ke lokasi perbatasan, seperti Kampar, Siak dan Pelalawan. Pokoknya sepanjang masih mungkin didatangi, kita akan menurunkan bantuan. Apakah jumlah yang ada itu sudah ideal? Untuk idealnya, jika dilihat dari luas wilayah dan jumlah penduduk, sekurang-kurangnya mobil harus ada 18 unit, dan personil sekitar 200-an orang. Dan dalam rangka ke arah itu sekarang ini kita sudah mencadangkan akan memberdayakan dua pos tambahan di Rumbai dan Tenayan Raya untuk memudahkan pelayanan. Jadi kalau ada kebakaran, unit-unit terdekat sudah bisa bergerak menanggulanginya. Seandainya belum memadai baru unit-unit yang lain atau armada dari kantor pusat datang membantu. Seperti yang di Bomba, dalam waktu 5 menit sampai 7 menit sudah sampai di lokasi kebakaran. Itu waktu yang ideal. Bagaimana dengan waktu armada Dinas Pemadam Kebakaran kita? Kita belumlah. Selama ini kan hanya terfokus di kantor pusat di Jalan Cempaka. Tetapi ke depan kita harus bisa mempersingkat waktu sampai ke lokasi kebakaran. Mau tidak mau kita harus memperbanyak pos-pos di setiap kawasan kota. Jangan menunggu armada dari Cempaka dulu baru apinya disiram. Daerah Tampan itu paling parah. Kadang bisa sampai satu jam lebih mencapai lokasi, karena terjebak macet dan lain sebagainya. Sekarang dengan adanya satu unit armada di Tampan bisalah ia diperbantukan buat sementara. Alhamdulillah keberadannya cukup membantu. Kendala lain yang cukup mengganggu adalah telepon palsu dari orang-orang usil. Entah kenapa mereka itu suka sekali mengganggu kerja kita. Kita sudah melakukan upaya setiap kali mendapat gangguan telepon tersebut. Mulai dari mengingatkan baik-baik sampai memarahinya. Bagi si pengganggu mungkin menganggap ini adalah main-main. Tetapi bagi kita ini adalah gangguan serius. Ini dapat mengganggu kelancaran pekerjaan, dan memperlambat tindak balas terhadap laporan kebakaran yang masuk. Dan buat sementara cara mengatasinya adalah kita meminta nomor telepon yang bisa dihubungi, lalu kita telepon mereka kembali. Kalau benar terjadi kebakaran, maka armada langsung diberangkatkan. Bagaimana koordinasi dengan instansi terkait lainnyan dalam hal penanggulangan kebakaran? Selama ini koordinasi kita dengan berbagai instansi tetap berjalan baik. Selagi dinas yang bersangkutan memerlukan, kita tetap membantu. Baik kepolisian, TNI AD, AU, termasuk perhubungan udara, ataupun kehutanan, kita tetap turunkan bantuan. Personil kita kan standby 24 jam sehari. Kalau dengan PLN, katanya ada kendala di lapangan? Yang menjadi kendala selama ini, ya masalah listrik itu. Selama ini kita selalu kesulitan bekerja di lapangan ketika sedang terjadi konsleting listrik pada bangunan yang akan dipadamkan. Air tidak boleh disiram ke arah kabel yang konslet karena akan membahayakan jiwa petugas. Biasanya kita harus menunggu aliran listrik itu dimatikan, dan petugas yang berhak mematikan aliran listrik selama ini hanyalah PLN. Kita bisa saja mematikan tetapi kita tidak punya wewenang. Dari pengalaman yang sudah-sudah PLN sendiri tidak standby 24 jam. Peristiwa kebakaran kan tidak memandang waktu, ada yang terjadi pukul tengah malam ataupun dini hari. Untuk itu, ke depan kita minta diberikan wewenang untuk memutuskan aliran listrik tersebut sehingga anggota bisa bekerja lebih cepat dan maksimal. Kalau di Bomba kan aturannya sudah jelas. Mereka