• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Jumat, 05 September 2008 || 5 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportAncaman Kudeta

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaUrip 20 Tahun Penjara

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Husnu Abadi, Penyair Tiga Lautan
Minggu, 02 Maret 2008

Husnu Abadi Seorang Kelana
(Bagian 1 dari 2 Tulisan)
Esay Oleh: UU Hamidy
Inilah tulisan saya yang ketiga tentang Husnu Abadi dan puisinya. Tulisan yang pertama membicarakan Husnu Abadi dalam tulisan yang betajuk “Antologi Puisi Penyair Muda Daerah Riau” tahun 1986, yang kemudian dibukukan dalam buku Bahasa Melayu dan Kreativitas Sastra di Riau (Unri Press 1994). Husnu telah menulis puisi sejak umur 30-an. Puisinya yang awal telah dimuat dalam Harian Haluan, terbitan Padang, tahun 1970-an. Pada tahun 1970-an itu tulisan para penulis dan sastrawan Riau sebagian besar dimuat dalam surat kabar Haluan sebab belum ada surat kabar di Pekanbaru.


Tulisan saya yang kedua berjudul, “Ceruk Rantau Riau dalam Lautan Melaka” dimuat oleh majalah kebudayaan Sagang No 47/tahun III Agustus 2002. Tulisan itu membentangkan bagaimana sisi pengembaraan dalam kumpulan puisi Lautan Melaka. Pada kesempatan ketiga ini, saya mengulas proses kreatif Husnu, muatan puisinya, semangatnya dan pola baris puisinya. Uraian ini semakin lebih meluas, karena kebanyakan ulasan yang berlaku terhadap kumpulan sajak Husnu, sebagian besar hanya memperhatikan muatan isi. Itupun hanya dibicarakan sebatas kesan, tidak sampai menukik ke selasar.

Husnu Abadi adalah seorang kelana, yang sudah jauh mengembara pada kulit bumi ini. Setelah kelahirannya 1950 di kampung Majenang, Banyumas, segera merantau ke Singaraja (Bali), terus ke Mataram (Lombok), surut ke Purwokerto (Jawa Tengah), kembali lagi ke Denpasar (Bali), lalu menetap di pekanbaru, Riau,  sejak tahun 1975. Husnu sangat akrab dengan Ibrahim Sattah, penyair Riau yang menakjubkan yang saya juluki ‘Penyair Pucuk Mali-mali.’ Dengan Ibrahim Sattah, Husnu telah memanaskan dunia kreativitas sastra di Riau, dengan mendirikan Sanggar Sastra dan Yayasan Puisi Nusantara 1980. Kemudian mendirikan lagi Yayasan Taman Puisi bersama Fakhurnnas MA Jabbar dan Tien Marni, tahun 1998.

Husnu telah membacakan puisinya di mana-mana terutama di Pekanbaru, Denpasar, Melaka dan Trengganu (Malaysia). Di samping membacakan sendiri sajak-sajaknya, Husnu punya kiat yang khas memberikan apresiasi puisi kepada khalayak. Jika ada peluang membentangkan Melaka, maka Husnu biasanya sebelum menampilkan makalahnya, minta pada salah seoran peserta (hadirin) untuk membaca sajaknya. Ketika itu Husnu memilih sajak yang sedikit banyak bersentuhan dengan Melaka yang akan ditampilkannya. Dengan demikian, Husnu juga mengajak peserta, tidak hanya punya ketajaman pikiran, tapi juga punya ketajaman perasaan serta mampu menghayati peristiwa kehidupan.

Sampai tulisan ini diturunkan, Husnu telah menampilkan 3 kumpulan puisi. Pertama Lautan Kabut (Terbitaa UIR Press 1998),  yang kedua Lautan Melaka (UIR Press, 2002). Kalau dihubungkan dengan awal puisinya bersama Fakhrunnas MA Jabbar, Matahari Malam Matahari Siang (1982), maka hampir 20 tahun Husnu mempersiapkan diri untuk meluncurkan puisinya sendiri.  Pada tahun 1982 itu, Husnu telah membukukan puisinya sebanyak 21 sajak. Jadi sebenarnya, bisa juga diterbitkan untuk satu kumpulan puisi. Husnu bekerja sebagai tenaga pengajar pada Fakultas Hukum Universitas Islam  Riau, yang sejak tahun 2000 menjadi tenaga senior pada fakultas itu. Mengajar dan menulis puisi, tampaknya bagi Husnu sudah bagaikan selegi tajam bertimbal. Tajam bertimbal  puisinya itulah yang hendak jadi sasaran utama tulisan ini.

