| Kapolres Inhil AKBP Marudut Hutabarat |
| Minggu, 02 Maret 2008 | |
|
”Kasus Ini Harus Diselesaikan Bersama’’
Belum ada jawaban konkret yang melatar belakangi maraknya aksi perampokan di Kabupaten Indragiri Hilir dua tahun terakhir. Bahkan Kapolres Inhil AKBP Marudut Hutabarat mengatakan, hal itu perlu dilakukan penelitian, sebab sampai saat ini belum ada jawaban yang pasti tentang hal itu, mengingat korbannya rata-rata bukan orang yang terlalu kaya. Tapi yang pasti, salah satu penyebabnya adalah faktor ekonomi dan rendahnya tingkat pendidikan, sehingga mereka lebih memilih mengambil jalan pintas untuk menghasilkan uang. Selama tahun 2007 saja, ada 82 kasus perampokan yang terjadi di Inhil. Kondisi tersebut menjadikan kasus perampokan ini salah satu titik perhatian Marudut yang baru sekitar satu bulan menjabat Kapolres Inhil. Dalam masa kepemimpinannya, sudah tiga dari tujuh perampok yang menjadi target operasi pihak kepolisian, berhasil ditembak mati. Mereka ditembak karena melakukan perlawanan ketika hendak dibekuk. Untuk mengetahui lebih jauh langkah apa saja yang telah dan akan dilakukan Polres Inhil untuk memberantas aksi kasus perampokan di Inhil ini, wartawan Riau Pos Ahmad Fitri dan Monang Lubis mewawancarai Kapolres Inhil AKBP Marudut Hutabarat di ruang kerjanya, Selasa (26/2). Berikut petikannya: Selama ini sejauh mana usaha polisi mengamankan kampung-kampung yang diteror pelaku perampokan? Selain menurunkan personel untuk melakukan perburuan terhadap para pelaku perampokan, kita juga telah berkoordinasi dengan seluruh Polsek yang ada di wilayah Inhil untuk tetap siaga dan terus melakukan patroli, karena kapan saja aksi serupa dapat terjadi. Kita secepatnya akan menempatkan polisi perairan dan udara di beberapa titik, sehingga kemanapun pergi para perampok usai beraksi akan terpantau dengan jelas. Apakah jumlah personel Polres juga akan ditambah dengan mendatangkan personel dari Polda atau Brimob? Sampai sejauh ini belum karena masih memberdayakan yang ada. Dalam waktu dekat, dipastikan personel Polairud yang akan ditambah, itupun tidak terlalu banyak. Keberadaan mereka untuk melengkapi personel Polairud yang ada saat ini. Karena aksi perampokannya berada di daerah perairan yang memiliki kemampuan lebih untuk menindak lanjutinya tentu Polairud dibantu dengan polisi dari Reskrim dan Intel. Tentang pelaku perampokan, apakah mereka pelaku lama atau pelaku baru? Sebagian mereka pelaku lama sedangkan sebagian lainnya pelaku baru. Tepatnya mereka bergabung dari beberapa daerah, misalnya Palembang dan Jambi serta warga tempatan. Tapi kecil kemungkinan mereka para pekerja illegal logging yang menjadi pengangguran pascaditertibkan. Sebab sebelum illegal logging ditertibkan, aksi perampokan sudah memang ada sejak tahun 2005. Bahkan untuk tahun 2006 lalu ada 44 kasus dan sudah ditangani sampai tuntas 17 kasus. Dalam aksinya mereka menggunakan senjata api, dari mana asal senjata api tersebut? Belum tahu dari mana mereka mendapatkan senjata api itu. Dan perlu dicatat pula bahwa senjata api yang mereka bawa dalam setiap beraksi apakah senjata api benaran atau senjata api mainan. Jika senjata api benaran tentu harus dibedakan pula, senjata api tersebut rakitan atau pabrikan. Sampai sejauh ini belum bisa diprediksi, tapi biasanya mereka menggunakan senjata api rakitan sehingga belum diketahui darimana mereka mendapatkannya. Berapa jumlah mereka sebenarnya? Jumlah mereka belum bisa dibeberkan karena masih diburu. Tapi yang pasti, setiap beraksi jumlah mereka di atas lima orang dan mereka membentuk kelompok. Dan nama-nama mereka sudah terdaftar tinggal memburu mereka dilengkapi barang bukti hasil rampokan jika hendak membekuk mereka. Dari data yang kita miliki, selama ini aksi perampokan dilakukan malam hari, jikapun ada siang hari itu hanya satu dua kali atau tepatnya dapat dihitung dengan jari. Selama ini pelaku beraksi di desa yang terpencil, apakah ada kemungkinan mereka semakin berani lalu beraksi di kecamatan atau malah di Kota Tembilahan? Hal itu kecil kemungkinan, jikapun mereka berani sama saja mereka menyerahkan diri. Sebab personel sudah disiapkan untuk mengantisipasi segala sesuatu, terutama aksi perampokan yang terjadi di daratan. Apakah ada data warga desa atau dusun yang diteror perampok? Data tentang itu ada, tapi belum konkret. Tapi yang pasti, aksi perampokan terjadi di hampir setiap kecamatan. Jadi dapat dipastikan berapa banyak warga yang merasa diteror atas kasus itu. Sejauh ini sudah ada korban jiwa? Belum ada korban jiwa, hanya ada korban luka akibat sabetan golok dan benda tajam lainnya. Mereka memang kejam tapi tidak sampai menghabisi korbannya. Selama ini kan ada namanya Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling), bagaimana efektivitasnya dan apakah ada dukungan dari pihak kepolisian? Seharusnya Siskamling tumbuh dari keinginan masyarakat. Jika ingin lingkungan aman tentu dilakukan Siskamling. Tapi jika mereka memerlukan tenaga untuk memberikan pengarahan dan pelatihan, kepolisian siap melakukannya. Tapi yang terpenting untuk mengungkap kasus, jika terjadi aksi apapun, kecepatan masyarakat dalam memberikan laporan sangat diperlukan untuk menjawab berhasil atau tidaknya upaya kepolisian dalam melakukan perburuan. Perlukah dukungan dari pihak lain? Polisi tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan dari pihak lain terutama Pemda dan tokoh masyarakat. Tanpa dukungan, apa yang diharapankan tidak akan akan tercapai dengan maksimal. Dan untuk Pemda, sejauh ini sangat mendukung seluruh program kepolisian dan hal itu memang suatu hal yang sangat menggembirakan.(fia) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





