Jumat, 21 November 2008 || 23 Zulqaidah 1429 Hijriah
Total SportFantastis

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTindak Tegas Biro Travel Telantarkan JCH di Malaysia

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Dari "Road Show" Edukasi Perbankan
Minggu, 17 Pebruari 2008
Agar Masyarakat Makin Pahami Bank
Pertumbuhan industri perbankan yang semakin pesat mesti diimbangi dengan pemahaman masyarakat terhadap jasa yang ditawarkan perbankan. Maraknya bank yang beroperasi tentu saja tidak akan ada artinya jika masyarakat tidak mampu memanfaatkan produk-produk yang ditawarkan perbankan.

Laporan AHMAD FITRI, Bangkinang Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Tepian sungai Kampar di Desa Sungai Terap, Kecamatan Bangkinang Barat, Kabupaten Kampar, Sabtu (16/2) pagi itu sungguh berbeda dibandingkan hari-hari biasa. Ketika itu seratusan bankir dari Pekanbaru dan Bangkinang berbaur dengan ratusan warga setempat yang umumnya berasal dari kalangan pelajar. Keramaian di tepian sungai itu tidak lepas dari digelarnya road show edukasi perbankan yang digelar Kantor Bank Indonesia (KBI) Pekanbaru.

Dua orang pelajar maju mendekati pemandu acara edukasi untuk menjawab pertanyaan yang disuguhkan. ‘’Apa perbedaan tabungan dan deposito,’’ kata salah seorang pemandu dengan singkat. Salah seorang siswa menjawab, ‘’Tabungan merupakan uang nasabah yang disimpan di bank sedangkan deposito merupakan simpanan uang di bank dalam bentuk kartu kredit,’’ ratusan bankir yang hadir saat itu pun tertawa mendengarkan jawaban tersebut.

Jawaban yang dilontarkan salah satu pelajar itu merupakan gambaran betapa masyarakat khususnya di pedesaan belum banyak mengenal produk-produk yang ditawarkan perbankan. Masih banyak lagi jawaban lucu dari puluhan siswa yang mencoba menjawab pertanyaan tentang dunia perbankan.

Kondisi seperti inilah yang melatarbelakangi KBI Pekanbaru menggelar edukasi perbankan kepada masyarakat. Pertumbuhan perbankan yang semakin pesat ternyata tidak diimbangi oleh pengetahuan masyarakat tentang berbagai produk yang ditawarkan perbankan.

Pemimpin KBI Pekanbaru Gatot Sugiono di sela edukasi itu kepada Riau Pos menuturkan bahwa saat ini bank umum yang beroperasi di Riau mencapai 36 bank. Sedangkan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) jumlahnya mencapai 20 buah. Dari operasi yang dijalankan perbankan di Riau telah dihimpun dana mencapai Rp30 triliun.

‘’Sangat disayangkan maraknya bisnis perbankan di Riau tidak diimbangi oleh pemahaman dari masyarakat terhadap jasa yang ditawarkan perbankan. Masyarakat kurang maksimal memanfaatkan jasa perbankan,’’ ujar Gatot pada acara yang turut dihadiri Bupati Kampar Drs H Burhanuddin Husin MM dan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau Prof Dr Tengku Dahril MSc itu.

Dipaparkan, semestinya masyarakat bisa memahami berbagai produk yang ditawarkan perbankan. Dengan demikian jasa yang ditawarkan perbankan bisa dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

Lebih jauh Gatot mengutarakan, kurangnya masyarakat pedesaan yang memanfaatkan jasa perbankan tidak lepas dari lemahnya sosialisasi perbankan. Selama ini sosialisasi hanya dilakukan untuk masyarakat di perkotaan saja. ‘’Melalui edukasi seperti ini kita harapkan kelak masyarakat di pedesaan bisa semakin mengenal produk-produk yang ditawarkan perbankan,’’ ujarnya lagi.

