• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Kamis, 21 Agustus 2008 || 18 Syakban 1429 Hijriah
Total SportHarus Menang

Rabu, 20 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaMendagri Berhentikan Chaidir dari Ketua DPRD

Rabu, 20 Agustus 2008

article thumbnail

SCB: Menghapus Mitos Chairil Anwar
Minggu, 17 Pebruari 2008
(Bagian Pertama dari 2 Tulisan)
Oleh Maman S Mahayana 
    
Mitos Chairil Anwar terus menggelinding. Direproduksi guru-guru sekolah dalam pengajaran sastra; dipuja para penyair epigon sebagai manusia setengah dewa; dan para penyair medioker menyanjungnya sebagai sebuah monumen capaian estetik tertinggi dalam perjalanan perpuisian Indonesia. Para kritikus sastra pun diam, bergeming dan hanya bisa mengamini tanpa reserve. Maka ketika sesiapa pun berbicara melambungkan Chairil Anwar, hampir semua menyikapinya dengan pernyataan: setuju!
Nama besar Chairil Anwar telah meracuni sikap kritis. Tak ada yang berani mempertanyakannya kembali. Segalanya senyap dari usaha mencoba menggugat capaian estetiknya. Dengan sikap yang seperti itu, legenda Chairil Anwar sesungguhnya telah memasung para penyair Indonesia terus-menerus berada di bawah bayang-bayang kebesaran tokoh sentral Angkatan 45 itu. Monumen Chairil Anwar tetap menjulang sendirian, tidak tergoyahkan lantaran tidak ada seorang pun yang coba melakukan re-evalusasi atas prestasi dan capaian estetiknya. Ia telah menjadi sejarah yang sempurna.

        ***

Begitu paripurnakah capaian estetik Chairil Anwar sehingga tidak ada yang bernyali untuk melakukan gugatan. Tabukah kita menghancurkan mitos kepenyairannya dan menawarkan pandangan lain tentang penyair lain? Inilah beberapa catatan tentang kiprah Chairil Anwar. Capaian estetiknya jatuh pada ekspresinya yang penuh vitalitas dengan jiwa yang sarat dengan semangat memberontak. Puisi-puisinya dipandang telah berhasil menghancurkan konsep bentuk konvensional; persoalan seputar larik dan bait yang menjadi bagian penting dalam perpuisian zaman Pujangga Baru, tidak lagi menjadi syarat sebuah puisi. Ia juga menawarkan kemungkinan pemanfaatan bahasa sehari-hari sebagai sarana ekspresi yang memberi ruang yang lebih luas bagi penyair. Dengan begitu, penyair leluasa dan bebas mengumbar gagasan kreatifnya.

Pengaruhnya memang segera kelihatan. Puisi seperti dapat mewakili kegelisahan penyair atas berbagai problem sosial budaya yang terjadi di sekitarnya. Puisi tidak lagi bercerita tentang dunia di entah-berantah. Model bahasa masa lalu yang menjadi dasar puitika Pujangga Baru, makin surut ke belakang dan seperti barang antik yang dipajang di ruang tamu, sekadar penyedap pandangan atau pengindah ruangan, tetapi tak dapat digunakan untuk urusan rumah tangga. Ia menjadi sesuatu yang penting, tetapi tak fungsional menerjemahkan fakta sosial dalam kehidupan real.  

Langkah Chairil Anwar sesungguhnya tidak sendirian. Ia membangun komunitas yang kemudian menghasilkan sebuah gerakan estetik. Pada pertengahan 1946, atas usaha Chairil Anwar, sejumlah seniman antara lain, Asrul Sani, Baharuddin, Basuki Resobowo, Henk Ngantung, Rivai Apin, M. Akbar Djuhana, Mochtar Apin, dan M. Balfas, bertemu dan coba merealisasikan pendirian perkumpulan kebudayaan (kunstkring) Gelanggang Seniman Merdeka. Ada persoalan ideologis di belakang pembentukan perkumpulan ini. Semangatnya membuat sintesis atas simpang-siur konsepsi kebudayaan Indonesia yang terjadi dalam Polemik Kebudayaan yang diusung Sutan Takdir Alisjahbana.

