• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Sabtu, 30 Agustus 2008 || 28 Syakban 1429 Hijriah
Total SportSaatnya Juara

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaSepakati Multi Tafsir Perjuangan Pers

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Malam-malam Kelam di Perkebunan
Minggu, 02 Maret 2008
Laporan AHMAD FITRI, Tembilahan Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
SUATU malam di perkebunan kelapa di parit Sungai Mahmud, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) delapan bulan yang lalu. Malam itu seluruh penghuni sekitar 25 rumah yang letaknya saling berjauhan masih terlelap setelah penat bekerja di kebun pada siang harinya. Di kesunyian malam itu hanya terdengar suara jangkrik dan aliran air anak sungai yang membelah kampung yang terletak di pedalaman RT Sungai Jepun Kelurahan Sungai Perak Kecamatan Tembilahan ini.

Menjelang pukul 03.00 dini hari kesunyian tiba-tiba pecah. ‘’Brak, brak, brak...,’’ tiba terdengar hentakan kuat dari sebuah batang pohon pinang ke pintu sebuah rumah warga Sungai Mahmud. Rupanya ketika itu kawanan perampok mendobrak pintu rumah milik Sirajuddin, petani kelapa berusia 70 tahun. Pintu rumah pria tua ini akhirnya jebol setelah didobrak sebanyak tujuh kali oleh lima perampok.

Sirajuddin bersama istrinya Nur Alang dan dua anaknya Suryadi dan Martini langsung terbangun mendengar suara keras tersebut. Mereka kemudian berteriak meminta tolong. Tanpa bisa berbuat banyak mereka kemudian ditawan oleh lima orang perampok yang memasuki rumah. Suryadi mencoba keluar rumah namun disuruh salah satu perampok untuk tetap di tempat.

Dua orang perampok kemudian mendekati Sirajuddin dan memukul punggungnya dengan pangkal parang. ‘’Kamu jangan bergerak,’’ ujar seorang perampok kepadanya seraya mencari harta benda yang dimiliki keluarga ini.

Ancaman tidak hanya ditujukan kepada pria bertubuh kecil ini, perampok juga mengancam akan menculik dan membunuh putrinya jika Sirajuddin tidak menyerahkan harta dan uang yang dimiliki.

Kepada Nur Alang perampok menanyakan mana uang Rp10 juta. ‘’Uang itu sudah saya belanjakan,’’ kata perempuan berusia 54 tahun ini. Si perampok kemudian menanyakan lagi mana emas dan kalung besar yang dimilikinya. ‘’Saya sudah 34 tahun tinggal di sini tapi tak pernah punya kalung besar,’’ bantah Nur Alang.

Mendengar jawaban itu kawanan perampok lalu memukul perempuan itu dan membentak serta mengancam akan menembak suaminya. ‘’Saya jangan dibentak, kalau dibentak nanti saya tidak ingat lagi apa yang saya miliki,’’ katanya lagi.

Usai membentak dan mengancam, salah seorang perampok yang membawa tombak panjang kemudian masuk ke kamar Sirajuddin. Setelah mengobrak-abrik isi lemari perampok berhasil membawa uang senilai Rp5 juta, emas tiga mayam dan dua buah hand phone.

Usai menyikat uang dan harta milik keluarga Sirajuddin, kawanan perampok kemudian keluar rumah. Nur Alang lalu mengantar kawanan perampok ke luar rumahnya layaknya mengantar tamu yang berkunjung. Di luar rumah ternyata masih ada kawanan perampok yang lain yang sedang menunggu aksi rekan-rekan mereka.

Di luar rumah itu perampok kemudian berunding. Tingkah mereka ternyata tetap disaksikan Nur Alang dari pintu rumahnya. ‘’Tutup pintu dan jangan melapor,’’ bentak salah seorang perampok kepada Nur Alang.

Perempuan malang ini kemudian menutup pintu rumah dan berkumpul bersama keluarga sambil meratapi kejadian tragis yang baru terjadi. Peristiwa kelam ini kemudian dilaporkan Sirajuddin kepada Ketua RT Sungai Jepun pada pagi harinya.

