| Estetika Melayu dalam Sajak dan Novel Rida K Liamsi (Bagian Kedua/Habis) |
| Minggu, 17 Pebruari 2008 | |
|
3. Estetika Melayu Bulang Cahaya Bulang Cahaya adalah novel yang memakai bingkai Kerajaan Riau, sebagai novel yang mengisahkan peristiwa yang mengubah jalan nasib tokoh, maka novel itu telah diwarnai oleh sindiran halus dalam pergaulan sosial. Sindiran itu di antaranya terkesan dalam pergaulan pihak Melayu dengan Bugis, yang tak kunjung tentram serta harmonis. Padahal mereka sama-sama beragama Islam, yang semestinya bersaudara. Karena itu tak heran jika Raja Djaafar sampai muak melihat hubungan Melayu-Bugis yang selalu bertikai-pangkai. Sebab, perselisihan yang tak kunjung reda itu, bukan mendatangkan kebaikan, melainkan penderitaan. Kecuali bagi pihak musuh, yakni kafir Belanda. Egoisme suku yang menjadi pangkal bala hubungan Melayu-Bugis itu, telah menimbulkan reaksi keras dari Raja Djaafar, sebagaimana terlukis dalam ucapannya, bahwa darah yang mengalir dalam tubuhnya bukanlah atas kebendaknya sendiri, tetapi adalah kehendak Allah yang Maha Kuasa.
Di samping itu ada lagi estetika sindiran halus yang menarik paling kurang dalam dua peristiwa. Pertama, novel ini mendedahkan, bahwa cinta bukanlah faktor utama bagi kebahagiaan manusia, sebagaimana banyak dipandang oleh manusia hedonis masa kini. Raja Djaafar yang putus cinta dengan Buntat, ternyata juga bisa hidup bahagia dengan isteri dan anaknya. Raja Bjaafar menghapus kenangan cinta di hatinya dengan kerja keras membangun kehidupan rumah tangganya. Sementara Buntat, yang kawin dengan Tengku Husin, yang semula tidak dicintainya, ternyata juga dapat menjadi isteri yang baik lagi setia. Selanjutnya novel menyindir betapa hukum buatan manusia tak berdaya. Kekuatannya hanya bagaikan bergantung kepada jaring laba-laba. Ini dibidas oleh jalan cerita ketika Sultan Mahmud mangkat. Jika diikuti adat dan undang-undang kerajaan, maka Kerajaan Riau bisa rusak binasa, karena tak ada pucuk pimpinan. Sementara jasad sultan bisa belangau, menanti kedatangan para pembesar kerajaan untuk memilih sultan yang baru. Tetapi dengan surut kepada hukum Allah, maka keadaan yang genting itu dengan mudah dapat diselesaikan. Beriringan dengan itu, novel Bulang Cahaya, telah menampilkan pula konsep estetika Melayu, pesan dan pedoman yang benar kepada kaum muslimin. Seorang mukmin sejati, seperti tergambar pada tokoh Raja Haji Fisabilillah hendaklah membeli akhirat dengan dunia. Itulah perdagangan yang beruntung. Sebab, negeri akhirat itulah kehidupan yang sesungguhnya di sisi Allah. Inilah matlamat ucapan Raja Haji Fisabilillah, kepada anaknya Raja Djaafar, sebelum maju ke medan perang. "Sekali kita turun perang, kita harus menang. Kalaupun kalah, harus jantan. Syahid Fisabilillah". Muatan estetika Melayu, jalan nasib manusia sebagai hamba atau fakir dalam lekuk-liku suka dukanya, boleh dikatakan sudah mendasari jalan cerita novel tersebut. Jalan nasib dalam novel ini telah memainkan peranan bagaikan darah yang mengalir dalam batang tubuh. Maka, Rida telah melukiskan jalan hidup pasangan tokoh Raja Djaafar dengan Tengku Buntat, dengan penampilan yang menarik, mencemaskan bahkan juga mendebarkan. Perjalanan hidup Raja Djaafar menjadi alur yang dominan. Di sinilah disangkutkan oleh Rida tragedi dan komedi, suka-duka atau asam garam kehidupan. Rangkaian