Pada tanggal 19 November 1946, lahirlah preambul Gelanggang. Isinya seolah-olah menyuarakan élan baru dengan menolak semangat Pujangga Baru dan menggantikannya dengan kesadaran membangun kebudayaan Indonesia atas usaha dan kemampuan sendiri dengan tidak melupakan peninggalan kekayaan kultural nenek-moyang. Perkumpulan ini lalu mengklaim diri sebagai Generasi Gelanggang. Jelas, Chairil tidak bergerak sendirian. Gerakan estetik Angkatan 45, dirumuskan bersama sebagai bentuk perlawanan atas generasi sebelumnya, dan sekaligus sebagai kesadaran menyikapi terjadinya perubahan kehidupan sosial-politik di Tanah Air.

Dalam preambul Anggaran Dasarnya itu, dinyatakan bahwa Generasi Gelanggang lahir dari pergolakan roh dan pikiran yang sedang mencipta manusia Indonesia yang hidup. Generasi yang harus mempertanggungjawabkan dengan sesungguhnya penjadian bangsa ini. Oleh karena itu, ia harus melepaskan diri dari susunan lama yang telah mengakibatkan masyarakat yang lapuk. Ia juga harus berani menentang pandangan, sifat dan anasir lama itu untuk menyalakan semangat dan bara kekuatan baru. Semangat, elan, dan sikap Generasi Gelanggang ini lalu dirumuskan dalam sebuah surat terbuka yang diberi nama Surat Kepercayaan Gelanggang, bertarikh 18 Februari 1950, hampir setahun setelah Chairil Anwar meninggal.

Sebelum itu, Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani menerbitkan sebuah antologi bersama yang berjudul Tiga Menguak Takdir (1949). Seperti pisau bermata dua, buku ini secara idealis, menolak gagasan Alisjahbana tentang kemutlakan menatap Barat, meski yang terutama adalah penolakan estetik puisi Pujangga Baru. Tetapi di lain pihak, dalam hal orientasi ke Barat, ketiga penyair itu sesungguhnya melanjutkan gagasan Alisjahbana tentang pentingnya melihat, mengambil, dam memasuki pikiran Barat, meskipun dengan memberi tekanan pada harga diri untuk tidak menerima secara membuta-tuli semua yang datang dari Barat. Meskipun begitu, baik mukadimah Anggaran Dasar Generasi Gelanggang, maupun Surat Kepercayaan Gelanggang, secara jelas masih memperlihatkan adanya jejak pemikiran Alisjahbana. Dengan demikian, Generasi Gelanggang pada dasarnya justru melanjutkan kembali perjuangan Alisjahbana tentang tawarannya ikut mewarisi kebudayaan Barat.

Dalam berbagai pembicaraan Angkatan 45, Surat Kepercayaan Gelanggang dianggap mewakili sikap pendirian dan wawasan estetik mereka. Dalam hal ini, meski dalam soal penerimaan pengaruh Barat, kita masih dapat menelusuri jejak Alisjahbana, demikian juga pandangan mengenai tradisi masa lalu yang dikatakan “tidak ingat kepada me-laplap hasil kebudayaan sampai berkilat... tetapi memikirkan kebudayaan baru yang sehat,”  angkatan ini tampak lebih reflektif dan berhasrat menggali kemampuan sendiri. Jadi, di satu pihak Angkatan 45 menolak estetika Pujangga Baru, dan di lain pihak meneruskan semangat Sutan Takdir Alisjahbana tentang pendewaan pada Barat meskipun dengan kemasan yang lain.

Sejumlah besar puisi Chairil Anwar dan para penyair sezamannya, menunjukkan sikap ambivalesi itu. Persoalan bentuk memang berhasil dihancurkan, tetapi tokh tidak sedikit pula penyair, termasuk Chairil Anwar sendiri, yang masih memanfaatkan pembagian bait dan bentuk persajakan zaman Pujangga Baru. Dalam hal pencapaian estetik, Chairil Anwar berada di atas penyair sezamannya. Capaian estetik itu kemudian seperti trend baru dalam perpuisian Indonesia. Asrul Sani, Toto Sudarto Bachtiar, Dodong Djiwapradja, Ajip Rosidi, adalah beberapa penyair waktu itu yang berhasil dengan sangat baik mengembangkan kecenderungan itu.  

       ***

Sampai tahun 1970-an, reputasi Chairil Anwar tetap menjulang sendiri seperti sebuah monumen yang tak tergoyahkan. Munculnya Sutardji Calzoum Bachri (SCB) awal tahun 1970-an, memang menggebrak jagat perpuisian, bahkan kesusastraan Indonesia. Tetapi kebesaran dan reputasi Chairil Anwar tetap terjaga dalam satu kotak dan SCB berada dalam kotak yang lain. Kredo puisi SCB yang diproklamasikan 30 Maret 1973, masuk pula dalam kotak itu.

