| Pada Soneta Tidurmu |
| Minggu, 02 Maret 2008 | |
|
dengkurmu adalah tabiat puisi memejam di luar bergemuruh di dalam izinkan kusingkirkan dahan hujan pagi yang jatuh ke rumput mimpi bibirmu diam geletar jemarimu: kerling nakal alenia lima baris dara menggoda empat bait soneta bolehkah kukarang selarik lili paris di kelingkingmu dan berdoa agar pada setiap kertap kita bertemu angin datang dari sela pepohonan kaf menggoyang-goyang benang nadimu yang memintal lagi sehelai paragraf tak pernah akan kucukupkan kecupanku untukmu bahkan meski kaugubah juga akhirnya sebuah epitaf maaf, di mulutmu yang terbuka telah kutulis mulutku batam, 2007 Renjana, Tun Teja : marhalim zaini aku pedih menyesah cendawan bulan di mataku yang selalu berembun mengasah batu-batu balan pada sungai kenangan tak lagi rimbun andam karam cintaku, setiap malam kabut kalbu aku menyusun manikam dengan bara di tangan, riung jantung, kaldu empedu, halwasangka sekutu kalung perkawinan dusta setubuh pengantin, dosa manekin hang tuah, akan ke manakah aku dibawa angin? hari mengerahkan prahara tanpa sanggerah jemariku bertaut darah, selaput dara mengapa harus kuelus mimesis seorang lelaki (juga suami?) yang menghafal desis ular semata agar aku percaya bahwa apel di ranjang itu bukan sebutir khuldi, pun sekikir janji siapa kebun berpagarkan duri tanda mengenal kasa dan cindai tuah, akan ke manakah aku kaubawa pergi? sungguhkah telah kau buang tetemas, fitnah ganas benarkah kulo-kulo kerdil menebar tajam kerikil mencam engkau sebagai laknat jung kecil yang memberiku bertih putih, langkah pelamin emas? aku bukan kelendara segala andang anganmu hingga hangus kulit perahu dipangku nelayan rawai kayu bukan pula tanjung terkatung dihalau pulau bersisik sehabis hendam hujan hitam sampai pantai merangkum tengkorak ikan yang menyebut nama, purnama (menghasut hang jebat, meski noda keris sakatimuna) kasihku selumbar buluh hanya titah sultan walau lilin telah meluruh dipanggang retak impian rindu, sembilu yang masih jauh, bergeming begitu luka kau mendekatiku sepedih ingin belahan alisku o saujana begitu duka aku melukaimu, dipeluk renjana (siapa menepis serai tangis, sepi pipiku betina kulubangi airmata, tersebab baginya retina) duhai, bedebah jantan berdada lembing senja kan habis, enyahlah sebentar dari kelambu telah kalian persunting ababil dengan mahar setuba batu di rusukmu aku terkutuk, tak bisa berpaling! hang tuah, siapakah di antara kita yang benar maling? batam, 2007 Ramon Damora lahir di Muaramahat, Kampar, Riau, 2 April 1978. Lulusan Perbandingan Mazhab dan Hukum Fakultas Syariah UIN Suska, Pekanbaru. Mempublikasikan puisi di pelbagai media massa, seperti Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Republika, Riau Pos, Batam Pos, Majalah Budaya Sagang, Majalah Sastra 12, dan lain-lain. Juga terkumpul dalam sejumlah buku antologi. Kini bekerja sebagai wartawan dan Pemimpin Redaksi Harian Posmetro Batam, selain berkhidmat sebagai Ketua Program Dewan Kesenian Provinsi Kepri. Sajak-sajaknya juga bisa dinikmati di www.ramondamora.blogspot.com. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



