| Lagi 1001 Malam |
| Minggu, 17 Pebruari 2008 | |
|
Oleh Hasanb Junus
Rabu tanggal 13 Februari 2008 saya menerima kiriman sebuah buku karya Jorge Luis Borges terjemahan ke bahasa Perancis oleh Françoise Rosset Le livre de sable dari École française d’ Extrême-Orient yang sudah lama saya idam-idamkan. Saya merasa sangat beruntung karena ketigabelas cerita isinya belum pernah saya jumpai sebelumnya. Pada halaman 9 dalam cerita yang pertama ‘’L’autre’’ dan halaman 143 dalam cerita terakhir ‘’Le livre de sable’’ ada tertera judul buku terkenal ‘’Seribu Satu Malam’’, tertulis: Mille et Une Nuits. Sebelumnya karya itu pernah dikemukakan oleh Jorge Luis Borges dalam eseinya yang diberi judul ‘’Los traductores de las Mil y una noches’’ yang antara lain membabit nama-nama para penerjemah piawai buah karya dari kesusastraan Arab yaitu Alfu Laila wa Laila seperti Jean Antoine Galland, Edward Lane, Burton, Dr Mardrus, Enno Littmann, dan lainnya. Saya memiliki buku Mille et Une Nuits yang telah berusia satu abad. USIA satu abad itu berdasarkan tandatangan dan tanggal, bulan serta tahun kepemilikannya karena buku lama itu tidak bertahun terbit. Pada halaman-judul buku itu tercetak tulisan: Les Mille et Une Nuits / Des Familles / Contes arabes, traduits par Galland / Garnier Frères, Libraires-Éditeurs / Paris. Di bawahnya ditulis dengan tinta: R. H. Abdollah Riouw 28 -11 – 1907. Karya yang judul aslinya dalam bahasa Arab Alfu Laila wa Laila yang dalam terjemahan bahasa Indonesia menjadi Seribu Satu Malam ini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa (Eropa) sehingga di kalangan orang-orang berbahasa Inggris dikenal dengan judul Arabian Nights, di kalangan orang-orang berbahasa Perancis dikenal dengan judul Mille et Une Nuits, di kalangan orang-orang berbahasa Jerman dikenal dengan judul Tausend und eine Nacht, di kalangan orang-orang berbahasa Spanyol dikenal dengan judul Mil y una noches, dan di kalangan orang-orang berbahasa Italia dikenal dengan judul Le mille e una notte. Buku Mille et Une Nuits yang sudah berusia satu abad yang ada dalam simpan saya itu berasal dari milik seorang yang bernama Raja Haji Abdullah @ Raja Haji Abdullah bin Hassan, cucu Raja Ali Haji, salah-seorang hakim mahkamah kerajaan Riau-Lingga. Ia mendapat pendidikan tambahan di Mesir, tepatnya di Kairo dan Iskandariyah. Ia seorang pengarang syair dan hikayat serta buku-buku pelajaran bahasa Melayu, memakai nama-pena Abu Muhammad Adnan @ Abu Muhammad Adnan Haji Abdullah Al-Naqshabandi Al-Khalidi. Sebuah karya terjemahannya dari bahasa Arab ke bahasa Melayu, dan pengubahan dari bentuk prosa ke bentuk syair ialah sebuah hikayat yang berjudul asli Alfu Yaumin wa Yaumin menjadi sebuah syair yang diterjemahkan dan diberi judul Seribu Satu Hari. Judul karya yang melintasi abad demi abad ini muncul lagi dan lagi jika kita meninjau sepintas kilas karya-karya sastra dari Aljazair yang ditulis dalam bahasa Perancis. Ada dua pengarang perempuan yang memakai nama tokoh pencerita agung dalam Seribu Satu Malam @ Alfu Laila wa Laila sebagai judul karya (-karyanya): Schéhérazade atau Shéhérazade atau Sherazade. Pengarang yang pertama yaitu Leila Sebbar (lahir tahun 1941) dengan rangkaian karya yang terdiri dari Sherazade, 17 ans, brune, frisée, les yeux verts (1982), Les carnets de Sherazade (1985), dan Le fou de Sherazade (1991). Sedangkan pengarang yang kedua Assia Djebar (lahir 1936) dengan sebuah karya berjudul Ombre Sultane (1987; ‘’Sultan Bayang-bayang’’) yang dalam terjemahan bahasa Inggerisnya menjadi A Sister to Scheherazade. Perempuan pencerita yang telah menyelamatkan kezaliman dahsyat suaminya dengan alat yang bernama cerita atau sastra ini dapat dijumpai dalam banyak karya sastra antara lain dari pengarang yang mengalami kebutaan yaitu Thaha Hussein. Terjemahan ke bahasa Perancis karya Jorge Luis Borges yang sosok orisinalnya dari El Libro de Arena menjadi Le livre de sable membangkitkan keriangan bagi saya karena saya selalu melalui tahap-tahap tertentu dalam menggauli teks sastra. Pertama saya membaca secara sepintas lintas, semua ditelan berikut dengan kosa-kata yang belum diketahui artinya. Tahap kedua menemukan semua kosa-kata yang belum diketahui tadi. Lalu membuat catatan tentang arti semua kosa-kata tadi dengan memakai kamus eka-bahasa (dalam hal ini untuk bahasa Perancis dan saya mempunyai Le Petit Larousse Illustré 1993). Tahap berikutnya menyelesaikan semua kendala dan masalah kebahasaan. Tahap terakhir dalam menggauli teks sastra termasuk ke bagian yang membangkitkan keriangan dan kepedihan, erotis dan kemuakan, tawar dan lemak, sedap dan tak sedapnya kesusastraan. Dengan modus operandi seperti ini alangkah sayangnya kalau bahan kesusastraan yang digauli itu bukan terdiri dari jenis karya sastra yang teksnya unggul dan mengandung bibit-bibit kecerdasan. Teks yang mengandung bibit-bibit kecerdasan terdapat pada ketigabelas cerita dalam karya Jorge Luis Borges Le livre de sable. Memadailah pada Rampai ini disinggung dua cerita saja yaitu cerita yang pertama ‘’L’autre’’ (Yang Lain) dan cerita yang ketiga ‘’Ulrica’’. Masih di bagian pembuka ‘’Ulrica’’ (pada halaman 21) seseorang mengulurkan gelas yang lalu ditolaknya. ‘’Saya seorang feminis,’’ katanya, ‘’Saya tak mau meniru lelaki. Saya tak suka tembakau dan alkohol kalian.’’ [Quelqu’un lui offrit un verre qu’elle refusa. - Je suis féministe, dit-elle. Jen e veux pas imiter les homes. Je n’aime ni leur tabac ni leur alcool.] Sedangkan ‘’L’autre’’ kisah berlangsung di Cambridge, masanya Februari 1969. Lalu kini tahun 1972 jam sepuluh pagi. Dalam cerita ini di dalam sebuah lemari bersusun sederetan buku antara lain tiga jilid Arabian Nights atau 1001 Nights hasil terjemahan Edward Lane dari Alfu Laila wa Laila. Pengisah atau Jorge Luis Borges duduk di sebuah bangku yang menghadap ke Sungai Charles. Seseorang duduk di ujung bangku yang didudukinya. Ia berkata, ‘’Dalam hal itu namamu Jorge Luis Borges, saya juga Jorge Luis Borges. Sekarang tahun 1969 dan kita berada di kota Cambridge.’’ ‘’Tidak,’’ sanggah lelaki di ujung bangku, ‘’Saya sekarang di Jenewa, di sebuah bangku, beberapa langkah dari pinggir Rhône.’’ [‘’En ce cas, vous vous appelez Jorge Luis Borges. Moi aussi je suis Jorge Luis Borges. Nous sommes en 1969, et dans la ville de Cambridge.’’ ‘’Non. Je suis à Genève, sur un banc, à quelquespas du Rhône.’’] Seorang pencerita memandang pada refleksi dirinya di cermin besar yang terberandang di depannya; ia terus saja memandang ke cermin dengan mata terbelalak dan berteriak lantang, ‘’Ulrica! Shahrazad!’’*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



