Jumat, 21 November 2008 || 22 Zulqaidah 1429 Hijriah
Total SportFantastis

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTindak Tegas Biro Travel Telantarkan JCH di Malaysia

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Surat-surat Persia
Selasa, 26 Pebruari 2008
Oleh Hasan Junus
Trias politika merupakan sumbangan pikiran Charles de Secondat baron de la Brède et de Montesquieu dalam bidang hukum tatanegara  melalui karyanya De l’esprit des lois (1784) yang membagi kekuasaan menjadi tiga yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Akan tetapi Monstesquieu juga seorang tukang cerita yang mengasyikkan yang salah-satu karyanya berbentuk roman epistolaire Les lettres persanes (1721; Surat-surat Persia). Kisah yang dibentangkan terdiri dari surat menyurat antara  dua orang Persia yang berkunjung ke Eropa kepada teman-teman di negeri mereka mengenai  peradaban Barat dan sélok-bélok dan liuk-liku kehidupan di sana. Kedua wakil dari kebudayaan Persia itu terdiri dari seorang bangsawan Persia bernama Usbeck bersama temannya yang lebih muda Rica yang menjejakkan kaki di Paris pada bulan Mei tahun 1712. Mereka baru pulang ke negerinya delapan tahun kemudian. Drama  menggetarkan di Persia yang bersimbah darah, sistem monarki dan gambaran sosial dan politik serta tatakrama di Eropa yang sangat berbeda dengan di Persia. 


MESKIPUN saya tak mempunyai Les lettres persanes tetapi untunglah beberapa buku lama yang ada pada saya menyebabkan sebagian karya Montesquieu berhasil saya dapatkan. Buku-buku lama itu ialah di antaranya PM Maas, Les Grandss écrivains français – Esquisse historique et anthologie ilustrée de la littérature française, LCG Malmberg dan karya susunan bersama JB Besançon et W Struik, Abrégé de l’histoire de la littérature française, JB Wolters, Groningue / Batavia, 1938.

   Dalam surat ke-37 dari Usbeck di Paris kepada Ibben di Smyrna tertera keterangan sebagai berikut: Raja Perancis telah tua. Tak ada contoh seorang raja yang memerintah dalam sejarah kita selama masa pemerintahannya di dunia ini. Kata orang konon raja ini mempunyai bakat untuk ditaati. Keluarga, istana dan negaranya diperintah dengan kepiawaian yang sama. Telah  saya pelajari baik-baik sifat tokoh ini tapi ia penuh dengan kontradiksi sehingga sangat sulit memahaminya. Misalnya salah-seorang menterinya baru saja berusia delapan belas tahun dan salah-seorang gundik kesayangannya sudah berusia delapan puluh tahun. Dalam sosok asli bagian ini tertulis sebagai berikut: Le roi de France est vieux. Nous n’avons point d’example dans nos histories d’un monarque qui ait si longtemps régné. On dit qu’il possède à un très haut degré le talent de se faire obéir: il gouverne avec le même génie sa famile, sa cour, son Etat. J’ai étudié son caractère, et j’y ai trouvé des contradictions qu’il m’est impossible de résoudre. Par exemple: il a un ministre qui n’a que dix-huit ans, et une maîtresse qui en a quatre vingts.

   Tentang menteri raja Louis XIV yang baru berusia delapan belas tahun saya tak mendapat keterangan apa dan siapanya. Tapi tentang gundik atau selirnya yang mencapai usia delapan puluh tahun jelas sekali sang tukang cerita Montesquieu menunjuk kepada seorang perempuan yang bernama Madame de  Maintenon.

   Siapakah dia?

   Nama lengkap Mme de Maintenon ialah Françoise d’Aubigné marquise de Maintenon yang lahir di Niort tahun 1635 dan meninggal-dunia di Saint Cyr tahun 1719. Dia menjadi isteri penyair Scarron, dan ketika berusia 17 tahun sang markise menjadi janda karena penyair suaminya meninggal. Sebagai janda muda dia bertugas mendidik putera puteri Le Grand Louis XIV Le roi soleil atau Sang Raja Matahari. Pada masa inilah konon bermulanya Mme de Maintenon dikenal sebagai gundik kesayangan sang raja. Pada tahun 1683 ketika Louis XIV berusia 35 tahun dan Mme de Maintenon berusia 48 tahun ratu Marie-Thérèse meninggal-dunia; konon  pada masa itulah Louis XIV menikahi Mme de Maintenon sampai mereka meninggal. Louis XIV berakhir hayatnya pada tahun 1715 pada usia 77 tahun, sedangkan Mme de Maintenon meninggal-dunia pada tahun 1719 dalam usia 84 tahun.