peristiwa kehidupan Raja Djaafar, bagaikan kandungan rasa sirih-pinang: manis, pahit, kelat dan pedas. Perjalanan hidup Raja Djaafar telah dimulai dengan bayangan manis ditandai dengan terjalinnya cinta kasih dengan Buntat. Tetapi beriringan dengan itu, selangkah demi selangkah memasuki babak kehidupan yang suram, mencemaskan bahkan mengerikan. Tikungan jalan nasib pertama yang dilalui Raja Djaafar ialah tewasnya Raja Haji di Teluk Ketapang dalam medan jihad melawan kafir Belanda. Raja Djaafar tak dapat berbuat apa-apa, baik untuk membela ayahnya maupun martabat dirinya. Sementara itu hubungan cintanya yang sudah bersemi dengan indah, mulai mendapat intrik yang menjengkelkan. Ayah Buntat dengan tak terduga menjadi membenci keturunan Bugis, sehingga pinangan Raja Djaafar selalu dihalangi dan ditunda-tunda. Kemudian jalan nasib Raja Djaafar benar-benar mendapat goncangan hebat. Sidang pembesar Melayu dan Bugis yang dipimpin oleh Sultan Mahmud, memutuskan Tengku Buntat dikawinkan dengan Tengku Husin (anak tertua Sultan Mahmud). Sedangkan Raja Djaafar tidak diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda menggantikan ayahnya, dengan alasan masih terlalu muda dan belum berpengalaman. Sidang para pembesar Melayu-Bugis di balairung itu, yang memutusksn Buntat dikawinkan dengan Tengku Husin, merupakan titik puncak krisis perjalanan cinta Raja Djaafar dengan Buntat. Sidang itu bagaikan angin topan yang menerjang pelayaran cinta mereka. Sesuai dengan sunatullah, di balik pendakian ada penurunan, kalah dan menang digilirkan agar dikenal orang yang beriman, maka badai kehidupan Raja Djaafar juga pelan-pelan menjadi reda. Dia menyadari dirinya adalah hamba Allah. Sebagai hamba, bukan dia yang menentukan segala-galanya, tetapi adalah Allah yang maha kuasa lagi maha bijaksana. Dia mengambil lintasan hidup baru. Pindah dari Riau ke Kelang, setelah bekerja di lumbung timah menjadi wiraswasta yang sukses, dia berumah tangga dan hidup tentram. Tetapi sekali lagi, rupanya jalan nasib tak dapat direkayasa. Manusia memang diberi kemauan bebas untuk bertindak oleh Allah, Namun hasil tindakan, bukan manusia yang menentukan, tetapi adalah Pemegang Kuda Takdir yakni Tuhan Semesta Alam. Maka dengan tak terduga, Raja Djaafar dijemput dan dibujuk oleh teman karibnya Raja Husin, untuk kembali ke Riau, menjadi Yang Dipertuan Muda. Raja Djaafar bagaikan tersentak dari tidurnya yang lelap. Luka di hatinya seakan berdarah kembali. Namun sekali lagi Raja Djaafar memandang dirinya sebagai hamba yang daif, fakir tak berdaya di hadapan kehendak Allah. Dia pulang ke Riau untuk menyandang jabatan Yang Dipertuan Muda Riau. Lintasan hidup Raja Djaafar tidaklah akan indah, menarik dan mendebarkan, jika tidak dijalin oleh Rida dengan unsur estetika yang ke-4, yakni cinta sebagai sentuhan batin, bukan sentuhan jasmani yang kasar. Percintaan Raja Djaafar dengan Buntat telah digambarkan oleh Rida dengan metafor yang memikat. Betapa tidak, pasangan kekasih itu digambarkan Rida tidak melalui sentuhan jasmani, tetapi dengan sentuhan metafor yang indah. Djaafar dan Buntat melepas rindu dengan pandang-memandang, yang bacaannya bisa terlukis pada senyum di bibir dan kerdip mata. Suatu peristiwa cinta yang bagaikan ombak. Jika ombak di laut berketika tapi ombak di hati sepanjang hari. Jika tak ada kesempatan