Program edukasi ini sendiri merupakan komitmen bersama KBI dan industri perbankan untuk menjadikan tahun 2008 sebagai tahun gerakan edukasi kepada masyarakat dengan tema ‘’Ayo ke Bank’’. Edukasi dilakukan untuk memberikan pemahaman seluas-luasnya kepada masyarakat tentang jasa yang ditawarkan perbankan. Selanjutnya kalangan perbankan juga diharapkan bisa memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat.

Dalam siaran persnya melalui situs www.bi.go.id 22 Januari 2008 lalu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D Hadad mengatakan program ini pada akhirnya akan dapat mewujudkan terciptanya masyarakat yang mampu mengelola keuangan secara bijaksana sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya di masa datang.

Sosialisasi tahun 2008 sebagai tahun gerakan edukasi perbankan merupakan titik awal dari pelaksanaan program edukasi perbankan yang akan dilakukan oleh seluruh bank di Indonesia. Dalam hal ini, masing-masing bank telah menetapkan program-program edukasi perbankan dalam rencana bisnis bank yang akan dilaksanakan selama 2008 dan juga tahun-tahun berikutnya.

Belum Maksimal

Bupati Kampar Burhanuddin Husin usai acara itu kepada Riau Pos menuturkan, selama ini perbankan yang beroperasi di Kabupaten Kampar kurang mendukung pembangunan di daerah itu. Saat ini hanya ada tiga bank yang beroperasi di kabupaten yang berjuluk ‘’Bumi Sarimadu’’ ini. Program edukasi ini diharapkan mampu semakin meningkatkan fungsi intermediasi perbankan.

‘’Selama ini masyarakat di Kabupaten Kampar banyak yang kesulitan ketika ingin berurusan dengan perbankan. Misalnya banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan kredit karena mereka mereka tidak memiliki jaminan seperti sertifikat tanah maupun belum layaknya usaha yang mereka jalankan,’’ papar Burhanuddin.

Dengan kondisi seperti Pemkab Kampar lalu merekomendasi usaha mikro yang ada di Kampar agar berhubungan dengan BPR Sarimadu yang merupakan bank milik Pemkab Kampar. Suku bunga kredit 6 persen yang ditetapkan BPR Sarimadu dinilai mampu meringankan usaha mikro di Kampar dalam mengembangkan usahanya.

Menurut Burhanuddin, kesulitan yang dialami masyarakat dalam mengembangkan usahanya tentu saja akan teratasi jika perbankan terus memberikan edukasi kepada mereka. Edukasi perbankan yang diberikan, kata dia, tentu saja akan semakin memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang jasa yang ditawarkan perbankan.

Momen edukasi perbankan di Kabupaten Kampar turut dimanfaatkan Burhanuddin dengan memaparkan berbagai potensi dan permasalahan pembangunan yang dihadapi daerah tersebut. Dipaparkan, kabupaten ini memiliki potensi besar di bidang perkebunan kelapa sawit. Hamparan kebun kelapa sawit di Kampar mencapai 300 ribu hektar. Luas kebun sawit mencapai 20 persen dari total luas hamparan kebun sawit di Riau.

Dari usaha perkebunan kelapa sawit ini uang yang beredar di Kampar setiap bulannya mencapai Rp250 miliar. ‘’Ini tentu saja sebuah potensi besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di Kampar,’’ papar dia menjelaskan.

Selain itu, lanjutnya, Kampar juga memiliki potensi yang besar di industri perikanan. Pemkab Kampar bersama Pemprov Riau dan sebuah perusahaan perikanan Bonekom juga telah melakukan kerja sama dalam pembangunan industri perikanan dengan membentuk perusahaan Kamparikom. Dengan investasi awal senilai Rp15 miliar perusahaan ini akan memproduksi 180 ton ikan patin jambal setiap harinya.

Burhanuddin juga mengutarakan bahwa potensi lain yang dimiliki Kampar adalah laju pertumbuhan ekonomi 2007 yang menggembirakan, yaitu mencapai 7,2 persen. Pada tahun ini ditargetkan pertumbuhan ekonomi akan mencapai angka 7 persen. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi seperti yang diharapkan, diperlukan investasi senilai Rp6,5 triliun.(amf)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org