ada wewenang, bahkan lebih dari sekadar mematikan aliran listrik. Ini masih menjadi kendala. Nanti saya akan coba bicarakan masalah ini dengan PLN. Bagaimana dengan perhatian Pemprov? Pemprov Riau cukup baik perhatiannya kepada kita. Kemarin kita mendapat bantuan mobil tangki dan mobil tangga. Saat ini kita mengusulkan dua unit mobil, yaitu satu mobil tangki (20.000 liter) dan satu mobil rescue, mudah-mudahan usulan tersebut mendapat perhatian dari Pemprov. Tentang kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau, sejauh mana keterlibatan Dinas Pemadam Kebakaran Kota? Kita di kota ini hanya ada kebakaran lahan belukar. Untuk lahan unit kita selalu standby dan siap membantu seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Di Pekanbaru hutan kan tidak ada. Pernah tumpang-tindih koordinasi dengan instansi lain? Tidak. Tidak pernah. Ada pendapat bahwa Dinas Pemadam Kebakaran sudah sepatutnya memiliki kemampuan juga untuk menanggulangi bencana-bencana lain, seperti penanggulangan bencana alam, kecelakaan lalu lintas, seperti yang ada di beberapa provinsi lain. Bagaimana menurut Anda? Seperti yang kita lihat di Bomba ini. Memang mau tak mau, kita harus mengarah ke sana. Nanti kami akan mengusulkan dalam SOT ini untuk menjadikan dinas ini menjadi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana. Sesuai dengan skill dan peralatan kita sebenarnya sudah melakukan pekerjaan itu akan tetapi itu sifatnya tidak terkonsep. Misalnya ketika ada bencana banjir. Kita sering membantu masyarakat yang menjadi korban bencana banjir, demikian pula dengan kecelakaan lalu lintas yang menimbulkan api dan kebakaran. Pasti pemadam kebakaran yang ditelepon masyarakat. Ke depan kita sudah bisa menanggulangi segala bencana, baik yang diakibatkan oleh alam maupun perbuatan manusia dan kita tidak lagi sekadar memadamkan api. Apa langkah yang ditempuh dalam mempersiapkan hal tersebut? Langkah kami untuk pertama kali adalah peningkatan SDM. Kemudian secara berangsur-angsur armadanya kita lengkapi, karena ini juga menyangkut pembiayaan dan kebijakan Wali Kota Pekanbaru. Sebab untuk berbuat yang lebih bagus haruslah didukung dengan anggaran yang memadai. Kawan-kawan di DPRD juga kita minta dukungannya. Ada beberapa daerah yang bisa dijadikan contoh. Sumatera Barat misalnya. Kota Padang itu dinasnya adalah Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana. Satpol PP dan Linmas itu di belakangnya. Daerah DKI dan Jawa Barat juga ada Kasubdin Penanggulangan Bencana. Sebagai Koordinator Ikatan Kebakaran Indonesia (IKI) Provinsi Riau, apa peran yang sudah dijalankan? Ada satu masalah yang ditemui di daerah-daerah kabupaten, yaitu belum adanya instansi yang berdiri sendiri. Ada yang di bawah PU, Satpol PP, di bawah Linmas. Akibatnya jika yang menangani pemadam kebakaran tersebut tidak sejalan dengan Kepala Kantor Linmas-nya, itu yang menjadi kendalanya. Seharusnya pemadam kebakaran berdiri sendiri. Apakah itu menjadi Bagian atau Kantor, yang penting otonom. Dengan demikian bisa fokus dalam pengurusannya. Anda sendiri latar belakangnya bukan dari Dinas Pemadam Kebakaran. Bagaimana bisa menjiwai bidang ini? Pertama masuk ke dinas ini, memang agak canggung. Selama ini saya tidak pernah membayangkan akan mengurus Dinas Pemadam Kebakaran. Tetapi setelah saya jalani, malah