• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Sabtu, 30 Agustus 2008 || 28 Syakban 1429 Hijriah
Total SportSaatnya Juara

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaSepakati Multi Tafsir Perjuangan Pers

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Sebuah Sajak untuk Menjawab Sejuta Tanya yang Berserak di Keningmu
Minggu, 17 Pebruari 2008

:Yupen Hadi
 
Aku lupa menghapus sejuta tanya yang berserak di keningmu
satu garis menarikmu mundur ke masa yang dulu pernah kita lewati dengan nyawa yang sama
ada luka kecil terselip di hatimu
segurat idealis, lambat-lambat terkikis
aku menangis...
barangkali, kita terlalu terburu-buru mengganti nama, dan menanggalkan pakaian
lalu menggantinya dengan jas tebal yang sempurna melapisi kulit kita yang kehitaman
yang dulu selalu bercinta dengan matahari, debu dan keringat jalanan
 
Engkau pernah berkata benci
pada bibir yang terkunci
apakah selalu begitu, menukar amarah dengan orasi yang parah
tapi aku memilih meludah melalui sajak
karena aku tak lihai bicara banyak
katamu, pantaskah kita membisu ketika debu mulai berani membangun rumah di tubuhmu, di tubuhku
sebuah matahari terbit di kepalamu
aku memayungi lidahku
 
Ah, andai saja ada sedikit tempat di sudut bumi untuk aku bersembunyi
mungkin aku memilih memuja sunyi
hingga segala bentuk bunyi
tak lagi bernama irama
sejuta tanya yang berserak di kepala
tak perlu dijawab dengan debat percuma
bukankah begitu indahnya sunyi
aku tak lagi dipaksa bernyanyi
 
Persembahan dariku
satu sajak bisu
untuk menjawab sejuta tanya yang berserak di keningmu
 
 Pekanbaru, 17 Januari 2008

 
Rindu yang Terbengkalai

Malam yang sempit
mataku menyipit, memanah langit
bergegas aku mengemas, bintang-bintang yang jatuh di kakiku
Engkaukah rembulan yang hilang, kemudian kuketemukan?
 
Ah sayang, ingin kuabadikan saja siang
karena malam kembali menghadirkan patahan bayang-bayangMu
kesempurnaanmu itu, malah memagari lidahku yang selalu kelu jika berucap betapa aku rindu pada-Mu
maaf, jika pernah mencintai-Mu dengan cara yang salah
 
Engkaukah rembulan yang hilang, kemudian kuketemukan
harusnya kubunuh saja siang, aku kini membutuhkan malam
jika matahari datang, aku merasa tersisihkan
maaf, jika aku lupa malam menghitam karena siang sudah diam
 
Mencintai waktu, yang mengabadikan angka satu
aku berlari Menuju-Mu
Januari yang membelenggu, intropeksi yang mengaburkan  rindu
 
Maaf, untuk lalai, untuk rindu yang terbengkalai
 
Pekanbaru, 1 Januari 2008

 
Dien Zhurindah, lahir di Pekanbaru, 17 November 1981, Alumni Fakultas Hukum UIR (2004). Beberapa puisinya telah terpublikasi di harian Riau Pos, Riau Mandiri, antologi puisi Belantara Kata (SWA-UIR Press-2004), Jalan Pulang (Yayasan Sagang, 2006), Selat Malaka  (BKKI-UIR Press, 2007), Komposisi Sunyi (Yayasan Sagang, 2007), dan Web Blog: http://komunitasriaksiak.blogspot.com dan http://samuderakata.blogspot.com. E-mail: Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya










 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org