Parit Sungai Mahmud bisa ditempuh melalui jalan darat dan lewat sungai dari Sungai Jepun. Kampung perkebunan ini berjarak sekitar 500 meter dari Sungai Jepun. Daerah ini bisa ditempuh lewat darat maupun lewat sungai dari Sungai Jepun. Lewat darat perjalanan bisa ditempuh sekitar 15 menit dengan menggunakan sepeda. Riau Pos yang menelusuri Sungai Mahmud dari Sungai Jepun menggunakan speed boat bermesin 40 PK memerlukan waktu sekitar 10 menit untuk mencapai perkebunan ini.

Dari ibu kota Kabupaten Inhil Tembilahan, RT Sungai Jepun bisa ditempuh selama 20 menit perjalanan dengan speed boat bermesin 40 PK. Pada umumnya warga di daerah ini sering menggunakan pompong atau perahu kecil bermesin untuk bepergian ke Tembilahan. Dengan transportasi pompong perjalanan ke Tembilahan harus menyeberangi dan melintasi Sungai Indragiri yang memakan waktu sekitar 45 menit .

Sungai Indragiri memang satu-satunya jalur transportasi yang menghubungkan Sungai Jepun dengan Kota Tembilahan. Warga Sungai Sungai Mahmud sendiri merupakan parit yang berbatasan dengan wilayah Kecamatan Kuala Indragiri yang beribu kota Sapat. Dengan kondisi geografis seperti ini, tentu saja daerah Sungai Mahmud dan Sungai Jepun sangat terpencil, walaupun kedua daerah ini masih dalam wilayah geografis Kecamatan Tembilahan.

Peristiwa perampokan yang menimpa keluarga Sirajuddin menimbulkan rasa trauma yang mendalam. Akibat pukulan keras di punggungnya, Sirajuddin perlu waktu setengah bulan untuk memulihkan rasa sakit yang dideritanya.

Trauma yang paling dalam dialami putranya, Suryadi. Ketika perampok mendobrak pintu rumah, pria berusia 29 tahun ini tidur di kamar depan yang berdekatan pintu rumah. Suryadi yang merasa paling kaget dengan suara keras dobrakan pintu. Sampai saat ini dia sering tak bisa tidur ketika mendengarkan suara keras yang berasal dari luar rumah.

Sebulan setelah kejadian, Sirajuddin memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih aman, yaitu ke RT Sungai Jepun yang letaknya di tepian Sungai Indragiri. Rumah mereka di Sungai Mahmud dibongkar habis. Seluruh bangunan mulai dari atap hingga tongkat rumah dibawa ke Sungai Jepun untuk dibangun kembali menjadi sebuah rumah yang bentuknya persis sama dengan rumah mereka di Sungai Mahmud.

Perampokan di Sungai Mahmud hanya dialami keluarga Sirajuddin. Namun karena merasa khawatir dengan keamanan di kampung mereka, banyak keluarga di perkebunan ini kemudian mengikuti jejak keluarga Sirajuddin untuk pindah ke Sungai Jepun. Di sini mereka kemudian membangun perkampungan baru yang berdekatan dengan rumah-rumah penduduk yang telah ada. Saat ini sekitar 20 KK sudah menempati perkampungan baru itu. Sementara itu masih ada sekitar lima rumah lagi yang masih berdiri di Sungai Mahmud.

‘’Walaupun lima rumah itu masih berdiri, namun kebanyakan rumah-rumah itu hanya dihuni pada siang hari sebagai tempat istirahat petani yang masih merawat dan memanen kebun kelapa. Pada malam harinya para petani kembali ke Sungai Jepun untuk beristirahat di tempat tinggal mereka yang baru. Rumah yang masih berdiri di Sungai Mahmud juga akan dipindahkan pemiliknya ke Sungai Jepun dan itu hanya menunggu waktu,’’ ujar Alimuddin, Sekretaris RT Sungai Jepun yang mendampingi Sirajuddin saat berbincang-bincang dengan Riau Pos di Sungai Jepun, Selasa (26/2).

