Kamis, 16 Oktober 2008 || 15 Syawal 1429 Hijriah
Total SportSony, Kido dan Nova Melaju ke Final

Minggu, 28 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaIdul Fitri, LE Undang Rakyat Riau

Minggu, 28 September 2008

article thumbnail

Kiat Sukses Menyusui
Minggu, 17 Pebruari 2008
Banyak ibu yang menyusui bayinya. Namun tidak banyak yang bisa menyusui dengan sukses. Maksudnya, selain bisa memuaskan dahaga si buah hati, juga bisa menghasilkan air susu ibu (ASI) yang berkualitas dan baik bagi bayi.

 Banyak ibu yang yakin benar akan manfaat ASI dan menyusui bagi kesehatan dan tumbuh kembang bayi.  Dan sudah menjadi pengetahuan umum pula, jika menyusui sangat bermanfaat bagi kesehatan ibu sendiri.  Tapi sayangnya, proses awal menyusui tak selalu berjalan mulus.  Menyusui adalah salah satu hal yang alamiah, tetapi untuk dapat melakukannya dengan sukses dan benar, ternyata perlu dipelajari dengan benar pula.

 Sesungguhnya sukses menyusui tak lepas dari persiapan yang dilakukan oleh ibu sejak masa kehamilannya.  Persiapan yang bagaimana?  Tak lain adalah dengan menerapkan pola hidup sehat dan memastikan ibu selalu memperoleh asupan makanan dan minuman yang bergizi. 

 Dan, jangan sepelekan juga perawatan payudara serta puting.  Kedua perawatan ini seringkali menjadi ’penyelamat’ bagi ibu dalam melewati masa-masa awal menyusui.  Kalaupun ibu mengalami puting lecet, seringkali lecetnya ringan saja. Awal yang baik niscaya membuat proses selanjutnya berjalan dengan baik pula.  Demikian juga halnya dengan menyusui. 

 Menurut WHO, early latch-on atau perlekatan segera setelah bayi lahir dan skin to skin contact merupakan kunci awal bagi sukses menyusui.  Yang dimaksud dengan latch-on atau perlekatan adalah masuknya puting beserta sebagian besar aerola (daerah kehitaman di sekitar puting) ke dalam mulut bayi, sehingga bayi dapat menyusu dengan baik. 

Segera setelah Lahir
 Umumnya, bayi dapat disusui segera setelah lahir atau paling tidak 30-60 menit setelah lahir.  Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa bayi baru lahir pun telah memiliki kemampuan untuk latch-on sendiri jika diberi kesempatan.  Proses ’inisiasi’ ini dilakukan dengan cara meletakkan bayi yang baru lahir di atas perut ibu.  Bayi kemudian dengan perlahan-lahan akan bergerak/merayap sendiri mencari payudara ibu.  Setelah menemukan puting payudara ibu, ia akan melakukan latch-on sendiri dan mulai menyusu. 

 Proses ini dapat memakan waktu 50 menit hingga satu jam, tetapi seharusnya ibu dan bayi diberi kesempatan ini.  Karena ternyata bayi yang mampu latch-on sendiri cenderung tidak atau sedikit memiliki masalah menyusu.  Reflek mengisap bayi paling kuat adalah selama kurun waktu satu jam pertama setelah ia lahir, setelah itu reflek ini akan menurun.  Itulah sebabnya, amat sangat disayangkan jika ibu dan bayi sampai kehilangan kesempatan perlekatan dini ini.

 Posisi bayi juga menjadi salah satu faktor pendukung perlekatan yang baik.  Salah satunya adalah posisi perut ke perut (tummy to tummy).  Tata laksana posisi ini adalah bayi berbaring menyamping dengan muka menghadap dada ibu sehingga mulut bayi dekat dengan puting payudara ibu, sedangkan perutnya menempel pada perut ibu. Telinga, bahu atau lengan bagian atas dan pinggul bayi harus berada pada satu garis lurus.

 Sentuhkan puting ke bibir bayi, ini akan mendorongnya membuka mulut lebar-lebar.  Tentang ini ada dua teori, yaitu menyentuhkan puting pada bibir bawah atau pada bibir atas bayi.  Anda dapat memilih mana yang lebih pas untuk si kecil, karena ada bayi yang lebih responsif bila bibir atasnya yang disentuh atau sebaliknya. Begitu bayi membuka mulutnya lebar-lebar, seperti menguap, dekatkan bayi ke payudara (bukan payudara yang digerakkan ke arah bayi).  Arahkan puting ke bagian langit-langit mulutnya dan masukkan puting beserta sebagian besar aerola. 

 Bayi Anda akan membentuk irama meyusu sendiri.  Setelah perlekatan, bayi akan terlihat semangat sekali menyusu.  Kemudian lambat laun gerakannya akan melambat dan bahkan ia dapat tertidur ditengah-tengah menyusu.  Bila ini yang terjadi, bangunkan si kecil (dengan menyentuh pipinya, menggoyang-goyangkan tangannya atau menggelitiki telapak kakinya) agar ia mengisap ASI lagi.

 Tapi seringkali pula ibu baru kebingungan, bagaimana cara mengetahui apakah perlekatan bayi pada puting sudah benar atau belum?  Yang jelas, bila ibu merasa kesakitan ketika menyusui, biasanya itu merupakan petunjuk bahwa perlekatan belum sempurna. 

 Pada masa-masa awal menyusui, walaupun perlekatan sudah benar, sering juga puting terasa agak nyeri yang biasanya akan hilang setelah ibu terbiasa menyusui.  Namun, bila ibu merasa sangat kesakitan atau bahkan puting sampai berdarah, ini merupakan indikasi kuat dari perlekatan yang belum benar.  Menyusui seharusnya menyenangkan, baik bagi ibu maupun bayi, dan bukannya menyakiti ibu. (dri/berbagai sumber)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org