Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

SPN Fakhrunnas MA Jabbar (Kategori Sastra)
Minggu, 17 Pebruari 2008
”Kalau Berhenti Mendayung, Pasti Tumbang”
Terlahir sebagai anak seorang ulama, orator ulung, penulis dan pimpinan partai yang  gemar membaca, membuat Fakhrunnas MA Jabbar tumbuh seperti sosok ayahnya. Sang ayah -yang namanya terpatri sebagai nama belakang Fakhrunnas yaitu Mansur Abdul Jabbar (MA Jabbar)-  telah mengelilingi Fakhrunnas kecil dengan buku-buku. Hingga tak heran saat kelas lima SD, dia mampu menamatkan buku Godaan Syaithan setebal 300 halaman. Hebatnya, buku itu dibacanya hanya dalam waktu satu hari satu malam saat naik kapal ke Bengkalis.

Sastrawan kelahiran Kampar, 18 Januari 1959 ini telah menjadi penulis ketika di bangku SD. Sejak SMP, tulisannya telah mewarnai berbagai media terbitan Jakarta. Mulai dari majalah anak-anak seperti Panji Anak, Derap, dan Media Muda hingga majalah remaja seperti Anita Cemerlang dan Gadis. Karya sastranya juga dimuat di berbagai koran seperti Haluan, Singgalang, dan Waspada. Sebuah novel pun pernah dilahirkannya kala duduk di bangku SMA. Meskipun novel tersebut hanyalah novel yang diketik dan dijilitnya sendiri. Tetapi, novel berjudul Cinta Pembawa Korban itu cukup bisa menjadi bacaan hiburan teman-teman sekelasnya.

Kegilaan Fakhrunnas untuk menulis juga berlanjut ketika dia berstatus mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Riau (Unri). Demi menulis, Fakhrunnas memilih minta dibelikan mesin tik daripada sepeda motor. Walaupun untuk itu, orang-orang di sekitarnya tidak bisa tidur nyenyak gara-gara bunyi mesin tik itu.

Sejak itulah berbagai karyanya mengalir terus tiada henti hingga kini menjabat Deputi Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (Riaupulp). Berbagai karya yang dimuat di sejumlah media lokal dan nasional seperti Horison, Kompas, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Riau Pos, Kartini, Nova, Citra, Suara Pembaruan itu telah menunjukkan eksistensinya. Sejumlah buku yang dirampungkannya juga menuai berbagai penghargaan, termasuk Anugerah Sagang. Bahkan cerpennya berjudul ”Rumah Besar Tanpa Jendela” yang terbit di Horison juga pernah diangkat ke sinetron oleh Chaerul Umam dan ditayangkan di LaTivi.

Tak hanya pandai menulis karya-karya sastra, pria ini juga sangat piawai membaca puisi. Dia telah membaca puisi ke berbagai kota di dalam dan luar negeri. Bahkan dia turut tampil dalam acara Parade Puisi Kebangsaan bersama 20 tokoh nasional yang di dalamnya termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Melihat jejak langkahnya, kepiawaiannya menulis, dan ketunakannya, tidak salah bila Panelis Anugerah Dewan Kesenian Riau (DKR) menganugerahkannya Seniman Pemangku Negeri (SPN) dari sekitar 30 sastrawan Riau yang diusulkan. Diapun menyambut gembira anugerah itu. Anugerah SPN itu baginya pendorong untuk makin tunak berkarya. Sekaligus makin memperkokoh tekatnya untuk berkreativitas.

”Kreativitas menulis itu seperti orang naik sepeda. Kalau berhenti mendayung, pasti tumbang. Kalau sudah tumbang, susah untuk bangkit lagi. Saya ingin bangkit terus berkreativitas. Dunia ini memang hanya tersedia bagi orang-orang yang kreatif. Hanya orang kreatif pula yang bisa menguasai dunia,” ungkapnya penuh makna sembari menitip pesan agar yang muda-muda menulis, menulis, dan terus menulis.

Ke depan, Fakhrunnas punya mimpi besar untuk menyelesaikan buku tentang budaya Melayu yang kini tengah digarapnya. Obsesinya, buku itu bisa menjadi buku rujukan bagi setiap orang yang ingin memahami budaya Melayu Riau. Buku itu akan dikembangkannya menjadi modul yang bisa diajarkan ke sekolah-sekolah dan lembaga training. Agar nilai-nilai budaya Melayu itu bisa diwariskan, diajarkan dan dipelihara terus menerus. Mimpi Visi Riau 2020 pun jadi tidak sekadar ‘kata-kata’.

Meskipun, di penghujung ceritanya tentang obsesinya, dia harus mengakui tak mudah mewujudkan mimpinya, karena keterbatasan waktu yang dimilikinya.(a)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org