Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

SPN Masteven Romus (Kategori Seni Lukis)
Minggu, 17 Pebruari 2008
”Perupa Harus Miliki Ciri Khas Melayu’’
PELUKIS eksperimen Masteven Romus, memang tidak pernah berfikir untuk mendapatkan anugerah dalam berkarya. Apalagi masuk dalam penerima anugerah seni yang digelar Dewan Kesenian Riau. Meski tim panelis menetapkan dirinya sebagai salah seorang penerima Anugerah Seni DKR 2008, Masteven tidak terkejut atau sontak gembira.

Tapi, pelukis orental ini memberikan pandangan terhadap para perupa Riau agar menyatukan persepsi tentang konsep kemelayuan dalam menuangkan hasil karyanya. Dia melihat perupa Riau hanya mengedapankan ciri khasnya masing-masing dan tidak berfikir menciptakan lukisan yang bernafaskan kemelayuan.

‘’Coba kita lihat perupa di Jawa, semuanya memiliki ciri khas Jawa, demikian juga perupa yang ada di Bali. Tapi kita belum ada dan berjalan masing-masing. Makanya dengan adanya anugerah seni ini dapat memicu kita untuk berkarya yang tidak melupakan jati diri Melayu,’’ ungkap pria yang tak mau mengantongi peralatan komunikasi berupa handphone, karena dianggap mengganggu aktivitasnya saat menungkap pikiran di atas kain kanvas.

Perupa yang karya-karyanya didominasi warna biru itu, juga tidak mengetahui apa kriteria panelis menunjuknya layak menerima anugerah seni. Apalagi, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Riau ini, hanya mementingkan proses untuk pencapaian karya-karya terbaiknya. Karya yang disukainya berjudul Laila Canggung, Duduk Sendiri, Panen serta Duduk Menjejak.

‘’Saya tidak pernah memikirkan berkarya untuk dapat anugerah. Kalau dapat pun, justru menjadi beban besar bagi saya untuk terus berkarya dan berkarya. Tidak hanya itu, saya mau menerima anugerah ini karena saya tidak kenal dekat dengan tim panelis,’’ ulas Masteven.

Masteven yang menggeluti dunia lukis melukis sejak masuk kuliah 1993 lalu. Baginya, seni adalah pergerakan moral dan untuk itulah perupa atau kreator harus jujur. Konsep pelukis satu ini adalah konsep panggung teater dan itu terlihat dari hampir seluruh karyanya. Dalam lukisannya, Masteven selalu memakai kotak-kotak yang dipakai untuk menghentikan cahaya.

Warna biru yang dipakai Masteven merupakan konsepnya tentang faktor budaya. Konsep itu merupakan unsur mistis dan spiritual. Konsep ini sudah dimulainya sejak beberapa tahun silam. Dia sendiri tidak tahu apakah konsep itu akan terus dilakoninya atau berkembang.

Hasil karyanya yang selalu menghiasi panggung dalam iven-iven kesenian yang digelar di Riau dan memiliki ciri khasnya dalam menuangkan pikiran, dapat dilihat secara gamblang tanpa harus berfikir sulit untuk membaca karyanya melalui goresan di atas kain kanvas. Dia berharap dengan adanya anugerah seni yang digelar oleh DKR dapat memicu teman-teman lain, agar dapat menghasilkan perupa yang memiliki ciri khas melayu. Bahkan dukungan pemerintah terhadap pelukis hendaklah menjadi hal utama. Apalagi melihat visi Riau 2020 yang ingin menjadikan Riau sebagai pusat budaya Melayu.

Makanya, dia mengharapkan agar perupa Riau diberikan tempat yang layak, sehingga hasil karyanya diketahu banyak orang. Karena saat ini karya seni anak negeri ini tidak ada yang mengetahu dimana letaknya. Makanya dengan pasar seni yang memamerkan hasil perupa akan menjawab keingintahun masyarakat terhadap perupa di Riau.(ksm/mng)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org