| Studi Banding Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru ke Malaysia |
| Minggu, 02 Maret 2008 | |
|
Ke Bomba, Membuka Mata dan Wawasan Selama lima hari, rombongan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru melakukan studi banding ke Bomba Malaysia. Banyak hal yang didapatkan dalam kunjungan tersebut, termasuk bagaimana memahami filosofi betapa penting dan mulianya pekerjaan ini bagi manusia yang lain.
Laporan EKKA PN, Kualalumpur Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya Dengan penuh suka cita, rombongan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru disambut hangat oleh Kepala Bomba dan Penyelamat Malaysia, Dato’ Hamzah bin Abu Bakar. Kepada Kepala Dinas Drs H Andi Syamsul Bakhri selaku ketua rombongan, Hamzah gembira atas kesediaan memilih Bomba Malaysia sebagai obyek studi banding. Hamzah berujar, ‘’Kami siap bekerja sama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru dalam bidang-bidang yang diinginkan.” Kemudian Dato’ Hamzah menerangkan sedikit tentang profil Bomba dan Penyelamat Malaysia. Menurutnya, Bomba didirikan jauh sebelum Malaysia merdeka. Perkhidmatan Bomba di Malaysia dimulai pada tahun 1883 yang ditandai dengan lahirnya Bomba Sukarela Negeri Selangor yang diketuai seorang bangsa Inggris, HF Bellamy, bersama 15 anggota. Pada tahun 1895 pasukan ini ditetapkan sebagai Pasukan Bomba dan Penyelamat Tetap yang memiliki tugas lebih kompleks. Pada tahun-tahun berikutnya, keberadaan Bomba diperluas, dengan meletakkannya di bawah setiap pemerintah daerah atau kerajaan negeri —yang dikenal sebagai Majelis Perbandaran atau Lembaga Luar Bandar. Namun untuk mengkoordinir program dan kegiatan pada tahun 1952 didirikanlah Jemaah Lembaga Perkhidmatan Bomba yang bernaung di bawah Kementerian Pembangunan dan Kerajaan Tempatan. Langkah penyatuan Bomba ke dalam satu badan yang kendalinya dipegang pemerintah pusatpun terwujud pada 1 Januari 1976. Melalui Kementerian Perumahan dan Kerajaan Tempatan inilah, Bomba terus ditingkatkan kualitas SDM dan peralatannya, sampai sekarang. Dari segi pendanaan, Dato’ Hamzah mengaku itu bukan suatu halangan, sebab semuanya langsung dikendalikan Perdana Menteri Malaysia. “Kita juga pernah berada di bawah kerajaan negeri (pemerintah daerah, red). Namun oleh pendahulu-pendahulu kami, sistem ini diubah menjadi vertikal untuk memudahkan koordinasi dan pengendaliannya. Tapi itu bukan isu yang penting buat saat ini. Sekarang bagaimana kita bisa lebih merapatkan hubungan dan meningkatkan kerja sama dua arah,” kata Dato’ Hamzah. Pernyataan ini ia sampaikan setelah Kepala Dinas Andi Syamsul Bakhri menjelaskan bahwa dari sistem, antara Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru dengan Bomba, berbeda. Dinas Pemadam Kebakaran berada di bawah Pemerintah Kota. Ditambahkan Dato’ Hamzah, ada tiga tugas utama bomba. Pertama, mengambil langkah-langkah yang berhubungan dengan kebakaran seperti pencegahan, pemadaman, pengawalan. Kedua, melakukan penyelidikan tentang sebab-sebab kebakaran dan menentukan putusan terhadap segala hal yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Ketiga, melakukan pengabdian kemanusiaan, termasuk melindungi nyawa dan harta benda dalam setiap bencana apa pun. Di Bomba terdapat sejumlah unit-unit operasi. Unit-unit ini didirikan dalam waktu yang berbeda – yang biasanya terilhami dari setiap terjadinya bencana besar. Unit Hazmat misalnya. Unit ini ditabalkan pada 29 Oktober 1992 setelah terjadinya tragedi ledakan pabrik mercon Bright Sparklers di Sungai Buloh pada tahun 1991. Peranan unit Hazmat adalah untuk menangani kecelakaan yang ditimbulkan oleh bahan-bahan kimia berbahaya yang dapat mengancam jiwa manusia, serta merusakkan lingkungan sekitar. Demikian pula dengan Unit Kebakaran Hutan. ‘’Kalau unit ini pendiriannya dilatarbelakangi tragedi asap kabut yang melanda hampir di seluruh wilayah Malaysia akibat kebakaran hutan di Indonesia pada tahun 1997, serta fenomena El Nino yang menyebabkan kebakaran hutan gambut di Malaysia. Saya ingat, bagaimana pada waktu itu lebih dari 1.200 personil Bomba diberangkatkan ke Riau untuk membantu pihak Indonesia mengatasi kebakaran hutan dan lahan,” kata Dato’ Hamzah yang menjadi komandan dalam tugas memadamkan api ke Riau waktu itu. Dalam kesempatan itu juga dibicarakan perihal hubungan kerja sama di bidang pendidikan dan pelatihan. Bomba menawarkan pendidikan dan pelatihan kepada Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru untuk mengirimkan sejumlah anggotanya ke Akademi Bomba. Akademi Bomba adalah pusat pendidikan dan latihan tentang pemadam kebakaran dan penanggulangan bencana, yang pamornya sudah mendunia. Menurut Dato’ Hamzah, lebih dari 120 negara sudah mengirimkan anggotanya ke Akademi Bomba