Pola Baris Puisi

Marilah kita perhatikan unsur bangunan puisi yang paling mudah diamati, yaitu pola baris puisi. Pola baris puisi merupakan formal estetik, di mana bagian lain disangkutkan. Lautan Kabut (1998), Lautan Melaka (2002), dan Lautan Zikir (2004 ), ketiganya secara berantai telah memperlihatkan teknik Husnu membuat pola baris pada puisinya. Pola baris ini jarang diulas oleh para pengamat puisi, padahal keindahan visual puisi juga ditampilkan oleh pola barisnya. Pola baris itu mencangkup jumlah kata pada tiap baris puisi, penempatan kaesura, jumlah barisan tiap bait serta bagaimana tiap baris puisi disusun dari atas ke bawah. Dalam Lautan Kabut, Husnu lebih suka manggunakan pola baris yang panjang dengan bait puisi yang besar. Bahkan pada sajak “Kereta yang Berangkat pada Senja Ini” Husnu sampai memakai puisi surat, yang pola barisnya hampir hilang sama sekali. Karena itu, meskipun ide yang terkandung dalam puisi cukup bagus, tetapi pola baris yang cukup panjang, membuat puisi kehilangan formal estetik. Keadaan ini banyak berlaku pada puisi pola bebas (pola baris bebas). Sebaliknya puisi tradisional yang memakai pola baris tetap, seperti pantun, syair dan gurindam, selalu dapat menampil kan keindahan tersebut.

Kenyataan ini mungkin dipahami oleh Husnu. Apalagi ia sampai melihat pola baris puisi Ibrahim Sattah yang amat cemerlang dalam sajak “Sebab” dan “Duka”. Dalam kumpulan puisi Lautan Melaka, Husnu tidak lagi memakai pola baris yang panjang itu. Dalam kumpulan puisi yang kedua ini, jumlah kata pada tiap baris berkisar antara 2-7 kata per-baris. Sementara jumlah baris puisi dalam 1 bait 2-7 baris. Maka, pola baris puisi dalam Lautan Melaka bisa tampil lebih ramping  dan lincah daripada lautan kabut. Selanjutnya dalam Lautan Zikir, Husnu terkesan lebih bagus membuat pola baris puisi. Dalam kumpulan puisi ketiga itu, Husnu dapat memasukkan unsur kaesura ke dalam pola baris, sehingga pola baris terlihat lebih pendek dan kokoh, seperti dapat dilihat dalam sajak “Ya adis Itu Tetap Berzikir”:

Itulah

      Kursi

Itulah

      Tahta

Itulah

      Baju

Itulah

      Sorban

Itulah

      Jilbab

Sejajar dengan pola baris ini menarik pula di perhatikan judul puisi Husnu. Husnu punya kecenderungan memakai judul puisi yang relatif panjang. Perhatikan judul puisi “Doa Anak Yatim yang Rumahnya Dibakar Gerombolan Orang yang Tak Dikenal” dalam kumpulan Lautan Zikir. Ini mungkin berlaku, karena Husnu ingin memberi arah yang jelas terhadap metafor puisi-puisinya, sehingga dari judul sajak, pembaca dapat dipandu untuk memahami mitos puisi.

Medan Peristiwa,

Ruang dan Waktu

Ketiga kumpulan puisi tersebut dapat memberi tanda pada kita, apa saja yang telah menjadi medan oleh puisi Husnu. Puisi Husnu dapat ditandai dari sudut peristiwa (keadaan) ruang dan waktu. Lautan Kabut yang berisi 29 sajak, semuanya diberi catatan waktu, yakni dari 1991-1997. Kumpulan puisi Lautan Malaka dengan 27 sajak, semuanya mencatat ruang (tempat) dan waktu antara 1999-2000. Sedangkan Lautan Zikir, berisi 17 sajak, hanya 5 sajak yang tidak mencatat ruang, sedangkan 12 sajak memberikan catatan ruang dan waktu. Dengan demikian, puisi Husnu sebagai peristiwa sastra, juga merekam ruang dan waktu.

Faktor ruang menjelaskan di mana puisi itu ditulis atau peristiwa apa yang telah melahirkan puisi itu. Sedangkan catatan waktu dapat menjelaskan, bila peristiwa yang menjelaskan bahan puisi itu terjadi atau bila puisi itu ditulis. Cara Husnu membuat catatan ruang dan waktu dalam sajak ini, telah membuat puisi Husnu relatif mudah dipahami oleh pembaca. Pesan-pesannya segera dapat dihayati, sebab Husnu tidak memakai imajinasi yang liar, yang membuat puisi hanya bermain-main dengan kata-kata. Husnu seakan punya pesan khusus dengan rangkai puisinya. Husnu tidak mempermainkan pesan puisi, sehingga dia bisa terhindar dari ancaman Surah Asy-Syuara  ayat 224-227.(bersambung)

UU Hamidy adalah dosen bahasa dan sastra dan kritikus sastra senior Riau. Menulis banyak buku tentang kritik sastra. Penerima Anugerah Sagang 2007. Bermastautin di Pekanbaru.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org