   Orang tak perlu resah menghadapi keterangan tentang seorang penguasa yang bergundik dengan perempuan yang umurnya delapan puluh tahun. Tidak akan menjadi perhatian dunia kalau Sang Raja Matahari itu mengambil seorang penari balet belasan tahun menjadi selirnya. Gempa baru terasa apabila Sang Raja Matahari Louis XIV mengambil selir seorang perempuan penari cacad seperti Manri Kim.

   Manri Kim, seorang perempuan berdarah Korea yang lahir dan besar di Jepang, sekarang berusia 54 tahun, seorang penari yang lumpuh karena didera penyakit celebral palsy dan polio.  Dia berhasil menjadi penari berkat pertemuannya dengan raksasa tari Jepang Kazuo Ohno pengembang aliran butoo yang kini sudah berusia 101 tahun. Seperti Mme de Maintenon yang tetap selir atau gundik dalam usia ke-80 begitulah Manri Kim terus menari di Jepang, di Korea, di Taiwan, di Amerika, di Eropa, di Jakarta juga mengibar-ngibarkan semangat  kata orang  yang mengerti tari dan seni sebagai the aesthetic of ugly. Karena itu jangan heran ada orang yang menggerakkan dana memakai sisi pandang bidadari jelita, malaikat penolong, tapi juga ada sisi sang setan yang indahnya juga bukan kepalang.  

Untuk menyempurnakan aneh dan keluar relnya karya Monstesquieu ini perlu dicacat sebagai tambahan bahwa Les letters persanes diterbitkan pada tahun 1721 di Belanda tanpa nama pengarangnya. Tanpa menyertakan nama pengarangnya.  Mengapa? Dan mengapa Belanda?

Kesempatan ini tak akan saya sia-siakan. Di Paris Usbeck dan Rica menjadi seperti ikan yang dikeluarkan dari kolam yang penuh. Mereka kehilangan panggilan azan dan suara orang tadarus Al-Quran malam-malam. Kalau saja Usbeck dan Rica datang ke Paris pada masa kini ia akan menulis surat tentang seorang menteri wanita yang muslimah di kabinet Perancis sekarang. Sekian juta penduduk beragama Islam datang dari Maroko, Aljazair, Tunisia, negeri-negeri Arab lainnya. Bahkan ia mungkin menulis surat ke tanah airnya tentang seorang pengarang Maroko yang menulis dalam bahasa Perancis yang bernama Tahar Ben Jelloun. Juga Usbeck dan Rica mungkin menulis tentang bunyi azan di Jerman oleh Gastarbeiter Turki yang sudah berjumlah tujuh juta jiwa. Tak jauh dari Gare du Nord pada suatu hari Jumat kedua orang Parsi itu melihat sekelompok orang, termasuk sedikit yang berasal dari negeri Iran bersembahyang dengan khusuk di trotoir. Mereka mendengar imam melantunkan Surah Al-Fatihah dan seorang  bapa berbangsa Perancis menerjemahkan ayat-ayat bahasa Arab itu kepada  anaknya (saya padankan dari Le Coran terjemahan Régis Blachère) sebagai berikut: Au nom d’Allah, le Bienfaiteur miséricordieux. / Louange à Allah, Seigneur des mondes, / Bienfaiteur miséricordieux, /  Souverain du Jour du Jugement! / [C’est] Toi [que] nous adorons, Toi don’t nous demandons l’aide! / Conduis-nous [dans] la Voie Droite, / la Voie de ceux à qui Tu as donné Tes bienfaits,  qui ne sont ni l’objet de [Ton] courroux ni les Égarés. Suatu hari kelak mungkin Anda berpapasan dengan Usbeck dan Rica.***                            

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org