Jumat, 21 November 2008 || 23 Zulqaidah 1429 Hijriah
Total SportFantastis

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTindak Tegas Biro Travel Telantarkan JCH di Malaysia

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Anugerah Seni DKR 2007
Minggu, 17 Pebruari 2008
Anugerah Untuk yang Berkarya
Anugerah Seniman Perdana (SP) dan Seniman Pemangku Negeri (SPN) hanya diberikan kepada seniman yang menghasilkan karya kreatif...
Laporan HARY B KORI'UN, Pekanbaru Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya


Dewan Kesenian Riau (DKR) kembali memberikan anugerah seni kepada seniman-seniman Riau tahun 2007 dan penyerahannya pada awal tahun 2008 ini. Tim panelis yang dibentuk DKR dan terdiri dari  Dr Yusmar Yusuf, Prof Dr Ashaluddin Jalil, drh Chaidir, Taufik Ikram Jamil, Iwan Irawan Permadi, Tien Marni, Kazzaini Ks, akhirnya memilih Rida K Liamsi sebagai penerima  anugerah Seniman Perdana (SP), sementara anugerah Seniman Pemangku Negri (SPN) diberikan kepada Fakhrunas MA Jabbar (sastra), Masteven Romus (seni rupa) dan Arman Rambah (seni musik).

Selain mendapatkan gelar seni dan masing-masing dibolehkan menggunakannya di depan namanya, para penerima anugerah juga mendapatkan hadiah uang yakni Rp75 juta untuk SP dan masing-masing Rp25 juta untuk SPN.  Ahad (17/2) anugerah ini diberikan di Hotel Sahid Pekanbaru.

Anugerah ini bukan pertama kali diadakan. Nama-nama seperti Sutardji Calzoum Bahri, Hasan Junus dan Taufik Ikram Jamil pernah mendapatkan anugerah ini untuk SP serta beberapa seniman seperti Marhalim Zaini, Zuarman Ahmad, Dandtje S Moeis, Iwan Irawan Permadi dan yang lainnya untuk SPN. Tidak seperti dalam empat penyelenggaraan sebelumnya, kali ini ada dua cabang seni yang tidak mendapatkan anugerah SPN, yakni tari dan teater.

Dantje S Moeis, salah seorang seniman yang mendapatkan gelar SPN tahun 2005, menilai, anugerah ini bagus, tetapi dia mempertanyakan mengapa tari dan teater kali ini tidak dapat. “Kalau bisa cabang-cabang yang diberikan anugerah tetap dipertahankan, yakni lima cabang seni. Tahun ini, hanya sastra, musik dan seni rupa yang dapat SPN, sementara teater dan tari ditiadakan. Saya kira masih banyak seniman yang layak mendapatkan itu,” ungkapnya kepada Riau Pos, Jumat (15/2) lalu.

Ketua Panitia Pelaksana, Kazzaini Ks, menjelaskan, dalam aturan yang telah ditetapkan oleh DKR, tidak ada kewajiban semua cabang seni yang ada di DKR (sastra, musik, teater, seni rupa, dan tari) harus mendapatkan penghargaan. “Berdasarkan itulah, akhirnya tim panelis memutuskan tidak  memberikan penghargaan untuk tari dan teater. Menurut penilaian tim panelis, di dua cabang seni itu tidak ada seniman yang kuat dan pantas mendapatkannya. Kondisi ini harus menjadi pelecut seniman-seniman tari dan teater agar berkarya lebih baik lagi,” jelas Kazzaini Ks.

Dalam peraturan itu juga disebutkan, seniman yang bisa mendapatkan anugerah, baik SP maupun SPN, adalah seniman yang berkarya kreatif dan melahirkan karya kreatif. Jadi, mereka yang selama ini terlibat dalam pemikiran tetapi tidak punya karya kreatif, hampir dipastikan tidak akan mendapatkan anugerah ini. “Jadi, pemikir seni dan budayawan seperti Pak Yusmar Yusuf atau Pak UU Hamidy tidak akan pernah mendapatkan anugerah ini kalau tak menghasilkan karya kreatif. Penghargaan ini diberikan kepada mereka yang memang menghasilkan karya kreatif,” ucap salah seorang Wakil Ketua DKR ini.

Apakah anugerah ini memberikan kontribusi besar bagi perkembangan dunia kesenian Riau?

Hasan Junus, salah seorang yang mendapatkan anugerah SP tahun 2003, menilai,  anugerah ini bagus. Selain memberi apresiasi kepada seniman, juga membantu seniman dalam hal ekonomi. “Saya berharap, hal ini tetap berkelanjutan dan hadiahnya diperbesar,” ujar  lelaki yang biasa dipanggil HJ ini.

HJ juga setuju jika dibuat wacana  ada pogram beasiswa kepada seniman untuk berkarya. DKR atau instansi terkait memberikan dana kepada seniman untuk memilih tempat untuk berkarya. Misalnya novelis. Dia diberi dana dan kemudian disuruh memilih tempat untuk melakukan observasi dan riset hingga menuliskan karyanya. Ke depan, pemikiran seperti ini harus dimunculkan. “Banyak negara yang memberikan beasiswa seperti ini. Tetangga kita, Malaysia, juga memberikan beasiswa untuk itu. Hanya saja, mereka yang mendapatkan beasiswa memang benar-benar pantas, jangan dipilih karena kedekatan,” kata HJ lagi.

Sementara itu, SPN Zuarman Ahmad dan SPN Marhalim Zaini berpendapat, seyogyanya mereka yang mendapatkan anugerah ini dihargai oleh banyak pihak dan tidak dilupakan begitu saja setelah mendapatkan penghargaan dan gelar.  “Sebagai penghargaan tinggi untuk kalangan seniman, semestinya penerima penghargaan ini juga dihargai oleh pemerintah dan lembaga lainnya. Ditempatkan pada tempatnya. Selama ini, para penerima anugerah ini sepertinya dilupakan setelah diberi penghargaan dan tidak tercatat dalam catatan apapun. Ini penting, karena untuk apa penghargaan ini diberikan kalau dalam kehidupan sehari-hari saja tidak dihargai oleh pemerintah dan lembaga lainnya,” kata Zuarman.

Marhalim juga setuju penghargaan ini diberikan dan kalau bisa berkelanjutan karena banyak membantu seniman yang secara materi harus diakui, masih banyak yang kekurangan. Hanya saja, karena penghargaan ini tinggi, mestinya, menurut Marhalim, penerimanya juga harus dihargai dengan gelarnya itu. Yang terjadi di selama ini, banyak seniman yang berkarya dan ingin menampilkan karyanya tidak bisa karena tak memiliki dana. "Bayangkan, untuk menerbitkan buku, banyak sastrawan yang harus ke sana-sini mencari dana. Semestinya, ada anggaran untuk itu. Kalau begitu, apa bedanya SP dan SPN dengan seniman dan masyarakat biasa?” kata Marhalim.***

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org