| Di Mana Seniman Tari dan Teater Riau? |
| Minggu, 17 Pebruari 2008 | |
|
Laporan Ahmad Fitri dan Andi Noviriyanti,Pekanbaru
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Dewan Kesenian Riau (DKR) kembali memberikan anugerah seni kepada seniman-seniman Riau yang melahirkan karyanya. Anugerah dua tahunan ini terdiri dari dua jenis anugerah, yaitu Seniman Perdana dan Seniman Pemangku Negeri. Ketua tim panelis anugerah seni DKR Dr Yusma Yusuf mengatakan, anugerah Seniman Perdana merupakan puncak gunung dari semua anugerah seni yang diberikan DKR. Anugerah ini diberikan kepada seniman yang karyanya mampu memberikan pengaruh yang luas di masyarakat. ‘’Seniman perdana memiliki kekuatan khusus dalam pengucapan karyanya, pengaruh dan kedalaman berpikir karya-karya itu juga sangat luas. Dengan pertimbangan itulah kami memilih Rida K Liamsi dibandingkan seniman lain yang masuk nominasi. Karyanya memang lebih kuat dibandingkan dengan karya-karya lainnya,’’ ujar Yusmar kepada Riau Pos di Bandar Serai Pekanbaru, Rabu (13/2). Diutarakannya, selama empat kali anugerah seni DKR digelar, anugerah Seniman Perdana selalu diberikan kepada seniman yang menghasilkan karya sastra. Mulai dari Sutardji Calzoum Bachri, Hasan Junus, Taufik Ikram Jamil dan terakhir diberikan kepada Rida K Liamsi. Lebih jauh Yusmar mengemukakan, bahwa untuk anugerah Seniman Pemangku Negeri sebenarnya diberikan kepada lima percabangan seni, yaitu seni sastra, musik, teater, tari dan seni rupa. Sebenarnya ada lagi seni film yang mulai berkembang, tapi seni film belum hidup di Riau. ‘’Dua tahun ke depan kalau ada geliat film di Riau anugerah ini bisa jadi pertimbangan,’’ kata dia lagi. Walaupun ada lima karya seni yang diberikan, namun tim panelis setelah berdiskusi hanya menetapkan tiga percabangan seni yang layak diberikan anugerah. Tiga percabangan seni itu meliputi karya seni sastra, seni musik dan seni rupa. Dua percabangan seni lainnya yaitu seni tari dan teater tidak mendapatkan anugerah. Tiga percabangan seni yang mendapatkan anugerah adalah seni sastra yang diberikan kepada Fachrunnas MA Jabbar, seni musik diberikan kepada Arman Rambah dan seni rupa kepada Masteven Romus. Tentang ketiga seniman ini, Yusmar melihat mereka unggul dibandingkan nomine-nomine yang lain. Karya-karya sastra Fakhrunnas banyak diterbitkan di berbagai media, baik di tingkat lokal maupun tingkat nasional. Karya-karyanya juga dinilai mengusung semangat kosmopolitan. Bahkan salah satu karyanya sempat difilmkan oleh salah seorang sutradara film nasional. Sedangkan sosok seniman musik Arman Rambah dinilai memiliki kemampuan lebih di bidang musikalitas. Dalam bermusik, pria ini tidak hanya sebagai player saja namun juga mampu menjadi arranger. Bahkan dia juga sudah mampu memberikan pendidikan musik melalui akademi tempatnya mengajar. Sementara itu figur Masteven Romus dipandang sebagai perupa yang selalu menampilkan karya-karya lokal yang sangat Melayu. Ketunakannya di bidang seni rupa juga membuat tim panelis menilainya memiliki kelebihan dibandingkan perupa yang lain. Bahkan, ketunakannya itu membuat Masteven rela meninggalkan kepengurusan DKR karena keresahan atas perkembangan dunia seni rupa. Tentang tidak masuknya dua cabang seni yang lain dalam anugerah ini, Yusmar berpandangan ketiadaan ini sebenarnya menjadi cemeti bagi seniman tari dan teater. Kalau memang dianggap tidak ada anugerah dalam suatu zaman maka anugerah untuk tari dan teater tidak bisa dipaksakan. Dia juga berpendapat bahwa tidak diberikannya anugerah kepada seniman tari dan teater juga menjadi pertanyaan besar kepada mereka. Karena Riau memiliki tapak sejarah yang kuat dalam teater. Ada tapak besar teater di Rengat dan Bengkalis. Tapi saat ini tidak ada lagi Idrus Tintin kelima atau kesepuluh yang dihasilkan oleh seni teater. Dalam diskusi yang dilakukan tim panelis, sebenarnya ada seniman tari dan teater yang layak mendapatkan anugerah. Tapi karena yang bersangkutan masuk dalam pengurus DKR maka anugerah itu ditiadakan. ‘’DKR tetap ingin menjaga fair, oleh karena itu DKR memandang pengurus DKR tidak perlu ikut dalam anugerah ini. Kalau ada pengurus DKR yang ingin mendapatkan anugerah itu maka dia harus keluar dari pengurus DKR. Dan DKR juga memandang bahwa kehadiran lembaga ini bertujuan untuk mengurus seniman,’’ ujar Yusmar. Dalam tim panelis sendiri juga ada anggota yang khusus mengurus seni tari dan teater dan mereka memiliki otoritas untuk memberikan pertimbangan untuk meniadakan tari dan teater untuk mendapatkan anugerah tersebut. Dengan pertimbangan ini, Yusmar berpandangan