Di Sungai Mahmud, Sirajuddin memiliki kebun kelapa sejumlah 18 baris. Sebaris kebun kelapa yang dimilikinya terdiri dari 35 batang pohon kelapa. Setelah menetap di Sungai Jepun, Sirajuddin bersama putranya masih mengerjakan kebun mereka setiap pagi hingga sore hari.

Mengganas di Sungai Perak

Nasib tragis yang dialami Sirajuddin ternyata menjalar ke petani kelapa di Sungai Perak. Tiga bulan lalu, pada Desember 2007 empat rumah petani di Parit 1 Kelurahan Sungai Perak turut didatangi perampok.

Yuliana, 24 tahun, salah satu korban yang kini menetap di Jalan Bersama Tembilahan kepada Riau Pos, Rabu (27/2) mengisahkan, perampokan yang dialami keluarganya terjadi sekitar pukul 00.14 tengah pada suatu malam di bulan Desember 2007 itu. Ketika itu dia bersama suaminya Irham dan dua anaknya Mulyandi yang berusia 5 tahun dan Samiati yang masih bayi 2 tahun langsung terkesiap ketika kawanan perampok mendobrak pintu rumahnya.

Dengan sekali dobrak memakai kayu sepanjang lima meter kawanan perampok berhasil menjebol pintu rumah. Tiga perampok langsung memasuki rumah setelah menjebol pintu dan masih banyak lagi yang lainnya berkumpul di luar rumah.

Irham langsung diikat dan kemudian Yuliana diancam dengan sebilah parang. Perampok hanya sekitar lima menit di rumahnya. Setelah menyikat perhiasan emas dan uang senilai Rp2 juta kawanan perampok lalu ke luar rumah. Yuliana kemudian mengintip keluar rumah dan menyaksikan kawanan perampok jumlahnya mencapai sembilan orang.

Pada malam itu rupanya terjadi empat kali perampokan di Parit 1 Sungai Perak. Rumah Yuliana merupakan rumah kedua yang dirampok. Usai merampok rumahnya ternyata kawanan perampok melanjutkan aksinya merampok dua rumah lagi pada malam itu.

Di rumah yang ketiga, korban mengalami luka parah karena perampok tidak bisa mendapatkan uang yang dimiliki korban. Pemilik rumahnya dikabarkan menyimpan uang di bank sehingga tidak banyak uang yang ada di rumah. Kesal tak bisa mendapatkan uang dalam jumlah besar perampok melukai penghuni rumah ini. Kabarnya korban harus dirawat beberapa bulan di rumah sakit karena akibat aksi sadis itu korban mendapatkan ratusan jahitan di seluruh tubuhnya.

Sama dengan yang dialami keluarga Sirajuddin di Sungai Mahmud, Yuliana juga masih dihingapi rasa trauma yang mendalam. Ketika ditemui Riau Pos di rumah orangtuanya di Tembilahan, Yuliana terlihat masih trauma dengan apa yang dialaminya tiga bulan yang lalu.

Keluarganya juga memutuskan untuk tidak lagi menetap di Parit 1 tapi memilih mengungsi ke rumah orang tuanya di Tembilahan. Di Parit 1 warga yang pindah rumah tidak sebanyak yang dialami di Sungai Mahmud. Dari sekitar 60 kepala keluarga (KK) yang tinggal di Parit 1 hanya sebagian kecil yang memindahkan rumah mereka ke Sungai Perak.

Rumah Yuliana masih berdiri di Parit 1 dan saat ini suaminya tiap hari masih berangkat ke Parit 1 dari Tembilahan untuk merawat kebunnya. ‘’Kami ingin menenangkan diri dulu di rumah orangtua di Tembilahan. Nanti jika situasi keamanan sudah memungkinkan kami akan kembali ke Parit 1. Karena di sana ada empat baris kebun kelapa yang mesti dirawat dan dijaga,’’ kata Yuliana.

Sama dengan Sungai Jepun, Kelurahan Sungai Perak terletak di tepian Sungai Indragiri dan berjarak sekitar 1 kilometer dari Sungai Jepun. Dan dari Tembilahan jarak tempuh ke Sungai Perak lebih dekat dibandingkan ke Sungai Jepun.   