untuk bertemu pandang, Djaafar melepas layang-layang yang berukir dengan tulisan indah Arab Melayu Bulang Gahaya. Tulisan itu adalah sanjungan cinta Djaafar terhadap Buntat. Buntat-lah yang menjadi cahaya (kecantikan) Kampung Bulang, dan inilah yang telah memberi semangat hidup kepada Raja Djaafar, Maka, ketika Bulang Cahaya melayang-layang di atas rumah Buntat, itulah metafor kedatangan Raja Djaafar, yang sedang dimabuk rindu ingin bertemu Buntat. Makin lincah gerak layang-layang itu, berarti semakin berdebar hati oleh sentuhan cinta. Suatu metafor yang amat mengena dan harmonis. Sentuhan percintaaan Djaafar-Buntat yang halus lagi indah, mengingatkan kita kepada bayangan percintaan dunia Melayu tradisional. Dalam dunia percintaan Melayu, sentuhan cinta yang halus telah disampaikan dengan rangkaian pantun yang sarat dengan metafor cinta. Jika hal itu belum memadai, maka kadangkala anak bujang meminjam kain panjang gadis kekasihnya untuk dipakai sebagai selimut. Begitu pula sebaliknya, si gadis meminjam kain sarung bujang kekasihnya. Maka, gelora cinta yang membara, yang bisa salah-salah menjatuhkan martabat dan dosa besar, dapat diredam dengan berbagai bayangan indah ketika memakai kain kekasih sebagai selimut. Begitulah, dunia Melayu yang memeluk agama Islam sebagai panduan hidup, sudah memagari percintaan demikian rupa, sehingga manusia tidak jatuh hina oleh cinta. Jika nikah-kawin tak dapat dilakukan dengan segera, maka dilakukanlah pertunangon. Kata tunang berarti rindu. Jadi pertunangan adalah hari-hari kerinduan. Jika hari pernikahan sudah dalam batas bulan, maka si gadis dipingit, agar mereka sampai kepada puncak kerinduan ketika ijab-kabul berlangsung. Karena itu terbentanglah benang cinta yang halus, indah lagi suci memasuki gerbang perkawinan, sebagai babak baru kehidupan. Novel Bulang Cahaya telah memberikan rentangan hidup, bagaikan sungai kecil yang turun dari pegunungan, melalui berbagai lembah, bukit dan rimba belantara, baru sampai ke muara. Perhatikanlah liku dan tikungan yang dilalui Raja Djaafar. Mulai dari kematian ayah, pinangan ditolak, tidak diangkat jadi raja muda sampai putus cinta semuanya menerpa dirinya. Dia bagaikan bulan-bulanan anak panah berbagai cobaan dan musibah. Tapi di situlah kita bisa membaca kepiawaien Rida K Liamsi sebagai pengarang. Dia seakan hendak mengatakan, tajuk mahkota keindahan hidup adalah keseimbangan dunia dengan akhirat, sebagaimana telah menjadi muatan estetika dunia Melayu. Dalam keseimbangan itu, akhirat hendaklah dipandang lebih utama daripada dunia. Sebab akhirat adalah muara hidup dan mati. Kebahagiaan dan keindahan dunia apalah artinya, karena hanya bagaikan setetes air dari lautan samudra kebahagiaan dan keindahan hidup di akhirat. Inilah yang mendasari jalan pikiran Raja Djaafar. Berbagai cobaan telah dihadapinya, bahkan sampai ingin mengambil jalan pendek: membunuh diri. Namun dia sadar, hidup sebagai anugerah Tuhan jangan dibuang sia-sia, sehingga dia berdoa, "Ya Rabb ampuni hamba, ya Rabb kasihani hamba, ya Rabb jangan hamba-Mu ini teraniaya lahir dan batin." Demikianlah, dengan kesabaran yang indah (sabran jamilan) Raja Djaafar berhasil melalui lintasan hidupnya dengan gemilang.*** UU Hamidy, pensyarah dan kritikus sastra Riau. Bermastautin di Pekanbaru. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