yang merupakan rangkaian dari jalinan kerja sama sesama fire fighter. “Terima kasih kalau begitu. Memang dari awal kami sudah menjajaki perihal kerja sama ini. Alhamdulillah Dato' sudah memulainya, dan kami dengan gembira menyambutnya. Insya Allah dalam waktu dekat kami akan mengirimkan beberapa anggota dulu untuk belajar di Malaysia sesuai dengan materi-materi yang kami perlukan,’’ kata Andi Syamsul Bakhri menjawab tawaran. Diawali Dari Bomba Melaka Perjalanan studi banding yang dilakukan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru berlangsung selama lima hari, yakni 19-23 Februari 2008. Rombongan berjumlah 22 orang. Di antara yang ikut adalah Kasubdin Operasional Drs Zul Azmi, Kasubdin Program Drs Suardiman, Kasubdin Pencegahan Drs Darwis, serta beberapa kepala seksi, komandan peleton dan komandan regu. Termasuk di antaranya seorang petugas pemadam kebakaran yang paling senior, H Yulizar. Yulizar sendiri adalah orang paling lama karena ia adalah salah satu orang yang pertama kali diangkat sebagai pegawai di Dinas Pemadam Kebakaran. Tidak heran apabila ilmu pengetahuan dan pengalamannya selama lebih dari 30 tahun menjadi acuan bagi yunior-yuniornya, termasuk petugas lapangan yang ada pada saat ini. Tahun depan Yulizar akan memasuki masa pensiun. Perjalanan ke Malaysia diawali dengan kunjungan ke Jabatan Bomba dan Penyelamat Malaysia Negeri Melaka pada Selasa (19/2). Mereka diterima langsung oleh Kepala Bomba Negeri Melaka pada sore hari, tepatnya dua jam setelah rombongan memasuki pelabuhan Melaka. Di Melaka, rombongan diperkenalkan tentang organisasi Bomba serta melihat-lihat armada yang dimilikinya. Dari Melaka, rombongan melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur. Pada keesokan harinya, sekitar pukul 10.00 waktu Malaysia, rombongan melanjutkan studi banding ke Kantor Pusat Bomba Malaysia di Putra Jaya. Di sini, mereka diterima oleh Kepala Bomba dan Penyelamat Malaysia, Dato’ Hamzah. Sama dengan di Melaka, mereka juga diperlihatkan berbagai jenis kendaraan dan peralatan penyelamatan serta cara-cara penggunaannya. Pada kesempatan ini Andi Syamsul Bakhri diminta untuk mencoba menaiki sepeda motor unit gerak cepat. Sepeda motor ini memiliki fungsi berbeda-beda tergantung dari peralatan yang ada padanya. Yang paling mendapat perhatian adalah fungsi pemadaman., Meskipun hanya terdapat 6 liter air yang dikantonginya namun ia dapat memadamkan kebakaran yang luas area bakarnya. Ini bisa terjadi karena terdapat pompa sembur yang menyemburkan air dengan tekanan tinggi. Sepeda motor ini berukuran besar dari sepeda motor biasanya. Beratnya saja 300 kilogram dengan kekuatan 1.300 cc. Dari Kantor Pusat Bomba di Putra Jaya, rombongan langsung bertolak ke Akademi Bomba di Kuala Kubu Baru, Selangor. Di tempat pusat pelatihan ini anggota Dinas Pemadam Kebakaran diperkenalkan dengan sistem pendidikan serta menyaksikan kelengkapan alat peraga yang dimilikinya. Tentang hal ini Andi Syamsul Bakhri menyatakan keberkesanannya dan kembali mengutarakan minatnya untuk mengirimkan anggota ke Akademi Bomba. “Saya betul-betul terkesan. Mudah-mudahan kita bisa menyerap ilmu pemadam kebakaran mereka,” kata Andi menjawab Riau Pos di sela-sela kunjungan. Yang menarik, di Akademi Bomba ini terdapat beberapa orang wanita. Dari data Akademi Bomba jumlahnya lebih dari 10 persen. Meskipun wanita, mereka tidak canggung keluar-masuk gedung asap –yang dipenuhi asap buatan sebagai wadah untuk melatih kecakapan pegawai Bomba menyelamatkan korban kebakaran. Mereka juga sudah biasa berdekatan dengan api, serta memainkan selang air pemadam kebakaran. Noor (22), salah seorang anggota muda Bomba, mengatakan, menjadi seorang petugas pemadam kebakaran dan penyelamat Bomba Malaysia adalah cita-citanya sejak kecil. Menjadi pemadam kebakaran di mata Noor adalah pekerjaan yang mulia. Hasilnya tidak hanya dipetik di dunia saja, tetapi juga di akhirat nanti. “Saya bangga dan bahagia bisa menjadi penyelamat manusia dari bencana kebakaran,” katanya kepada Riau Pos. Setelah puas melihat-lihat suasana pelatihan di akademi, rombongan bertolak ke Kuala Lumpur untuk melanjutkan perjalanan ke Bomba Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur. Di Bomba Kuala Lumpur rombongan kembali mendengar penjelasan dari Kepala Bomba Kuala Lumpur. Di akhir kunjungan, Kepala Dinas Andi Syamsul Bakhri mengucapkan terima kasih atas sambutan yang diberikan Bomba Malaysia kepada Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru. “Kami sangat bersyukur sekali karena dalam kunjungan singkat ini kami sudah mendapatkan apa-apa yang menjadi harapan kami sebelumnya. Istilahnya di Malaysia ini kami sudah ‘buka mata buka wawasan’-lah,” katanya.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