ada kepuasan lain dibandingkan jabatan-jabatan saya sebelumnya. Di Dinas Pemadam Kebakaran saya mendapat kepuasan moral yang lebih, dan ini sejalan dengan jiwa pengabdian masyarakat yang sudah tertanam lama. Terus terang saja, sudah tujuh tempat jabatan saya pegang, tapi di Dinas Pemadam Kebakaran ini ada sesuatu yang lain. Kalau waktu di camat, kepuasan hati saat membantu itu tidak begitu mendalam rasanya. Termasuk ketika kita ikut membantu pembangunan masjid di kecamatan tersebut. Tetapi di sini, pada hari itu juga kepuasan itu saya rasakan setelah bisa membantu masyarakat. Banyak hikmah yang saya peroleh selama ditempatkan di Dinas Pemadam Kebakaran. Semua mantan-mantan kepala dinas yang pernah menjabat di sini, juga mengatakan hal yang sama. Pak Fahmi, senior saya, berpendapat seperti itu. Apa target yang hendak dicapai selama masih dipercaya menjabat di pemadam kebakaran? Selama saya menjabat, target saya adalah peningkatan sumber daya manusianya. Kalau ini sudah bagus, yang lain tinggal menyesuaikan. Mereka yang bekerja di lapangan juga harus punya ilmu yang kuat di bidang ini, agar ke depannya DPK bisa berkembang jauh lebih baik dari yang sekarang. Saya menyinergikan antara kemampuan armada dan personal di tingkat operasional dengan lobi ke level pengambil kebijakan, di antaranya kepada Gubernur Riau dan Wali Kota Pekanbaru. Bagaimana pun, peranan pemadam kebakaran sangat penting untuk membantu investasi di ibu kota provinsi ini. Investor juga melihat hal-hal kemampuan kita dalam mengelola penanggulangan kebakaran. Kalau melihat kondisi kantor di Jalan Cempaka yang terletak di pusat keramaian, ada rencana mau memindahkan kantor? Itu sudah menjadi pemikiran saya. Mungkin kita akan mengusulkan ke Pak Wali ke depan kantor Dinas di Jalan Cempaka hanya tinggal administrasinya saja. Armada-armada sebagusnya ditempatkan di lokasi yang dengan mudah meluncur sewaktu-waktu. Di Cempaka itu kan areal macet, dan ini adalah kendala. Kantor Jalan Cempaka mungkin nanti hanya setingkat pos saja. Terakhir, ada imbauan kepada masyarakat? Ya. Kepada masyarakat, pertama, kami mengimbau agar selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya kebakaran. Apabila sedang keluar rumah, tolong diperiksa kembali kompor atau alat-alat listrik yang rawan mengundang bahaya kebakaran. Yang kedua, kalau ada kebakaran dalam kota supaya seluruh masyarakat membantu memberikan jalan kepada mobil pemadam kebakaran yang hendak lewat. Demikian pula di tempat kejadian kebakaran, kami minta tolong agar para warga setempat memberikan bantuan dengan memberikan keleluasaan kepada petugas dalam bekerja. Jangan sampai ada lagi warga yang merebut selang dari petugas, lalu mengarahkan ke rumahnya sendiri. Kita sudah punya cara yang tepat dalam menjalankan operasi di lapangan. Ketiga, tentang instansi listrik. Kita minta kepada masyarakat untuk mengecek kembali instalasi listriknya yang sudah berumur 10 tahun ke atas kepada PLN supaya diperbaharui. Pengalaman selama ini kebarakan rumah dan bangunan yang lama selalu berawal dari bagian atas. Itu artinya telah terjadi konsleting listrik di atas loteng rumah yang dapat memercikkan api. Kita tidak tahu karena letaknya di atas dan susah dijangkau. Tahu-tahu apinya sudah membesar.(fia) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





