| Ganas Perampok Ungsikan Petani |
| Minggu, 02 Maret 2008 | |
|
Laporan AHMAD FITRI dan MONANG LUBIS, Tembilahan
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
”Rumah kami di seberang sana,’’ kata Roni kepada Riau Pos, sambil menunjuk sebuah rumah di seberang anak sungai yang melintasi perkampungan Sungai Mahmud di pedalaman Sungai Jepun Kelurahan Sungai Perak Kecamatan Tembilahan. Di dekat sebuah langkau (tempat memanggang daging kelapa), seorang pemuda, Romi yang juga adiknya Roni terlihat sibuk dengan pekerjaannya mengupas kulit kelapa yang menumpuk di sekililingnya. Tak jauh darinya seorang perempuan tua terlihat sibuk memadamkan arang tempurung yang baru dibakarnya. Di perkampungan ini berdiri puluhan hektare kebun kelapa yang dimiliki warga setempat. Dulunya di perkampungan ini berdiri sekitar 25 rumah warga di antara rerimbunan pohon-pohon kelapa yang buahnya mereka oleh menjadi kopra. Riau Pos yang menyusuri perkampungan ini, Selasa (26/2), mendapatkan informasi bahwa saat ini hanya lima unit rumah yang tersisa di areal perkebunan ini. Sisanya sudah dibongkar oleh pemiliknya dan kemudian dipindahkan ke Sungai Jepun, sebuah perkampungan yang dipimpin seorang Ketua RT yang terletak di tepian Sungai Indragiri. Warga memindahkan rumah karena tidak ada lagi rasa aman di benak mereka. Awalnya, sebuahnya peristiwa tragis yang terjadi delapan bulan lampau di Sungai Mahmud. Sirajuddin, salah satu petani di perkampungan ini dipaksa harus menyerahkan harta yang dimilikinya kepada kawanan perampok. Pada suatu malam ketika itu, kawanan perampok yang jumlahnya lebih dari lima orang mengancam keluarga Sirajuddin dengan senjata tajam. Usai mengancam dan memukul, perampok berhasil menyikat barang-barang berharga seperti uang tunai senilai 5 juta rupiah, emas dan hand phone milik keluarga ini. Peristiwa yang mengguncang seantero perkampungan ini membuat seluruh warga yang notebene petani kelapa dihinggapi rasa ketakutan yang amat dalam. Sebulan setelah kejadian Sirajuddin dan seluruh anggota keluarganya memutuskan untuk hijrah ke tempat yang lebih aman. Sungai Jepun pun jadi pilihan. Karena daerah ini letaknya tidak jauh dari perkampungan Sungai Mahmud. Di Sungai Mahmud perampok hanya menyatroni kediaman Sirajuddin. Namun karena terus dihantui rasa takut akhirnya sekitar 20 kepala keluarga (KK) di daerah ini mengikuti jejak Sirajuddin, membongkar rumah di kebun dan memindahkannya ke Sungai Jepun. Kini, mereka membangunan perkampungan baru di Sungai Jepun untuk menetap di sana. Aksi ganas perampok tidak hanya berhenti di Sungai Jepun. Lima bulan berselang, tepatnya pada Desember 2007 keganasan perampok kembali terjadi di perkampungan Parit 1 Kelurahan Sungai Perak. Kali ini mereka semakin mengganas, empat rumah warga di Parit 1 mereka rampok dalam satu malam. Yuliana, salah seorang korban perampokan berkisah, sekitar sembilan orang perampok pada malam itu mendobrak paksa pintu rumahnya dengan sebatang kayu besar. Bersama suami dan dua anak-anaknya Yuliana tak bisa berbuat apa-apa. Perampok kemudian menyikat uang senilai jutaan rupiah dan perhiasan emas yang dimilikinya. Keesokan harinya warga di Parit 1 gempar, tersiar kabar bahwa empat rumah warga di kampung itu diserang perampok. Warga pun semakin resah. Sama dengan yang terjadi di Sungai Mahmud, sejumlah warga kemudian memutuskan pindah ke Kelurahan Sungai Perak karena daerah aman yang paling dekat dengan kampung mereka. Ada juga yang pulang ke rumah orangtua mereka di Tembilahan, seperti yang dilakukan Yuliana. Kini, suasana di Sungai Mahmud tak lagi seperti delapan bulan lalu ketika perampokan belum terjadi. Romi, yang pagi itu terus mengupas kulit kelapa seakan-akan hanya ditemani kicauan burung dan gemercik air anak sungai yang mulai surut. Banyaknya warga yang mengungsi ataupun pindah rumah akibat keganasan perampok menjadi berita besar di Inhil saat ini. Kapolres Inhil AKBP Marudut Hutabarat menyatakan belum memiliki data konkret tentang jumlah warga yang mengungsi ataupun yang pindah rumah. Sementara itu Bupati Inhil H Indra Muchlis Adnan mengemukakan saat ini pemerintah daerah sedang melakukan pendataan terhadap desa-desa yang dirampok. Menurut Marudut, aksi ganas perampokan atau pencurian dengan kekerasan di Inhil sudah terjadi sejak 2006 silam. Rinciannya, pada 2006 terjadi 44 kasus dan pada 2007 terjadi 82 kasus. ‘’Kasus perampokan hampir terjadi di seluruh kecamatan di Inhil. Dan ini merupakan kasus terbesar yang pernah terjadi di Riau,’’ papar Marudut. Di Sungai Jepun Riau Pos sempat menyaksikan aktivitas petani yang membangun perkampungan baru. Di perkampungan baru itu terlihat sejumlah rumah yang sudah selesai dibangun. Namun juga masih terlihat sejumlah warga yang masih memulai tahap pembangunan rumahnya. ‘’Pemerintah tidak pernah meninjau perkampungan baru kami di Sungai Jepun, juga belum ada yang datang ke Sungai Mahmud. Mereka hanya menanyakan kenapa kami tidak melaporkan peristiwa perampokan yang terjadi,’’ ujar Sirajuddin. Menanggapi banyaknya warga yang mengungsi dan pindah rumah, Bupati Indra Muchlis Adnan mengatakan Pemkab Inhil telah membantu fasilitas umum di sejumlah perkampungan baru. ‘’Kondisi seperti ini tak bisa dibiarkan lama, karena dikhawatirkan produksi perkebunan akan terganggu,’’ ujar Bupati. Banyaknya warga yang pindah kampung juga mengundang keprihatinan Wakil Ketua DPRD Riau H Syamsuri Latief. ‘’Petani yang mengungsi sebaiknya sebentar saja, sangat sayang jika kebun ditinggalkan dan tidak dirawat. Jika sudah aman kembalilah ke kebun. Kebun jika ditinggalkan akan rusak dan pendapatan petani akan menurun,’’ ujar Syamsuri mengimbau. Solusi menangani persoalan ini, Syamsuri berpendapat sebaiknya dicari akar permasalahannya. Kemudian bangkitkan kembali sistem keamanan lingkungan (Siskamling) yang telah lama dibangun. Dan yang tak kalah penting, kata dia, jajaran musyawarah pimpinan daerah (muspida) di Inhil harus duduk bersama-sama untuk memecahkan permasalahan ini.(fia) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





