| Paman, Ternyata Ayah Kandungku Sendiri |
| Minggu, 17 Pebruari 2008 | |
|
Selama delapan belas tahun aku tak pernah menyangka bahwa laki-laki yang selama ini kukenal sebagai ayahku ternyata hanya adik dari ayahku. Abas (nama samaran) yang selama ini mengasuhku, memberiku segala kehangatan sebagai seorang ayah, mengajariku berbagai hal, menasehati dengan hal-hal yang baik, bahkan menjodohkanku dengan laki-laki yang tampan dan berpendidikan, tak pernah sekalipun menjelaskan tentang orang tuaku yang sesungguhnya.
Aku masih ingat ketika aku mulai bisa mengenali orang-orang di sekitarku, terutama saat aku memanggil Abas dengan sebutan ayah. Saat itu aku merengek meminta sebuah sepeda, Abas terpaksa menjual satu-satunya kambing peliharaan keluarga kami, demi untuk membuatku merasa bahagia. Demikian juga dengan Yanti yang kukenal sebagai ibu yang ternyata juga bukan ibu kandungku. Sama seperti Abas, Yanti juga sangat menyayangiku seperti ia menyayangi anak kandungnya sendiri. Ia tak pernah bosan menghadapi kerewelanku, kemanjaanku bahkan kenakalanku ketika aku menginjak masa remaja. Ketika aku sakit dan harus dirawat di rumah sakit, ia dengan sabar menunggui aku. Bahkan untuk menutupi biaya perawatanku ia rela menjual semua barang berharga miliknya. Ia juga rela meminjam uang kepada rentenir yang membuatnya nyaris menjadi sapi perahan sang rentenir. Tapi dengan sabar ia terus berusaha melunasi hutang yang semakin lama justru menjadi semakin besar. Hingga akhirnya Yanti dan Abas sepakat untuk menjual dua petak sawah dan sebidang kebun yang menjadi sumber penghasilan untuk melunasi hutang yang semakin membengkak. Rahasia kehidupanku mulai terkuak ketika aku akan melangsungkan pernikahan. Saat akad nikah akan dilaksanakan, aku dikejutkan dan dibuat bingung dengan kehadiran seorang laki-laki tua yang duduk di sebelahku. Pun ketika akad nikah berlangsung, aku yang seharusnya meminta restu kepada Abas, tetapi penghulu memintaku untuk mendapatkan restu dari laki-laki tua di sebelahku itu. Aku masih ingat betul siapa laki-laki tua di hadapanku tersebut. Aku berkali-kali menghindarinya saat ia berusaha memelukku saat aku masih kecil. Setahun dua kali ia datang ke rumahku untuk bersilaturahmi dengan Abas dan Yanti. Setiap kali datang ia selalu membawa bingkisan untukku. Tetapi aku tak pernah mau menerimanya, bahkan aku menangis dan berlari ketika ia hendak memangku aku. Aku bahkan pernah sekali melihatnya menitikan air mata ketika aku dengan tegas menolak pemberiannya. Namun saat pernikahan itu ia berada begitu dekat denganku dan bahkan penghulu memintaku untuk mendapatkan restunya. “Siapa sebenarnya orang tua ini?” Gundah, bingung dan malu menyelimuti perasaanku saat itu. Kegundahanku kian bertambah saat ia dengan tangan gemetar memegang pundakku. Kata-katannya terbata-bata saat ia memberikan restunya kepadaku dan sesaat kemudian dari mulutnya terdengar ledak tangisan yang menyayat hati. Ia tiba-tiba memelukku dan menjerit pilu. “Aku ayahmu nak, aku ayahmu yang demikian lama meninggalkanmu. Maafkan ayah nak, maafkan ayah yang tak pernah bisa memberikanmu kebahagiaan,” jeritnya diselingi isak tangis dan air mata yang bercucuran. Tetapi aku masih bingung dengan kenyataan ini. Namun saat aku menoleh ke arah Abas dan Yanti yang berdiri di hadapanku yang juga sedang menangis, mereka menganggukan kepalanya tanda membenarkan apa yang dikatakan laki-laki tua itu. Sesaat kemudian, entah perasaan seperti apa yang kurasakan hingga air mata ini dengan deras mengalir dari mataku. Aku tak bisa berkata apa-apa, mulutku seperti terkancing dengan rapat. Hanya sesenggukan yang bisa keluar dari tenggorokanku yang tercekat. Acara pernikahan yang seharusnya bisa kami nikmati dengan senyum dan kebahagiaan mendadak menjadi banjir tangis kepedihan sekaligus keharuan. Dua hari sesudahnya aku baru bisa mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Yanti menceritakan bahwa ayah kandungku telah menyerahkan aku kepada mereka. Karena menurut Yanti, ayah tak sanggup merawatku ketika ibu kandungku harus tewas mengenaskan diterkam harimau saat berada di daerah transmigrasi dimana aku dilahirkan. Saat itu ayah tak ingin melihat aku tumbuh di daerah transmigrasi yang serba sulit dan mengenaskan. Saat ini aku tak tahu harus menyalahkan siapa dalam hal ini. Aku masih diliputi kegamangan dan kepedihan hati, manakala aku kembali mengingat perlakuan-perlakuan kasarku terhadap ayah kandungku saat ia menjengukku. Aku berharap waktu mengubah segalanya. Aku berharap suatu saat semuanya akan kembali berjalan normal dan kami bisa berkumpul kembali untuk menyatakan kasih sayang kami sebagai anak dan seorang ayah.(lin/int) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