ke depan dua percabangan seni harus mendapatkan perhatian yang lebih besar agar bisa terus berkembang. Tentang kriteria penilaian untuk seniman, kriteria normatif yang ditetapkan meliputi bahwa anugerah seni DKR diberikan kepada seniman Riau yang memiliki KTP Riau, kelahiran Riau, dibesarkan di Riau atau berorangtuakan Riau. Sedangkan kriteria umumnya meliputi kemandirian karya, kontinuitas, originalitas karya, daya jangkau karya serta kekaryaannya. Tim panelis sendiri ditunjuk oleh DKR yang anggotanya terdiri dari budayawan, tokoh adat, tokoh pers, ilmuwan, pemerintah daerah dan dari DKR. Bukan Anugerah yang Dipaksakan Pernyataan serupa juga diungkapkan anggota panelis lainnya Iwan Irawan Permadi. Menurutnya, Anugerah Seniman Perdana (SP) dan Seniman Pemangku Negeri (SPN) bukanlah anugerah bagi-bagi kue. “Anugerah ini bukan anugerah yang dipaksakan. Kalau memang tidak ada yang pantas menerimanya, maka tidak akan diberikan. Jadi dua tahun ke depan belum tentu ada SP atau SPN. Tahun ini saja ada dua SPN yang tidak kita berikan. Karena kita tidak menemukan calon penerima SPN yang memenuhi tujuh kriteria yang ditetapkan sejak mula anugerah ini diberikan,” ungkap Iwan Irawan Permadi. Menurut mantan penerima Anugerah SPN yang pertama untuk cabang tari ini, ada tujuh kriteria yang disepakati untuk memilih SP dan SPN. Kriteria itu adalah ketunakan, kontiniutas, kreativitas, kemandirian, jangkauan karya, pengaruh karya dan originalitas. Jika kriteria itu tidak terpenuhi, maka anugerah itu tidak akan diberikan. Iwan menyebutkan, SP adalah anugerah utama dan posisinya lebih tinggi dari SPN. Perbedaan utamanya terlihat dari pengaruhnya. SP haruslah seniman yang jangkauan karyanya minimal menasional, sementara SPN bisa dalam lingkup Riau saja. Terpilihnya Rida K Liamsi sebagai SP, menurut pria yang tunak dalam dunia tari menari ini, bukan karena Rida seorang pimpinan Riau Pos. Tetapi murni karena ketunakannya dalam kesenian. ”Meskipun dia seorang businessman, namun dia tetap berkarya. Dia tetap membaca puisi di TIM (Taman Ismail Marzuki). Malah novel Bulang Cahaya menjadi pembicaraan di tingkat nasional,” ujar pria yang telah dua kali jadi tim penelis Anugerah DKR ini. Iwan juga menyebutkan, nilai plus Rida adalah karena dia seorang seniman yang kreatif dan pemikir. Itu terbukti dari gagasannya membuat Anugerah Sagang. Anugerah itu telah memberi laluan bagi para budayawan di Riau. Sementara itu, Fakhrunnas MA Jabbar, Arman Rambah, dan Masteven Romus yang terpilih mendapatkan Anugerah SPN juga memang telah menunjukkan kinerja berkesenian yang berkelanjutan. ”Fakhrunnas MA Jabbar, kita pilih karena melihat kesibukannya juga. Meski dia seorang pejabat di sebuah perusahaan swasta yang sibuk. Namun dia tetap berkarya dan aktif membaca puisi ke berbagai tempat. Bahkan karyanya ada yang diangkat jadi sinetron. Dia kita pilih setelah menyeleksi ketat dari sekitar 30-an usulan dan data base yang masuk,” ujar Iwan sembari menyebutkan SPN cabang inilah yang paling banyak kandidatnya. Tentang terpilihnya Arman Rambah sebagai SPN cabang musik, karena dia seorang pemusik yang juga seorang pendidik di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR). Dia seorang arranger musik di Bandar Serai dan melanjutkan pendidikan S2 di bidang musik. Masteven Romus terpilih meraih anugerah SPN cabang senirupa karena dia aktif melakukan pameran dan sering membuat cover-cover buku. Meskipun, kata Iwan, harus diakui seni rupa di Riau agak tertinggal dari kesenian lainnya. Seniman Tari Sudah Berbuat Banyak Tidak masuknya seniman tari dan teater dalam kelompok seniman penerima anugerah kali ini disayangkan oleh manajer sanggar tari Dang Merdu Ahmad Fadli Amin SE. Menurutnya selama ini koreografer di Riau sudah berbuat banyak untuk mengembangkan seni tari. Bahkan dalam setahun masing-masing sanggar tari bisa menghasilkan tiga sampai empat karya seni tari baru. Menurut Fadli, karya-karya yang dihasilkan koreografer Riau juga sudah mendapatkan pengakuan secara nasional maupun internasional. Hal ini terlihat dari seringnya karya seni tari dari Riau menjadi nominasi dari anugerah seni tingkat nasional dan di Riau sendiri. ‘’Koreografer di Riau banyak yang low profile, akibatnya karya-karya mereka jarang terpublikasikan. Padahal mereka terus menghasilkan karya-karya baru,’’ ujar Fadli yang juga Ketua Coenseil International Organizaton of Folklore Festival (CIOFF) Riau, sebuah organisasi pelaksana festival kebudayaan rakyat dunia yang bekerja sama dengan badan PBB Unesco.(fia) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



