Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

SPN Armansyah Anwar (Kategori Seni Musik)
Minggu, 17 Pebruari 2008
10 tahun Jadi Pemusik Jalanan
Keuletan Armansyah Anwar, akrab dipanggil Arman Rambah, menekuni musik tradisional, khususnya Melayu, sejak usia remaja telah mengantarkannya terpilih sebagai penerima Anugerah Seniman Pemangku Negeri Dewan Kesenian Riau 2007.

Laki-laki bersahaja kelahiran Pasirpengaraian 5 April 1971 ini mengaku enjoy bermain musik. Karena musik adalah bagian dari hidupnya sehari-hari. Musik yang ditekuninya sejak usia remaja sempat membawanya ke arah yang lebih baik, namanya juga sudah dikenal di kalangan musik nasional.

Bahkan karya-karya musiknya yang kental dengan irama musik Melayu seperti Berkayuh, Tupogeh dan Puan sudah dipentaskan di tingkat nasional. Di antara karya yang pernah dipentaskan seperti Komposisi Musik Berkayuh yang mengangkat fenomena masyarakat Rokan Hulu (Rohul). Karya yang pernah dipentaskan di Jogjakarta ini mendapat sambutan yang sangat antusias dari masyarakat Jawa. Sambutan hangat itu, menurut mahasiswa pascasarjana Jurusan Penciptaan Musik Institut Seni Indonesia Jogjakarta ini, tidak lain karena kekhasan musik Melayu. ‘’Sewaktu kita menggelar konser musik Berkayuh di Jogjakarta, bagi orang Jawa teknis musik yang mereka tekuni, khususnya yang bernafaskan barat, biasa-biasa saja. Cuma ide Melayunya saja yang membuat mereka tertarik dan merasa unik. Karena seniman Jawa jarang mendengar frase-frase melodi Melayu. Kebetulan melodinya semua Melayu,’’ tutur dosen Seni Universitas Islam Riau.

Demikian juga dengan karya Tupogeh yang dalam bahasa Indonesia artinya terkejut, juga mengangkat fenomena masyarakat Rohul. Sedangkan karyanya yang lain yakni Puan, yang mengangkat cerita suku pedalaman di daerah Pelalawan juga sudah di-lauching di Yayasan Tennas Effendy Foundation beberapa waktu lalu.

Dalam menekui musik, ada satu hal yang tak pernah dilupakan Arman Rambah. Usai menamatkan SD, SMP dan SMA di Pasirpengaraian dia sempat gagal untuk kuliah saat hijrah ke Pekanbaru untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. ‘’Ya, ada kenangan yang tak pernah bisa saya lupakan. Ketika ingin masuk perguruan tinggi terlambat diterima. Bahkan waktu itu untuk kuliah di perguruan tinggi swasta orang tua tidak mau, makanya saya jadi penyanyi jalanan,’’ ungkapnya sambil menyeka kacamata mengenang masa-masa pahit.

Karena tidak bisa kuliah, maka waktu 10 tahun dicurahkan untuk bermain musik dari kafe ke kafe, hotel ke hotel, sampai akhirnya tahun 1998 terkumpulah dana untuk melanjutkan pendidikan di UIR. Di sanalah dia mencurahkan waktu untuk menimba ilmu dan mendalami ilmu musik kontenporer.  Uniknya, meski menekuni teknik musik barat namun dalam karyanya dituangkan dalam musik Melayu. Inilah kebanggaan yang dirasakan Arman karena bisa mengembangkan musik Melayu. Apalagi Melayu sudah dikenal luas, sehingga tekadnya untuk mengangkat musik-musik Melayu menjadi semakin bulat.

Apalagi saat ini, menurut ayah dua putri Nahda (7) dan Zikra (2,5), perkembangan musik Riau sudah cukup baik dan sudah dikenal banyak orang. Bahkan perkembangannya sangat signifikan, apalagi didukung oleh pemerintah daerah melalui anggaran dana yang cukup besar bila dibandingkan daerah lain. ‘’Musik Riau sudah cukup komplet, dan perkembangannya juga cukup menggembirakan. Hanya saja ada beberapa iven musik yang gaungnya kurang besar bila dibandingkan daerah lain, seperti Sumatra Barat,’’ ungkapnya.

Artinya, lanjutnya, dana yang besar yang disediakan pemerintah daerah tidak tepat sasaran, sehingga dana yang begitu besar yang diperuntukan untuk kegiatan budaya tidak berimbang dan gaungnya kurang bergemuruh. ‘’Seharusnya dengan subsidi yang besar kita harus membuat kegiatan yang lebih besar lagi,’’ saran suami Idawati ini. Namun ketika ditanya tentang anugerah Dewan Kesenian Riau (DKR) yang diterimanya ini, putra pasangan Anwar dan Rosna ini tetap merendah dan mengku dirinya belum layak menerima anugerah. Tapi dia menilai anugerah ini sebagai rahmat dan nikmat dari Allah, apalagi saat ini pendidikannya di pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta memerlukan biaya besar.(ksm)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org