Sudah Tradisi

Kehidupan petani kelapa di Inhil tinggal di parit-parit memang sebuah tradisi yang sudah berlangsung lama. Informasi yang dihimpun Riau Pos dari berbagai sumber, petani kelapa yang bermukim kebun yang ada di parit-parit sudah berlangsung sejak tahun 1960-an.

Parit-parit yang ada merupakan anak-anak Sungai Indragiri yang menghubungkan berbagai kecamatan di Inhil. Di sepanjang tepian Sungai Indragiri di seberang Kota Tembilahan menuju Desa Pulau Palas diperkirakan terdapat sekitar 25 parit. Sementara itu jika ditempuh lewat darat, jarak Tembilahan ke Pulau Palas mencapai 15 kilometer.

Di parit-parit inilah kebanyakan petani kelapa bercocok tanam sejak puluhan tahun silam. Kebun kelapa biasanya dibangun di daerah yang berjarak 1-2 kilometer dari tepian Sungai Indragiri. Hal ini dilakukan agar kebun yang dibangun tidak mudah digenangi luapan sungai. Di kebun-kebun ini petani juga sekaligus membangun rumah tempat tinggal mereka.

Kondisi geografis seperti inilah yang membuat kawasan perkebunan kelapa di Inhil menjadi rawan terhadap perampokan. Ketika perampok datang di tengah malam gelap gulita seperti yang terjadi akhir-akhir ini tentu saja mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Kasus Terbanyak di Riau

Menanggapi maraknya aksi perampokan di Inhil, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Inhil AKBP Marudut Hutabarat mengatakan bahwa perampokan atau pencurian dengan kekerasan yang marak akhir-akhir ini sudah terjadi sejak 2006. Semua kejadian berlangsung pada malam hari dan hampir terjadi di setiap kecamatan di Inhil. Yang jadi sasaran korban pada umumnya adalah petani kelapa yang tinggal di perkebunan.

Kepada Riau Pos di Mapolres Inhil di Tembilahan, Selasa (26/2), Marudut memaparkan, pada 2006 terjadi 44 kasus perampokan dan pada 2007 terjadi 82 kasus perampokan. Sepanjang 2006 Polres Inhil berhasil menangani 17 kasus dan pada 2007 kasus yang berhasil ditangani mencapai 13 kasus perampokan. Jumlah kasus perampokan di Inhil dinilai yang terbesar di Riau.

Menurut Marudut, kasus terbesar terjadi di Kecamatan Mandah, Batang Tuaka, Tembilahan Hulu dan Enok. Dari berbagai laporan yang diterima dari masyarakat diperoleh juga informasi bahwa ada perampok yang menggunakan senjata api.

Untuk menindak pelaku perampokan pihak Polres sudah melakukan pertemuan dengan tokoh masyarakat agar bisa menangani kasus ini secara bersama-sama. Polres Inhil sendiri, ujar Marudut, sudah menindak tegas tiga pelaku yang ditangkap aparat. Tiga pelaku yang melakukan aksi perampokan di Parit Cempaka Kecamatan Tembilahan Hulu telah ditembak mati.

Marudut mengutarakan, bahwa kondisi geografis lokasi perampokan yang terpencil juga membuat polisi kesulitan mengejar mereka. ‘’Dengan kondisi seperti ini tentu saja polisi memerlukan sarana yang memadai untuk mengimbangi aksi mereka. Aksi perampokan mereka lakukan dengan menggunakan speed boat. Karena itu kita juga memerlukan Pol Airud untuk ditempatkan di beberapa titik yang tinggi tingkat kerawanannya,’’ katanya lagi.

Polres Inhil tampaknya tidak mau menyerah dengan kondisi geografis daerah Inhil. Marudut memerintahkan personelnya untuk terus melakukan perburuan terhadap para pelaku perampokan. Polres Inhil juga telah berkoordinasi dengan seluruh Polsek yang ada di Inhil untuk tetap siaga dan terus melakukan patroli. Karena aksi perampokan kapan saja bisa terjadi.

