| Sebuah Sajak untuk Menjawab Sejuta Tanya yang Berserak di Keningmu |
| Minggu, 17 Pebruari 2008 | |
|
:Yupen Hadi Aku lupa menghapus sejuta tanya yang berserak di keningmu satu garis menarikmu mundur ke masa yang dulu pernah kita lewati dengan nyawa yang sama ada luka kecil terselip di hatimu segurat idealis, lambat-lambat terkikis aku menangis... barangkali, kita terlalu terburu-buru mengganti nama, dan menanggalkan pakaian lalu menggantinya dengan jas tebal yang sempurna melapisi kulit kita yang kehitaman yang dulu selalu bercinta dengan matahari, debu dan keringat jalanan Engkau pernah berkata benci pada bibir yang terkunci apakah selalu begitu, menukar amarah dengan orasi yang parah tapi aku memilih meludah melalui sajak karena aku tak lihai bicara banyak katamu, pantaskah kita membisu ketika debu mulai berani membangun rumah di tubuhmu, di tubuhku sebuah matahari terbit di kepalamu aku memayungi lidahku Ah, andai saja ada sedikit tempat di sudut bumi untuk aku bersembunyi mungkin aku memilih memuja sunyi hingga segala bentuk bunyi tak lagi bernama irama sejuta tanya yang berserak di kepala tak perlu dijawab dengan debat percuma bukankah begitu indahnya sunyi aku tak lagi dipaksa bernyanyi Persembahan dariku satu sajak bisu untuk menjawab sejuta tanya yang berserak di keningmu Pekanbaru, 17 Januari 2008 Rindu yang Terbengkalai Malam yang sempit mataku menyipit, memanah langit bergegas aku mengemas, bintang-bintang yang jatuh di kakiku Engkaukah rembulan yang hilang, kemudian kuketemukan? Ah sayang, ingin kuabadikan saja siang karena malam kembali menghadirkan patahan bayang-bayangMu kesempurnaanmu itu, malah memagari lidahku yang selalu kelu jika berucap betapa aku rindu pada-Mu maaf, jika pernah mencintai-Mu dengan cara yang salah Engkaukah rembulan yang hilang, kemudian kuketemukan harusnya kubunuh saja siang, aku kini membutuhkan malam jika matahari datang, aku merasa tersisihkan maaf, jika aku lupa malam menghitam karena siang sudah diam Mencintai waktu, yang mengabadikan angka satu aku berlari Menuju-Mu Januari yang membelenggu, intropeksi yang mengaburkan rindu Maaf, untuk lalai, untuk rindu yang terbengkalai Pekanbaru, 1 Januari 2008 Dien Zhurindah, lahir di Pekanbaru, 17 November 1981, Alumni Fakultas Hukum UIR (2004). Beberapa puisinya telah terpublikasi di harian Riau Pos, Riau Mandiri, antologi puisi Belantara Kata (SWA-UIR Press-2004), Jalan Pulang (Yayasan Sagang, 2006), Selat Malaka (BKKI-UIR Press, 2007), Komposisi Sunyi (Yayasan Sagang, 2007), dan Web Blog: http://komunitasriaksiak.blogspot.com dan http://samuderakata.blogspot.com. E-mail: Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



