• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Kamis, 21 Agustus 2008 || 18 Syakban 1429 Hijriah
Total SportHarus Menang

Rabu, 20 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaMendagri Berhentikan Chaidir dari Ketua DPRD

Rabu, 20 Agustus 2008

article thumbnail

Rasa Memiliki
Minggu, 02 Maret 2008
Abdul Kadir Bey
Koordinator Liputan Riau Pos
Lima tahun sudah berlalu. Kini tinggal bagian akhir dari pengabdian itu. Gubri Rusli Zainal dan wakilnya Wan Abubakar segera akan meletakkan jabatannya. Riau akan memasuki babak baru pemilihan gubernur, pertama secara langsung. Sebuah kemajuan dibandingkan tempo dulu, yang harus minta restu, yang kemudian terpaksa mewakilkan kepada orang tertentu, lalu akhirnya tibalah masa itu. Masanya kitalah yang menentukan.

Tak ada satu jaminan, satu di antara tiga proses itu, goal-nya paling baik. Selain pada proses atau landasan pilihan itu dijatuhkan. Bahkan, akhir-akhir ini muncul wacana tentang siapa yang akan menjadi gubernur itu diserahkan sepenuhnya kepada presiden. Selain pada proses, pilihan itu menyangkut soal rasa, rasa keadilan dan rasa kepercayaan, kepada siapa amanah ini akan ditumpangkan. Namun pilihan juga mengandung unsur kepentingan. Kepada siapa pilihan itu dijatuhkan sehingga bisa mengakomodir kepentingan seseorang.        

Munculnya banyak kasus perseteruan dalam sebuah kepemimpinan apakah itu bupati dan gubernur juga disebut-sebut karena dua faktor tadi, yakni hilangnya kepercayaan dan tak diakomodirnya kepentingan. Sangat sedikit karena rasa memiliki atas amanah yang telah disandangkan atau tanggungjawab yang dipikul sebagai seorang pemimpin.

Boleh jadi rasa memiliki pemimpin itu juga belum tumbuh di kalangan masyarakat kita sebagai calon pemilih. Terutama untuk pemilihan gubernur secara langsung, karena selama ini rakyat hanya bisa menunggu, membisu dan menggerutu bila pilihan itu tidak sesuai dengan keinginannya. Namun sebaliknya lega dan bangga bila pilihan itu sesuai dengan selera dan harapannya.

Pemandangan seperti itu juga tampak pada kritikan yang disampaikan seseorang kepada gubernur yang muncul di media massa. Ada yang dulunya tukang kritik mati-matian, sekarang santun seribu bahasa. Dulunya hanya bisa melihat kesalahan, sekarang tak bersuara. Seolah benar, bila seseorang berteriak, tandanya lagi ada maunya.

Padahal tidak seharusnya seorang pemimpin alergi dengan kritikan, asalkan kritikan itu untuk perbaikan, bukan untuk memaki atau menyakiti. Begitu juga mengkritik, tak perlu harus takut dijauhi, takut kehilangan rezeki asalkan atas dasar rasa memiliki. Agar kita tidak terjerumus ke jurang yang pada akhirnya menenggelamkan kita bersama dan menjadi penyesalan sepanjang masa.

Teramat banyak yang harus dijawab Gubernur Riau ke depan. Terutama, kita sekarang sudah berada di mana dari visi yang telah kita tetapkan itu. Visi itu semakin dekat atau semakin jauh. Menjadi kenyataan atau menjadi mimpi yang sempurna.

Sejauh mana kemiskinan di Riau berkurang atau hanya sekadar tontonan dan sejauh mana infrastruktur sudah merata tersebar atau hanya mengulang pembangunan gedung yang menjulang.

Saat ini tak ada acuan dalam penilaian, karena kita melangkah sesuai dengan tafsiran sendiri-sendiri. Tak ada target yang pasti karena seolah semuanya berjalan apa adanya. Mungkinkah kita kembali ke rel semula, berjalan sesuai tahapan yang ada, agar semuanya menjadi berarti.

Untuk menjawab mampukah kita sebenarnya mengelola anggaran yang ada, yang mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya. Berpihak karena rasa memiliki bukan berpihak untuk memiliki.***

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org