Tidak hanya sampai di situ, Marudut juga mengatakan pihaknya secepatnya akan menempatkan polisi perairan dan udara di beberapa titik. Dengan demikian ke mana pun para perampok pergi usai beraksi akan terpantau dengan jelas. ‘’Polisi tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan dari pihak lain terutama Pemda dan tokoh masyarakat tentu saja apa yang kita harapkan tidak akan tercapai dengan maksimal. Dan Pemda sejauh ini sangat mendukung seluruh program kepolisian untuk menumpas aksi perampokan,’’ ujar Marudut menambahkan.

Dukung Kepolisian

Tentang upaya yang dilakukan oleh aparat kepolisian, Bupati Inhil H Indra Muchlis Adnan mengatakan bersyukur atas upaya yang telah dilakukan. Pemkab Inhil, kata dia, juga sudah menggelar rapat Muspida agar masalah perampokan ini segera dituntaskan.

Untuk mendukung upaya kepolisian, Pemkab Inhil juga telah membantu polisi dengan menyediakan speed boat yang berkecepatan tinggi. Dukungan ini diberikan agar polisi tidak kalah cepat dengan perampok.

Bupati Indra juga menyayangkan terjadi aksi perampokan ini ketika ekonomi masyarakat Inhil dalam kondisi membaik. Dan dia membantah meluasnya aksi ini jika dikaitkan dengan persoalan tingginya angka kemiskinan di Inhil. ‘’Kasus ini tidak ada sangkut paut dengan persoalan kemiskinan di Inhil, karena aksi ini sudah merupakan sindikat yang kuat,’’ ujar Indra ketika ditemui Riau Pos di sebuah kedai kopi di Tembilahan, Selasa(26/2).

Menyikapi aksi perampokan ini, Pemkab Inhil sedang melakukan pendataan terhadap desa-desa yang mengalami aksi perampokan. Menurutnya, terjadinya aksi perampokan tidak lepas dari kondisi pemukiman penduduk di perkebunan yang letaknya berjauhan satu sama lain. Dan kondisi seperti ini memang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Inhil yang tinggal di perkebunan.

Indra juga merasa risau dengan banyaknya petani kelapa yang harus mengungsi dan memindahkan rumah mereka ke tempat baru karena mencari keamanan. ‘’Ini jangan dibiarkan berlama-lama karena produksi perkebunan kita bisa terganggu jika petani tidak maksimal mengolah kebun mereka,’’ ujar Indra risau.

Kerisauan atas nasib petani yang dirampok turut dikemukakan Wakil Ketua DPRD Inhil H Syamsuri Latif. Untuk itu Komisi A DPRD Inhil sudah sering membicarakan kasus perampokan ini dan anggota komisi juga sudah melihat kondisi sejumlah daerah yang dirampok dan tempat petani mengungsi dan berpindah.

Syamsuri juga memuji langkah polisi yang terus bertindak untuk menangkap pelakunya. Langkah yang dilakukan polisi harus terus dilakukan agar warga semakin memiliki jaminan keamanan.

Soal keluhan pihak kepolisian terhadap keterbatasan sarana yang dimiliki, Syamsuri mengutarakan pada dasarnya DPRD Inhil mendukung jika ada upaya Pemkab Inhil untuk mendukung operasional kepolisian. Hanya saja ada aturan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI yang melarang Pemda membantu anggaran kepolisian.

Dikatakan, inilah yang perlu dicari jalan keluarnya. Untuk mendukung pemulihan keamanan di Inhil, dia juga mengimbau agar Muspida perlu berunding dan jangan berjalan masing-masing. ‘’BPK tidak membolehkan APBD untuk membantu kepolisian, tapi perlu dicari jalan lain agar polisi bias bergerak untuk memulihkan keamanan,’’ ujar mantan KUA Teladan se-Riau ini.

Syamsuri berujar, DPRD tidak punya hak untuk memutuskan masalah ini. Dinas lah yang menjalankan. DPRD hanya punya kewenangan untk memfasilitasi. Sedangkan yang bertindak adalah pemerintah. ‘’Yang paling penting harus ada posko penjagaan di setiap sudut. Dengan demikian tidak ada celah lagi bagi perampok untuk lari,’’ ujar politisi dari Partai Golkar ini.(fia)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org