Berbagai tanggapan kemudian bermunculan, tetapi tidak ada yang coba membandingkan reputasi dan kebesaran SCB dengan Chairil Anwar. Bahkan A. Teeuw dan Umar Junus, menyebutkan puisi SCB, seperti POT atau SHANG HAI dan beberapa puisi SCB lainnya yang semodel dengan itu sebagai tak ada artinya. Meski begitu, dalam esainya “Terikat pada Pembebasan Kata” (Tergantung pada Kata, Jakarta: Pustaka Jaya, 1980) A. Teeuw, menyatakan, “… saya tidak menyangkal pula kekuatan dan keorisinalan pendekatan puisi Sutardji. Dialah yang paling radikal dan berani merombak sistem bahasa dalam perontaannya untuk mencari jejak Tuhan….” Dalam esai itu juga, A. Teeuw menegaskan, bahwa SCB berhasil mencipta sendiri makna kata-kata yang digunakannya di luar konvensi bahasa yang berlaku.

Sementara itu, komentar-komentar miring pun bermunculan. Sebagiannya datang dari sejumlah penyair senior yang tiba-tiba seperti mengalami sindrom buah apel, yaitu ketika seorang melabeli anggur yang menggantung di atas kepalanya sebagai masam, karena ia tidak sanggup meraihnya. Sesungguhnya, sejauh manakah capaian estetik SCB? Relevankah kita mambandingkan monumen yang telah ditancapkan Chairil Anwar dengan monumen (: capaian estetik) SCB? Mari kita cermati lebih jauh, siapakah gerangan sosok Sutardji Calzoum Bachri itu?

         ***

Di manakah tempat SCB dalam panggung kesusastraan Indonesia. Begitu pentingkah peranannya sehingga kebesaran Chairil Anwar layak menjadi ukuran untuk melihat kebesaran SCB? Sekadar catatan, tulisan ini coba mengungkap sisi lain sosok SCB dan capaian estetik yang ditancapkannya.

Sutardji Calzoum Bachri bukan prototipe penyair yang membangun kerajaannya di atas kepala penyair yunior. Ia tidak membesarkan diri lewat serangkaian wacana dan diskusi omong kosong. Ia pun tidak punya komunitas yang memanggul dan menggotong dirinya ke segala pelosok. SCB bukan penyair yang gemar menebarkan uang, budi-jasa, dan pengaruh, agar karyanya mendapat sanjungan dan puja-puji. SCB tak punya kerajaan dan komunitas. Ia sendirian, tanpa serdadu, tanpa anak buah yang menjilati pantatnya. Ia tak terbiasa memanfaatkan hubungan pertemanan dan tak suka kasak-kusuk. SCB tidak punya karyawan yang dapat seenaknya dicekoki, diintimidasi, dan ditakuti bayang-bayang pemecatan. Ia sungguh sendirian dan tak peduli pada apa pun yang berkaitan dengan jaringan, komunitas, armada dan pesekongkolan yang saling membesarkan.

O, Amuk, Kapak, dan kredonya yang fenomenal dan monumental, antologi cerpen, Hujan Menulis Ayam, esai yang bertebaran, puisi-puisi yang terbaru yang masih berserakan, dan aksi panggungnya ketika membaca puisi, cerpen, atau ketika menyampaikan kecerdasan gagasannya, itulah lapangan kerjanya. SCB membangun kerajaannya semata-mata karena karya dan aksi panggungnya. Ia membangun republik puisi di atas karya sendiri.

Fenomena SCB tiba-tiba bagai badai yang menghempaskan para birokrat dan makelar kesusastraan dan kebudayaan. SCB terbang bersama karyanya. Menciptakan gempa yang meruntuhkan bangunan lama. Di atas reruntuhan itu, karya-karyanya menjulang sendirian, tanpa saingan, menjadi monumen. Para epigon pun gagal. Para pembebek terperosok pada lubang yang digalinya sendiri. Maka, jika kemudian SCB memproklamasikan diri sebagai Presiden Penyair, itu merupakan pernyataan dari seorang yang meyakini prestasi atas capaian estetiknya sendiri.(bersambung)

Maman S  Mahayana, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org